DMI.OR.ID., JAKARTA – Upaya memakmurkan masjid tidak dapat dipisahkan dari upaya memakmurkan bumi. Memakmurkan masjid berarti membangun masjid sebagai pusat peradaban ummat. Kemakmuran masjid harus bermuara kepada kemakmuran bumi. Itulah sebab mengapa ummat Islam diperbolehkan untuk sholat di masjid dan di atas bumi (tanah).

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., menyatakan hal itu pada Senin (26/9) pagi, saat memberikan sambutan di acara: Pelatihan Penataan Kualitas Akustik Masjid di Indonesia di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta.

“Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an tentang kemakmuran masjid dan kemakmuran bumi, yakni surat At-Taubah ayat 17 dan Surat Al-Baqarah ayat 30. Kemakmuran masjid tidak bisa dipisahkan dari kemakmuran bumi. Buktinya, ummat Islam diizinkan untuk sholat tidak hanya di masjid, tetapi juga di atas bumi (tanah),” tutur Kiai Masdar pada Senin (26/9) pagi.

Kondisi ini, jelasnya, berbeda dengan ummat agama lainnya, seperti Kristen, yang hanya boleh beribadah di dalam gereja. Mereka tidak boleh beribadah di luar gereja (di atas tanah).

Menurutnya, Masjid merupakan titik tolak untuk memakmurkan peradaban manusia di bumi. Memakmurkan peradaban di bumi harus bertitik-tolak dari masjid. Hal ini terlihat dari filosofi dua dimensi ruangan di dalam masjid

“Itu sebabnya masjid selalu memiliki dua jenis ruangan, yakni ruang utama (bagian dalam) untuk ibadah kepada Allah SWT (hablum minAllah) dan ruang serambi (bagian luar) untuk beragam aktivitas sosial jamaah dan masyarakat (hablumminannas). Filosofinya, kemakmuran masjid harus bermuara kepada kemakmuran bumi,” jelas Kiai Masdar.

Kiai Masdar juga mengakui peran penting dan strategis masjid bagi masyarakat, khususnya umat Islam. “Hanya masjid yang mampu menjadi tempat rapat pleno para pengambil keputusan minimal sepekan sekali, saat sholat Jumat, tanpa perlu surat undangan,” ungkap Kiai Masdar yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dibandingkan dengan balai desa, ucapnya, masjid sangat berperan penting dalam kehidupan ummat Islam di Indonesia. “Balai desa digunakan sebagai tempat pertemuan sedikitnya sebulan sekali, tidak bisa sepekan sekali, itu pun harus dengan surat undangan Kepala Desa dan belum tentu semua undangan hadir,” tukasnya.

“Masjid menjadi tempat untuk menyampaikan berbagai agenda besar dan program penting ummat Islam sehingga menjadi gerakan massif. Sejarah membuktikan gagasan-gagasan besar ummat Islam lahir dari masjid,” jelas Kiai Masdar yang juga Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

gDalam sesi pembukaan ini, turut hadir Ketua PP DMI Bidang Sarana, Hukum, dan Waqaf, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, Sekretaris PP DMI, Dr. H. Munawar Fuad Noeh, M.A., yang juga Manajer Akustik PP DMI, dan Bendahara PP DMI, Dra. Hj. Dian Artida.

Hadir juga tim Akustik PP DMI, yakni H. Musfidarizal, S.E., M.M., dan Ir. H. Aziz Muslim, dan Stafsekretariat PP DMI, Dra. Rosemini.

Kegiatan ini diikuti oleh 56 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Seluruh peserta tampak bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars DMI dengan penuh semangat. Lalu, mereka membacakan Ikrar Peserta dengan suara keras dan tegas.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani