Oleh: Ahsin Sakho Muhammad

بسم الله الرحمن الرحيم

Yang Terhormat  Bapak Presiden Republik Indonesia  beserta Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo;

Yang kami hormati Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Mufidah Yusuf Kalla;

Yang  kami hormati  Pimpinan dan Anggota Lembaga Negara;

Yang  Mulia Para Duta Besar dan Perwakilan Negara- negara sahabat;

Yang  kami hormati Para Menteri Kabinet Kerja;

Yang kami hormati Para Alim Ulama, hadirin dan hadirat yang berbahagia

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الّذِى نزل القرآن على عبده ليكون للعالمين نذيرا وجعله هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان و جعله نورا وموعظةً وشفاءً ورحمةً للمؤمنين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.

Kenikmatan yang Allah karuniakan kepada manusia sangatlah banyak, tidak bisa dihitung.  Namun ada dua kenikmatan besar yang patut untuk selalu kita renungkan dan kita syukuri bersama. Pertama: bumi yang kita huni dengan segala kekayaan yang ada di dalamnya. Kedua: kitab suci Al-Qur’an yang merupakan Kalamullah, yang berisi pesan pesan Allah kepada umat manusia. Dengan Al-Qur’an kita bisa mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Dengan Al-Qur’an kita bisa mengetahui jalan kehidupan yang benar.

Bapak Presiden dan hadirin  yang saya hormati

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw dalam situasi masyarakat arab yang berada pada titik terendah dalam kehidupan mereka. Kehidupan yang  semakin kehilangan orientasi. Sementara itu di luar tanah Arab, Bangsa Romawi dan Parsi terus berperang untuk berebut pengaruh di kawasan itu. Kemenangan dan kekalahan silih berganti diantara kedua negara adidaya pada saat itu.

Pada saat itulah yaitu pada salah satu malam di bulan Ramadlan sekitar tahun 611M, melalui Malaikat Jibril, Allah menurunkan kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad yang sedang ber “tahannuts” atau merenung untuk beribadah di Gua Hira diatas jabal Nur di Mekah. Lima ayat pertama telah  menggugah kesadaran umat manusia. Inilah awal dari revolusi kemanusiaan dalam semua sisi kehidupan baik dari segi spiritual, etika, ilmu pengetahuan, hukum dan lain sebaginya. Kelima ayat tersebut adalah :

{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)} [العلق: 1 – 5]

Artinya : 1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.( QS.Al’Alaq:5 :1-5)

Ada hal menarik perhatian kita dari lima ayat tersebut :

Pertama : ada 5 kalimat yang terulang dua kali, dan ada 5 kalimat yang tidak terulang. 5 kalimat yang terulang yaitu: kata:1.Iqra’(bacalah).2.Rabb(Tuhan Yang mendidik).3.Khalaqa(menciptakan).4.’Allama (yang mengajarkan). 5.al-Insan (manusia).  Sementara 5 kata yang tidak terulang yaitu : 1.ismi (nama). 2.’Alaq (segumpal darah, zighat).3.al-Akram (yang Maha Mulia).4. bil qalam (dengan pena).5.lam ya’lam (yang tidak diketahuinya).

Dari 10 kata, baik yang terulang maupun yang tidak terulang,  yang ada pada 5 ayat pertama dari surah ini, menyiratkan urgensi  ilmu pegetahuan dalam kehidupan umat manusia.

Kedua : Penggalan ayat pertama adalah berisi dua hal yang menyentak kesadaran masyarakat arab, yaitu bentuk  perintah untuk membaca. Hal ini mengisyaratkan tentang segala sesuatu yang terkait dengan kegiatan intelektual manusia. Manusia selaku “Khalifah” di bumi, yang mendapatkan mandat untuk memakmurkan bumi, diperintahkan untuk membaca apa yang bisa dibaca, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, kemudian merenungi apa yang dibaca, memerhatikan dan mengaplikasikan apa yang telah dia dapatkan dalam kehidupan nyata. Kata “bismi rabbik”memberikan landasan spiritual yang harus diletakkan dalam kerangka kegiatan intelektual tersebut, baik sebelum, selagi dan setelah melakukan kegiatan ilmiah.

Inilah agenda utama yang harus diperhatikan oleh Nabi Muhammad saw selaku utusan Allah swt. Bagaimana Nabi saw mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) dengan membangunkan umatnya yaitu bangsa arab yang dijuluki sebagai “ummiyyin” yang tertidur sekian lama, agar bangkit melalui kegiatan intelektual yang selama ini kurang mendapat perhatian  oleh masyarakat arab ketika itu. Ciri bangsa yang maju adalah jika bangsa itu cinta kepada ilmu pengetahuan. Pengetahuan akan membawa kemajuan bangsa. Kemajuan bangsa akan menciptakan peradaban. Peradaban manusia yang tidak berlandaskan pada nilai nilai spiritual, hanya akan berakhir dengan kehampaan, tak bermakna.

Peradaban manusia dimasa yang akan datang haruslah peradaban yang ditopang oleh nilai nilai spiritualitas. Substansi dari “Iqra’ bismirabbik” nya adalah perpaduan antara Intelektualitas dan spiritualitas.

Ketiga : digunakannya ungkapan “tarbiyah” dan “ta’lim” mengisyaratkan bahwa dalam pengajaran yang mengedepankan kecerdasan intelektual, haruslah disertai dengan semangat untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Mendidik peserta didik, dilakukan sedikit demi sedikit, dengan penuh rasa kasih sayang, agar bangkit menuju kepada perbaikan secara  terus menerus.

Bapak Presiden dan hadirin  yang saya hormati

Al-Qur’an telah memberikan predikat yang sangat prestisius kepada kaum muslimin yaitu “Khaira Ummatin ukhrijat linnas” yaitu generasi terbaik yang pernah ada di dunia. Beberapa dekade setelah Al-Qur’an diturunkan, kaum muslimin betul betul menjadi bangsa yang rakus akan ilmu pengetahuan, sehingga menjadi bangsa yang maju dan  berperadaban. Mereka mampu menyerap dan mengembangkan peradaban yang ada sebelumnya yang lebih menekankan pada aspek materialistik. Kaum muslimin menjadi bangsa yang sangat disegani.

Yang menarik lagi adalah bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan pada bangsa yang sudah maju, tapi pada bangsa yang masih terbelakang yaitu bangsa Arab di negeri Mekah yang tandus dan gersang. Kebanyakan mereka adalah masih buta huruf. Kemajuan kaum muslimin dalam semua bidang kehidupan, setelah Al-Qur’an turun, menunjukkan bahwa Al-Qur’an, yang dikawal dengan sangat baik oleh baginda Rasulullah, mampu membangkitkan manusia dari titik yang paling rendah pada kehidupan mereka, menuju ke kehidupan yang lebih maju.

Al-Qur’an dalam Berbangsa dan Bernegara :

Al-Qur’an adalah “kitab kehidupan” untuk seluruh manusia (hudan linnas). Tidak ada satu sisipun dalam kehidupan manusia, kecuali Al-Qur’an memberikan hidayahnya, baik secara tersurat maupun tersirat, termasuk didalamnya tentang bagaimana berbangsa dan bernegara.

Manusia adalah makhluk sosiologis, (ijtima’i), dimana kehidupannya sangat tergantung kepada lainnya. Manusia disebut juga sebagai “al-Insan” karena dia merasa damai (uns) jika berjumpa dengan manusia lain. Dalam Al-Qur’an, banyak kosa kata yang mengarah kepada sekumpulan orang yaitu: Tha’ifah”(kelompok kecil ), “Firqah”(kelompok besar), kaum (kelompok manusia), Ummat (sekumpulan orang yang mempunyai cita cita dan tujuan yang sama ), Qaba’il  (kabilah, klan atau puak), dan “Syu’ub”(bangsa).

Diantara kaum dan bentuk pemerintahan yang digambarkan dalam al-Qur’an kepada umat terdahulu adalah kaum Nabi Nuh, Hud, Saleh, Musa, Syu’aib, Ibrahim, Lut, Isa dan dinasti bangsa Mesir asli dengan rajanya yang berjuluk Fir’aun. Penguasa pada masa Nabi Ibrahim, Raja Thalut, Nabi Dawud, dan Nabi Sulaiman,  Ratu Balqis di negeri Saba’, Raja“Dzulqarnain”.

Al-Qur’an tidak memberikan catatan atau kritikan apapun terhadap bentuk pemerintahan masa lalu sebaliknya Al-Qur’an lebih banyak mengecam perilaku dari penguasa lalim dan bangsa yang pendosa, seperti Fir’aun di Mesir pada masa Nabi Musa sebagai penguasa yang sombong, angkuh, diktator, represif, memecah belah kesatuan bangsa, membunuhi bayi bayi lelaki bangsa Israel, dan lebih tragis lagi yaitu pengakuannya sebagai “tuhan” (al-Qasas:4, 38,an-Nazi’at: 24).

Perilaku “Qarun” yang memamerkan  kekayaannya ditengah kemiskinan rakyat (al-Qasas: 79-83) Juga Raja Dzu Nuwas al-Himyari dari negeri Yaman yang telah melakukan genosida dengan cara yang keji yaitu melemparkan para pemeluk agama kedalam parit yang penuh dengan bara api (al-Buruj:4-11).

Disamping itu Al-Qur’an juga memuji perilaku Raja yang bertindak adil terhadap rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Thalut (al-Baqarah:247), Raja dan Nabi yaitu Dawud, dan  Sulaiman (al-Anbiya’:78-79, Shad: 24-26). “Ratu Balqis” sebagai penguasa yang sangat dihormati oleh rakyatnya. (an-Naml: 29-34). Al-Qur’an juga menyebutkan “Dzulqarnain” yang memerintah dengan penuh keadilan, bisa menolong umat yang tertindas oleh kebringasan kaum Ya’juj wa Ma’juj dengan  membikin bendungan dari besi yang sangat kokoh  (al-Kahf: 83-98).

Hal ini menunjukkan bahwa bentuk pemerintahan adalah berdasarkan kesepakatan bersama antar anggota masyarakat, atau berdasarkan musyawarah, atau apa yang berlaku pada setiap masa secara turun temurun. Dan ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an: ( وأمرهم شورى بينهم ) ( الشورى:38): Artinya: urusan mereka dimusyawarahkan diantara mereka.

Dinamika satu bangsa dan masyarakat dapat berubah dari satu masa ke masa lainnya. Bentuk pemerintahan adalah bukan sesuatu yang bersifat “by Design” atau “Given”dari Allah. Allah memberikan keleluasaan kepada masyarakat dalam hal ini. jauh lebih penting dari diskursus tentang bentuk Negara dan pemerintahan adalah bagaimana mengelola Negara dan masyarakat dengan baik, yaitu dengan memerhatikan nasib masyarakat dengan sebaik baiknya, sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Bapak Presiden dan hadirin  yang saya hormati

Al-Qur’an dan Penataan Masyarakat

Pluralitas atau kebinekaan adalah satu keniscayaan dalam kehidupan. Oleh karena itu Al-Qur’an mengakui adanya pluralitas atau kebinekaan pada umat manusia dan makhluk lainnya, baik dari segi warna kulit, bahasa, agama, adat istiadat dan lainnya. Pluralitas adalah bentuk kebesaran Allah Sang Pencipta. Hidup menjadi penuh warna. Pluralitas dalam kehidupan bukanlah hal yang menyebabkan permusuhan diantara mereka. Yang menjadi persoalan adalah bukan isu pluralitas, karena persoalan pluralitas sudah dituntaskan oleh Al-Qur’an. Yang harus di cermati adalah bagaimana menjaga pluralitas ini sehingga menjadi kekuatan yang riil dalam menata kehidupan masyarakat.

Kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga dengan negeri ini bahkan duniapun mengakui kehebatan Indonesia dengan jumlah  penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan terdiri dari beragaman suku, ras,  adat, budaya, dan agama namun mampu  menjaga kebhinekaan ini dalam bingkai NKRI yang kita cintai ini.

Al-Qur’an mengumandangkan secara jelas tentang pluralitas dalam firman Allah :

{وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (22)} [الروم: 22]

Artinya:  di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS.Ar-Rum:30 : 22)

Pluralitas dari segi kebangsaan dikumandangkan oleh Al-Qur’an melalui firman Allah:

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)} [الحجرات: 13]

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al-Hujarat:49: 13)

Ayat di atas menyiratkan akan pengakuan adanya pluralitas kebangsaan dan kesukuan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal (ta’aruf) dari segi karakter, adat istiadat, dan lain sebagainya. Jika sudah Ta’aruf, maka mereka  perlu saling memahami (tafahum) apa yang ada pada masing masing. Jika sudah Tafahum, maka langkah berikutnya adalah perlunya saling kerjasama dan saling tolong menolong (ta’awun) dalam semua bidang kehidupan demi untuk kemaslahatan bersama.

Salah satu hal yang perlu dikerjasamakan antara manusia adalah bagaimana melestarikan bumi yang telah diamanahkan oleh Allah kepada manusia selaku “Khalifah” di bumi, agar mereka bisa menjaga ekosistem yang ada di dalamnya, menjaga kelestariannya, memakmurkannya dan menjadikan hidup lebih sejahtera untuk anak cucu kita bersama. Demikian juga bagaimana manusia bisa menciptakan perdamaian di bumi, bukan saling perang dan menjaga nilai ketuhanan dalam berbangsa dan bernegara.

Bapak Presiden dan hadirin  yang saya hormati

Ukhuwah (Persaudaraan):

Al-Qur’an menggugah kesadaran kita bersama akan adanya persaudaraan antar sesama manusia. Persaudaraan itu berupa:

Ukhuwwah Insaniyyah: yaitu persaudaraan karena sesama manusia, berdasarkan kemanusiaan, sebagaimana yang terdapat dalam surah “al-Hujurat: . 13)

Ukhuwwah Wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan se tanah air). Dalam surah asy-Syu’ara’ disebutkan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Syu’aib adalah saudara bagi kaum mereka. (Lih. Surah asy-Syu’ara’: 105, 124, 142, al-A’raf: 85). Kemudian dalam “Piagam Madinah” yang dideklarasikan oleh Nabi Muhammad tercantum dictum yang berbau “nasionalis” yaitu: وأن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين، لليهود دينهم، وللمسلمين دينهم  artinya : sesungguhnya kelompok Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat dengan kaum mukminin. Bagi mereka agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka sendiri.

Ukhuwwah Diniyyah (persaudaraan sebagai sesama pemeluk agama) sebagaimana yang isyarahkan pada ayat : {قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ} [آل عمران: 64] artinya : Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu.  Akan halnya dengan kaum musyrik, Allah berfirman : {لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)} [الكافرون: 6] artinya : bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan sesama kaum muslim) sebagaimana firman Allah : {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَة} [الحجرات: 10] bahwa kaum mukminin adalah saudara.

Semua bentuk ukhuwwah ini adalah bisa menjadi kekuatan bagi kelompok masyarakat. Namun jika ukhuwwah ini tidak di jaga, justeru akan menjadi pemantik bagi terjadinya benturan benturan yang tidak kita inginkan bersama. Seringkali kita melihat saling mencurigai antara satu kelompok dengan lainnya.

Tingkat kecurigaan ini bisa naik ke tingkat saling menyalahkan, menghujat dan mencaci, merasa paling benar sendiri, dan bahkan sampai adu fisik. Inilah yang harus kita hindarkan bersama. Benturan yang kecil jangan dibiarkan membesar. Yang akan menanggung akibat dari semuanya adalah bangsa kita sendiri. Sementara didepan kita banyak sekali tantangan yang harus kita hadapi yaitu agenda pembangunan yang menuntut kita bersatu, bekerja dan bekarja, demi cita cita luhur kita.

Bapak Presiden dan hadirin  yang saya hormati

Kita berharap dengan nilai nilai Al-Qur’an yang universal ini kita bisa membangun negeri ini sehingga menjadi negeri yang sentosa serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Kemudian dalam rangka “Nuzul Qur’an “ ini kita apresiasi rencana besar Bapak Menteri Agama Republik Indonesia, yang ingin menciptakan ribuan doktor, dan ribuan penghapal Al-Qur’an, agar nilai nilai Al-Qur’an bisa tersemai di hati mereka, sebagai persiapan untuk menyongsong peradaban manusia di abad abad mendatang. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Penulis: Guru Besar Ilmu Tafsir, UIN Jakarta. Makalah disampaikan dalam peringatan nuzulul Quran, di Istana Negara, Jumat (3/7).