96gerakan hasanahDMINEWS–Banyak cara mengembangkan dakwah Islam. HM Jusuf Kalla, melalui masjid, melakukan berbagai terobosan yang sangat signifikan. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, DMI di bawah kepemimpinan JK sangat agressif melaksanakan program pemberdayaan masjid dan umat.

JK ingin bagaimana masjid yang banyak jumlahnya itu keberadaannya dapat dirasakan oleh umat dan masyarakat umum, tidak hanya untuk beribadah saja, tapi lebih dari itu, masjid dapat melakukan fungsi-fungsi advokasi dan edukasi di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan perekonomian. Hasilnya, semua yang dapat dirasakan langsung oleh umat.

Untuk menstimulus dakwah Islam lebih baik dan mencapai target, JK kini mempelopori sebuah gerakan yang ia beri nama: Gerakan Hasanah. Gerakan Hasanah adalah suatu gerakan kolaboratif berbagai kelompok Islam berbasis masjid. Dalam bahasa Arab, ‘hasanah’ adalah baik, mulia, atau kebaikan. Ketua Umum DMI yang kini menjadi wakil presiden tersebut menuturkan, dirinya terinspirasi doa yang setiap hari diucapkan umat Islam dan terkenal sebagai doa sapu jagat, yakni “Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wafil akhirati hasanah wa qina azaaba annar.” (QS. Albaqarah: 201). Terjemah ayat tersebut kurang lebih: “Ya Tuhan kami, karuniakanlah kami kebaikan di dunia dan (juga) kebaikan di akhirat (kelak), serta jauhkanlah kami dari azab neraka.”

Dalam berbagai kesempatan, Kalla selalu mengatakan bahwa doa apapun yang dipanjatkan oleh umat Islam di dunia ini, pada akhirnya pasti diakhiri dengan doa yang dikenal dengan ‘doa sapu jagat’ tersebut. Itu menunjukkan bahwa kondisi baik (kebaikan) adalah menjadi harapan setiap orang. Harapan hidup, harapan rejeki, harapan prestasi, dan lain sebagainya, menuju keadaan yang lebih produktif dan meningkat.

Mengomentari doa sapu jagat tersebut, beberapa ulama mempunyai pandangan tersendiri. Seorang ulama abad pertengahan, Al-Hasan (rahimahullah) misalnya menegaskan, bahwa yang dimaksud dengan kebaikan di dunia dalam doa “rabbana atina fid dunya hasanah” adalah ilmu dan ibadah. Sementara kebaikan akhirat “wa fil akhirati hasanah” tak lain adalah surga.

Sementara itu, Ibnu Wahb (wafat th. 197 H) rahimahullah berkata, “Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ‘Kebaikan di dunia adalah rizqi yang baik dan ilmu,’ sedangkan kebaikan di akhirat adalah Surga.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/229-230, no.252 dan 253, dan 254) dan al ‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu.

Ahli tafsir terkemuka yang banyak dirujuk pendapatnya oleh kalangan ulama dulu dan kini, Fakhr al-Din al Razi berpendapat bahwa, kebaikan dunia antara lain meliputi: hidup aman, anak-anak (generasi) yang saleh (berakhlak mulia), isteri yang salehah (berakhlak mulia), rizki yang mencukupi dan aman dari kekerasan. (Baca: Al-Razi, Al-Tafsir al-Kabir, I).

Rasulullah Saw sendiri menyukai doa-doa yang singkat dan padat. Salah satunya adalah doa sapu jagat tersebut. Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik, dikatakan, “Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690).

Dalam konteks doa sapu jagat yang melandasi Gerakan Hasanah tersebut, JK mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat sudah selayaknya memberi dampak positif atau keuntungan bukan saja bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat umum di dunia ini, tapi juga harus memberikan keuntungan kelak di akhirat (pahala).

“Jadi, perbuatan kita harus berefek jangka panjang, memberikan manfaat bagi kehidupan. Jadikan dunia sebagai faktor akhirat. Dengan demikian, orientasi ibadah kita bukan saja untuk menggapai surga di akhirat, tapi juga menciptakan surga di dunia,” ujar JK dalam sebuah rapat pengurus DMI, akhir Agustus lalu.

Dalam pandangan JK, surga di dunia memiliki makna luas. Jihad memberiantas korupsi, kerja keras membangun pedesaan agar lebih baik, mengajak masyarakat membudayakan pola hidup bersih dan sehat, mengajak meningkatkan kinerja untuk melayani masyarakat luas, dan lain sebagainya, adalah upaya-upaya serius membenahi negeri ini. Inilah yang disebut JK sebagai gerakan Hasanah atau gerakan kebaikan.

Pria yang dikenal low profile dan egaliter ini selalu mengingatkan kita semua, masyarakat banyak, bahwa amal-amal sosial yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas, harus makin diperbanyak dan diperluas spektrumnya.

“Saya selalu katakan, umat Islam rajin datang jika ada tabligh akbar, istighosah, dan majelis-majelis taklim lainnya. Tapi, jika diajak untuk kerja keras menciptakan sesuatu yang konkret dan bermanfaat, atau kerja bakti, sedikit yang datang. Padahal kerja sosial juga tak kalah nilai pahalanya dengan berzikir,” papar JK dalam satu kesempatan rapat pengurus DMI.

Jusuf Kalla memandang, tidak salah datang untuk berzikir, beribadah. Tapi, faktanya semangat umat Islam dalam kerja-kerja sosial, kerja konkret, meningkatkan prestasi dan konerja, tidak sebesar jika mereka datang ke majelis zikir. Seharusnya, kata JK, antara amal dunia dan akhirat harus seimbang, sehingga kebahagiaan dunia tercapai, kebahagiaan akhirat (kelak) juga tergapai. Inilah sebenarnya prinsip keseimbangan beribadah dalam Islam.

 

Kebajikan dan Kesejahteraan

Sekjen DMI, Imam Addaruquthni menyatakan, Gerakan Hasanah meliputi semua amal usaha bersifat kreatif progresif berkebajikan (hasanah) sesuai semangat ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin, yang ditujukan untuk terwujudnya kualitas hidup umat Islam di tengah masyarakat Indonesia yang maju dan modern.

Jika dilihat dari karakter dan definisinya itu, Gerakan Hasanah akan mengupayakan segala usaha yang baik (dan halal tentu saja) dalam rangka merealisasikan kemakmuran dan tujuan dari gerakan tersebut. Apalagi, dengan menganut asas gotong royong (ta’awun), kebaikan (hasanah), kebersamaan (jama’iyah) dan ketaqwaan (taqwa ‘ala Allah), misi dan target dari Gerakan Hasanah ini optimis dapat terwujud dengan baik.

Sementara itu, untuk dalam aksinya Gerakan Hasanah nantinya akan mengambil model partisipatoris, kolegial, dan all inclusive collaboration, yakni dengan memanfaatkan jejaring (network) berbagai kelompok komunitas berbasis masjid non-sectarianism, tidak diskriminatif, baik mazhab maupun non-mazhab, suku/budaya, kelompok primordial, dan lain sebagainya.

Gerakan Hasanah menerapkan strategi dengan cara mengutamakan pendekatan urgensi relative yang ditentukan berdasar analisis atas tata urut pemenuhan kebutuhan dasar (basic need) sampai kebutuhan sejahtera (welfare need) dan spiritual need. Untuk itu, pembuatan program kegiatan yang sejalan sangat menentukan (determinan).

Tentu saja strategi tidaklah cukup tanpa ditunjang dengan infrastruktur atau wadah untuk melakukan aksi program. Untuk itu, dalam aksinya kelak, Gerakan Hasanah akan memaksimalkan jaringan berbasis masjid dan eksponen masyarakat (pemimpin informal seperti kyai, ustad, tokoh masyarakay, tokoh budaya, dan lain sebagainya). Selain itu juga memakai jalur peer-group cluster, yakni kelompok berbasis usia, lintas profesi, budaya, atau gabungan antara berbagai kelompok yang sejalan dengan target dan tujuan dari gerakan kebaikan ini.

Gerakan Hasanah akan memanfaatkan seluruh sarana jejaring media komunikasi yang ada maupun yang harus direkayasa, baik elektronik maupun cetak, seperti gadget, internet, cybernetic, cyber-mosque, website, Koran, newsletter, televise, media sosial dan lain sebagainya. Semuanya akan disinergikan dan menjadi faktor penting infrastruktur dari Gerakan Hasanah.

Dari perspektif sarana atau tempat, seperti disinggung di atas, Gerakan Hasanah dapat dilaksanakan melalui wadah lembaga keagamaan yang ada, juga melalui sarana sekolah, kampus, karang taruna, perkantoran (dunia profesional), rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan tempat lainnya yang memungkinkan gerakan untuk dapat menciptakan kebaikan terlaksana.

Dengan demikian, memungkinkan siapapun, saat itu juga, dapat bergabung dalam Gerakan Hasanah. Gerakan ini memang diciptakan dari dan untuk semua. Oleh sebab itu, tidak ada aturan yang baku. Pada prinsipnya, aturan yang dipakai dalam merealisasikan Gerakan Hasanah adalah batasan norma agama, norma sosial, tidak melewati batas, suka rela, dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Makanya, ini semacam gerakan lintas segalanya: lintas profesi, agama, golongan, dan sebagainya. Meski demikian, dalam praksisnya, tetap ada pengorganisasian untuk memudahkan operasional secara modern dan professional.

Secara prinsip maupun tujuan, sebenarnya Gerakan Hasanah ini mirip gerakan sosial yang dipelopori intelektual dan tokoh Muslim terkemuka Turki, Fathullah Gulen, yakni Hikmet. Hikmet yang berarti ‘Layanan’ adalah sebuah kolaborasi sosial semua segmen masyarakat yang bertujuan melakukan perubahan dan kesejahteraan di masyarakat. Gerakan ini ada di puluhan negara, bahkan disinyalir puluhan juta orang menjadi anggotanya. Banyak kalangan pengusaha bergabung dan mendanai gerakan Hikmet ini.

Gerakan yang sangat inspiratif ini telah mendirikan ribuan sekolah di berbagai negara, menciptakan lapangan kerja sebagai upaya pemberdayaan masyarakat tak mampu, serta menjadi agen perubahan di masing-masing masyarakat di berbagai negara. Hikmet menekankan pola keberagamaan yang inklusif, moderat dan menghargai perbedaan agama. Bahkan pendiri gerakan ini, Gulen, sering mempelopori dialog antar agama. Inilah yang tampaknya akan diwujudkan dalam konteks Gerakan Hasanah, berintikan dan menyasarkan pada kesejahteraan bersama. (hs)

 

Lihat gambar: JK menjelaskan tentang Gerakan Hasanah dalam rapat pengurus DMI