DMINEWS, YOGYAKARTA — Sebanyak 40 Kesultanan se-Nusantara dijadwalkan akan hadir dalam acara pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI pada Senin (9/2), di Keraton Yogyakarta, pukul 10.00 s/d 12.00 WIB.

Seperti dilansir laman http://krjogja.com, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) KUII VI, Dr. H. Anwar Abbas, menyatakan sekitar 40 Kesultanan se-Nusantara akan hadir dalam acara pembukaan KUII di Keraton Yogyakarta.

“Hingga Sabtu (7/2) kemarin, KUII-VI rencananya akan dihadiri oleh 40 kasultanan yang merepresentasikan berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, 15 peserta dari negara-negara di ASEAN dan Arab Saudi menyatakan akan hadir,” tutur Anwar di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta.

Menurutnya, Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah KUII-VI karena predikatnya sebagai daerah istimewa, dan peran sejarahnya bagi ummat Islam dan indonesia.

“Yogyakarta merupakan kota yang dipilih sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan KUII pertama pada 7 s/d 8 November tahun 1945 silam,” paparnya.

Dengan terpilihnya Yogyakarta sebagai tuan rumah KUII VI, lanjut Anwar, panitia berharap para peserta bisa melakukan napak tilas sekaligus mencontoh semangat persatuan dan kesatuan dari KUII pertama, 7 s/d 8 November 1945 silam.

Semangat persatuan dan kesatuan itu perlu terus dilestarikan, jelasnya, mengingat persoalan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini semakin kompleks.

Rangkaian kegiatan KUII VI akan digelar dari Ahad (8/2) hingga Rabui (11/2) di Yogyakarta. Bahkan, acara ini mendapat sambutan antusias dari sejumlah kalangan.

Hal itu dibuktikan dengan antusiasme perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari berbagai daerah, pimpinan pondok pesantren dan Perguruan Tinggi Islam dan sejumlah tokoh politik untuk terlibat secara langsung.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, antusiasme peserta KUII VI tampak dari hadinya sekitar 700 peserta yang berasal dari berbagai kalangan serta undangan tokoh dari Provinsi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

“Para undangan terdiri dari perwakilan MUI dari berbagai daerah di Indonesia, pimpinan pondok pesantren sampai utusan dari berbagai negara. Termasuk 300 undangan dari MUI Kabupaten-Kota se-DI Yogyakarta, MUI kecamatan se-DIY, Takmir Masjid tiap kecamatan, serta para pimpinan perguruan tinggi Islam di DIY,” jelasnya.

“Mudah-mudahan, KUII ini bisa menghasilkan suatu keputusan atau rekomendasi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Jadi, bisa membantu dalam mengatasi persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia,” harapnya.

“Timbulnya berbagai persoalan yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia harus dijadikan pelajaran berharga oleh semua pihak,” paparnya.

Sebagai kaum mayoritas, paparnya, Umat Islam harus bisa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa.

Salah satu caranya pungkas Anwar, ialah dengan menyamakan persepsi untuk mengantarkan Indonesia meraih kejayaan dalam arti sebenarnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani