DMI.OR.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., mengajak seluruh ummat Islam, khususnya para pengurus dan Pimpinan Wilayah (PW) DMI Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, untuk bekerja keras dan bersama-sama menghidupkan kembali trilogi fungsi dan peran masjid.

“Mari bersama kita wujudkan trilogi peran dan fungsi masjid dalam aspek hablumminAllah, hubungan antara manusia dengan Allah, hablumminannas, hubungan antar sesama manusia, dan gerakan riil ekonomi ummat,” tutur Kiai Masdar pada Senin (27/3) di Balai Kota DKI Jakarta.

Tepatnya, saat memberikan mauidzoh hasanah (taushiyah) di acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II DMI Provinsi DKI  Jakarta pada Senin (27/3) pagi. Kegiatan ini berlangsung sejak Senin (27/3) hingga Rabu (29/3) di pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Adapun tema yang diangkat ialah: Melalui Rakerwil DMI DKI Jakarta II Tahun 207, Kita Tingkatkan Konsolidasi dan Kinerja Organisasi.

Menurutnya, sejak Islam masuk ke nusantara, masjid-masjid di Indonesia telah memiliki dua serambi. Serambi dalam masjid digunakan untuk ibadah mahdah kepada Allah SWT (hablumminAllah) seperti sholat, dzikir, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, sholawat nabi, dan lain-lain.

“Sedangkan serambi luar masjid digunakan untuk aktifitas sosial kemasyarakatan (hablumminannas) atau ibadah sosial. Adapun di luar masjid dapat digunakan untuk pasar atau kegiatan riil ekonomi ummat lainnya. Contohnya seperti pasar seng di Kota Mekkah,” papar Kyai Masdar yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Namun sayangnya, lanjut ulama yang juga Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) itu, saat ini fungsi masjid di Indonesia banyak yang mengalami penurunan menjadi hanya untuk ibadah mahdah saja yang bersifat vertikal. “Kondisi masjid seperti ini tentu tidak sesuai dengan khazanah budaya bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Padahal, jelasnya, potensi masjid sebagai tempat berkumpulnya ummat Islam di Indonesia sangat besar. Tidak ada di dunia ini masyarakat berkumpul di suatu tempat lima kali sehari untuk ibadah sholat fardhu.

Di balai desa pun, ucapnya, frekuensi pertemuan tidak seperti di masjid. Misalnya, Kalau ada orang ramai-ramai kumpul di balai desa saat Shubuh, tentu dapat dicurigai orang lain. “Tetapi kalau di masjid, tidak ada yang curiga karena memang waktunya untuk sholat Shubuh berjamaah,” jelasnya

“Bahkan sepekan sekali, seluruh pria Muslim berkumpul di masjid untuk beribadah sholat Jumat dan masjid selalu penuh. Artinya, ini semacam pertemuan pleno yang dihadiri para pengambil keputusan diantara ummat Islam,” ujarnya.

Namun Kyai Masdar menyesalkan bahwa potensi masjid yang sangat besar untuk menghimpun modal sosial, politik, ekonomi, dan budaya ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh ummat Islam, khususnya para pengurus masjid.

“Tolong agar Rakerwil II DMI DKI Jakarta ini benar-benar dapat memikirkan dan mengembalikan trilogi fungsi masjid dari aspek hablumminAllah, habluminannas, dan mampu menggerakkan ekonomi riil ummat Islam,” harapnya.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKi Jakarta, Dr. H. Saefullah, M.Pd., dan pemberian kata sambutan oleh Ketua PW DMI Provinsi DKI Jakarta, Drs. KH. Makmun Al-Ayyubi.

Acara yang berlangsung dengan khidmat ini dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan lagu kebangsaan Indtonesia Raya, serta dihadiri oleh puluhan peserta Rakerwil II DMI DKI Jakarta.

Acara ini didukung oleh PT. TOA Galva Prima, Tbk, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, dan PT. Telkom, Tbk,  selaku mitra pendukung aplikasi android DMI.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani