DMI.OR.ID, JAKARTA – Pelaksanaan program Bela Negara bagi bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, saat ini sangatlah tepat. Pasalnya, bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai macam tantangan seperti permasalahan tenaga kerja, darurat narkoba, darurat asap, dan ancaman yang bersifat disintegrasi bangsa seperti konflik etnik dan agama, terorisme, dan separatisme.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, menyatakan hal itu dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID, Sabtu (17/10) pagi, menanggapi pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jendral Ryamizard Ryacudu, terkait program Bela Negara.

“Pernyataan Menhan harus ditindaklanjuti dengan forum group diskusi untuk menjabarkan program-program Bela Negara. Berbagai tantangan bangsa dapat diselesaikan, antara lain, dengan memberikan kesadaran dan kedisplinan kepada generasi muda Indonesia guna menumbuhkan cinta tanah air dan semangat patriotisme,” tutur Natsir pada Sabtu (17/10) pagi.

Menurut Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, semangat patriotisme dan cinta tanah air sudah dilakukan oleh para pendiri negara. Bahkan di kalangan Umat Islam, jauh sebelum Indonesia Merdeka, telah muncul pahlawan-pahlawan ummat seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, dan Pattimura.

“Setelah itu, muncul pula kalangan Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926), lalu berdiri Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) (1945) serta Lasykar perjuangan Hizbullah dan Sabilillah,” ungkapnya.

Berbagai organisasi ini, lanjutnya, juga memunculkan tokoh-tokoh Muslim seperti KH. Masykur, Muhammad Roem, Kasman Singodimedjo, KH.Syaefuddin Zuhri, KH.Noer Ali dan para tokoh militer yang muncul dari pelatiah Pembela Tanah Air (PETA) seperti Jenderal Sudirman, Jenderal Suharto, Jenderal Ahmad Yani, dan Letnan Kolonel (Letkol) Sarwo Edy Wibowo dan lain-lain.

“Saat ini, sangatlah tepat waktu apabila program bela negara dapat dilaksanakan untuk memberikan kesadaran bagi generasi muda. Pada usia potensial, anak muda perlu diberikan aktivitas penyaluran yang bukan saja pelatihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga kegiatan positif lainnya seperti latihan kepemimpinan,” paparnya.

Hal terpenting, lanjutnya, bagaimana agar generasi muda bisa melakukan kerja kelompok. Jadi, sebaiknya diambil dari berbagai daerah agar mereka saling mengenal bagaimana keragaman n kebhinekaan Indoensia.

Menurut Natsir yang juga Pimpinan Pusat (PP) Keluarga Besar Alumni (KBA) Pelajar Islam Indonesia (PII), upaya melakuan integrasi nasional sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah yang sangat luas, seluas benua Eropa dan berpenduduk besar.

“Apalagi, ini merupakan amanah dari Undang-Undang Dasar 1945 pasal 30 ayat 1 yang berbunyi: Tiap tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Sebagai Organisasi kemasjidan,” jelasnya.

Terkait Program Bela Negara ini, PP DMI juga akan menggerakkan pemuda dan remaja Masjid untuk ikut aktif dalam kegiatan bela negara.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani