Bagi umat Islam, dakwah adalah nafas kehidupan. Setiap langkah, sudah semestinya diniatkan sebagai upaya atau proses dakwah. Istilah “dakwah” sendiri diungkapkan di dalam Al-Quran kurang lebih sebanyak 198 kali, tersebar dalam 55 surah. Secara bahasa, dakwah sendiri bermakna seruan, tentu seruan kepada kebaikan.


Namun secara terminologi, ulama berbeda menafsirkannya. Ada yang memberikan makna secara luas seperti Hasan al-Banna, meliputi segenap aktifitas kehidupan, namun ada yang memberikan pengertian bahwa dakwah merupakan transformasi sosial, seperti kalangan intelektual masa kini, pun ada juga yang menafsirkan dakwah secara normatif, yakni mengajak manusia ke jalan kebaikan dan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Meski berbeda, inti pesannya sama, yakni aktifitas mengajak kepada perubahan lebih baik melalui jalan Islam.

Al-Quran Dalam memberikan gambaran jelas bagaimana aktifitas mengajak kepada jalan yang benar (Islam): “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Q.S. Fushilat : 33 )
Ayat di atas menegaskan dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menjalankan aktivitas dakwah, yakni dakwah bil-qaul ( bil-lisan) dan dakwah bil-amal (bil-hal). Dakwah bil-lisan, yaitu penyampaian informasi atas pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek dakwah).

Dakwah bil-lisan bisa efektif bila berkaitan dengan acara-acara ritual seperti khutbah jumat, khutbah Hari Raya. Efektif karena ia merupakan
bagian dari “ibadah”, selagi isi dan sistematikanya menarik serta rentang waktunya ideal. Selain itu juga materinya tuntunan praktis, disampaikan kepada jamaah terbatas, juga disampaikan dengan sistem dialog dan bukan monologis, sehingga audience dapat memahami materi dakwah secara tuntas, setidak-tidaknya metode ceramah masih dapat dikatakan efektif manakala diiringi dengan tanya jawab dua arah. Di luar itu, dakwah bil lisan bisa tidak efektif.

Selain bil lisan, juga dakwah bil-hal, yakni dakwah dengan perbuatan nyata seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Terbukti bahwa pertama kali tiba di Madinah yang dilakukan adalah pembangunan masjid Quba, mempersatukan kaum Anshor dan Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah, dan seterusnya. Dakwah bil-hal sangat efektif karena langsung memberikan contoh konkret, teladan.

Dalam konteks modern dewasa ini, tantangan dakwah sangat beragam dan pelik. Kemajuan modernitas tak pelak menjadi hambatan tersendiri. Masyarakat modern yang sebagian besar warganya  mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah kepada kehidupan dalam peradaban masa kini, pada umumnya tinggal di perkotaan, sehingga disebut masyarakat kota, meski tidak semua masyarakat kota dapat disebut masyarakat  modern karena belum tentu juga memiliki orientasi ke masa kini.

Sementara itu, modernitas sendiri dicirikan oleh tiga hal yaitu: subjektivitas, kritis, dan kemajuan. Konsep subjektivitas dimaksudkan bahwa manusia harus menyadari dirinya subjectum, yaitu  sebagai pusat realitas. Dengan paham  inilah maka abad modern ditandai oleh menyeruaknya paham-paham antroposentrisme. Nilai-nilai yang sifatnya antroposentris ini tidak lain adalah antitesis dari nilai-nilai lama yang sifatnya teosentris.

Dalam ranah sosial, salah satu implikasi nyata adalah kuatnya unsur subjektivitas dalam kehidupan modern, yakni munculnya individualisme.
Individualimse pada akhirnya menjadi ciri khusus dari kehidupan modern. Secara filosofis, pakar postmodernisme, David Griffin mengatakan, individualimse sebenarnya suatu penolakan bahwa diri pribadi manusia secara internal berhubungan hal-hal lain, bahwa setiap
individu manusia sangat ditentukan oleh hubungannya  dengan orang lain, dengan lembaga, alam, dan dengan masa lalunya atau mungkin dengan Pencipta. Dus, individualism jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Berbagai kritik tersebut juga masih dalam pengertian subjektivitas tersebut, sejauh dihadapkan pada otoritas. Dimensi rasionalitas dalam 
kerangka kritis ini secara konkrit terefleksi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Modernitas berasumsi bahwa knowledge is power. Dengan semangat kritis ini modernitas mempunyai ambisi untuk mendekonstruksi paham-paham tradisional yang dianggapnya menyesatkan, penuh dengan
takhayul, mitos, kejumudan, dan keterbelakangan. Misi utama modernisme adalah mendobrak teradisi lama yang penuh mitologi dan takhayul tersebut untuk digantikan dengan tradisi baru yang berbasis rasionalitas dan ilmu penegetaahuan ilmiah. 

Selain itu, masyarakat modern juga memiliki ciri-ciri berikut: Hubungan antarmanusia terutama didasarkan atas kepentingan pribadi; hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dengan suasana yang saling mempengaruhi; kepercayaan yang kuat akan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahateraan masyarakat; masyarakat modern tergolong ke dalam bermacam-macam profesi yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, ketrampilan, dan kejuruan; tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata; hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks; dan ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkan ataspenggunaan uang dan alat-alat pembayaran lain.

Kemajuan dan modernitas, bisa menjadi tantangan dan hambatan dalam aktifitas dakwah, bisa juga sebagai keuntungan jika dapat dimanfaatkan
sisi positifnya. Kecanggihan teknologi dan lain sebagainya, dapat mempermudah sasaran dan target dakwah atau meningkatkan capaian syiar Islam tersebut. Tentu semua itu bergantung pada kita sendiri, terutama para praktisi dakwah seperti kalangan ulama, dai, intelektual agama dan masyarakat secara umum.


(sumber: buku Dakwah Preneurship ala JK).