Perbuatan baik harus dilandasi keikhlasan, karena tanpa keikhlasan perbuatan itu akan sia-sia belaka. Allah SWT hanya akan melihat perbuatan hamba-Nya yang ikhlas, yaitu yang berbuat baik semata-mata untuk mendapat ridha-Nya.

Yang tahu kedalaman keikhlasan seseorang adalah dirinya sendiri dan Allah SWT, karena Dia Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. Justru, orang yang menampak-nampakkan secara demonstratif keikhlasannya di muka umum, yang perlu dipertanyakan.

Apalagi dengan berulang kali mengucapkan kepada orang lain, ”Aku ikhlas kok”, itu indikasi bahwa sebetulnya dia sedang terganggu keikhlasannya. Ketika orang berbuat baik dan masih butuh pengakuan orang lain, keikhlasannya masih diragukan. Ikhlasnya karena ada motif.

Menampakkan perbuatan baik sebetulnya tidak dilarang, asal tujuannya untuk memotivasi dan supaya dicontoh orang lain. Jadi, meskipun menampakkan, hatinya tetap ikhlas. Hanya saja, menampakkan itu berpotensi mengganggu keikhlasan, maka hati dan mentalnya harus kuat betul.

Maka dari itu, Alquran menegaskan bahwa menyembunyikan tetap lebih baik. ”Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, menyembunyikan itu lebih baik bagimu. (QS Albaqarah [2]: 271).

Ikhlas itu lillahi ta’ala! Do it and forget it, kerjakan dan lupakan. Dalam hal berderma, ikhlas adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.

Setelah itu kita lupakan bahwa kita pernah memberikan sesuatu kepadanya. Jangan pernah berpikir atau punya perasaan bahwa Allah SWT atau malaikat akan lupa tidak mencatatnya. Keliru besar.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS Albaqarah [2]: 264).

Menurut hadis Rasul SAW, ”Orang yang memamerkan perbuatan baiknya, maka pada hari kiamat Allah akan memamerkan kepada makhluk-Nya dengan mengejek dan mengecilkannya.” (HR Ahmad).

Rasanya, negeri ini masih butuh orang-orang yang ikhlas. Jangan sampai terjadi orang memberikan bantuan untuk pamrih politik jangka pendek. Apalagi saling klaim jasa dan kebaikan yang pernah diperbuatnya untuk rakyat.

Berikanlah kepada rakyat yang terbaik, tanpa pamrih. Itulah ikhlas yang sesungguhnya. Rakyat butuh ketulusan, yaitu ketulusan para elite membantu meringankan kesulitan rakyat tanpa dikait-kaitkan dengan politik dan kekuasaan.

Penulis: KH Anang Rikza Masyhadi, Lc

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah