DMI.OR.ID, JAKARTA – Dalam proses meraih kekuasaan, terdapat faktor kehendak Allah SWT Yang Maha Tahu. Itu sebabnya proses meraih kekuasaan tidak boleh terlalu mutlak dan tegang. Semua pihak harus menerima apa pun hasil dalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) nanti, khususnya dalam Pemilukada DKI Tahun 2017.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, menyatakan hal itu pada Jumat (21/10) malam di Wisma Antara, Jakarta.Kiai Masdar menyatakan hal itu saat memberikan kata sambutan dalam Peringatan Hari Santri dan Deklarasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Damai.

Kegiatan ini mengambil tema: Wujudkan Perdamaian, Perkokoh Kebhinekaan dan Indonesia Bermartabat yang diselenggarakan oleh Relawan Nusantara (Relanu).

“Proses perebutan kekuasaan itu tidak boleh terlalu mutlak-mutlakan, harus jadi, harus tidak jadi. Kalau pun lawan harus dikalahkan, itu boleh saja sebagai retorika, tapi harus dihitung ada faktor Allah yang maha tahu,” tutur Kiai Masdar pada Jumat (21/10) malam, seperti dikutip dari www.news.detik.com.

Ketika kekuasaan diperebutkan melalui pemilihan, lanjutnya, boleh saja kita serius, tetapi jangan berlebihan, jangan terlalu mutlak-mutlakan. Semua pihak tidak boleh terlalu tegang dan mutlak, tetapi harus bisa menerika apa pun hasil pemilukada DKI Jakarta pada 2017 nanti.

“Semua bisa dan boleh berharap jadi (gubernur), tetapi semuanya harus terbuka bahwa bisa saja tidak jadi. Itu adalah kehendak Allah yang maha kuasa,” tegas Kiai Masdar yang juga Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini.

Menurutnya, tidak boleh ada pihak yang ngamuk hanya karena kalah dalam pemilukada DKI Jakarta pada 2017 nanti, karena orang yang mengamuk berarti tidak mengikuti perintah Allah SWT. “Dan sekali lagi, kita jangan terlalu tegang, pasrahkan kepada Allah SWT,” ujarnya.

“Dia-lah (Allah SWT) yang memiliki kekuasaan untuk memberi kekuasaan kepada siapapun. Pihak yang menang dipersilakan memimpin, dan yang kalah tidak boleh ngamuk. Yang ngamuk tidak mengikuti perintah Allah. Oleh karena itu, persaingan ini tidak boleh mutlak-mutlakan,” imbuh Kiai Masdar yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Kiai Masdar pun mengingatkan para pihak yang bertarung dalam pemilukada DKI Jakarta dan daerah-daerah lainnya, pada 2017 nanti, untuk tidak merusak kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

“Pemilu yang damai adalah ujian bagi bangsa Indonesia. Namun jangan sampai kita merusak kebhinekaan Indonesia hanya karena ingin merebut kekuasaan. Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai jenis suku dan agama yang tergabung dalam kebhinekaan, itu sebabnya perdamaian harus dibangun atas kebhinekaan,” ucapnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani