DMI.OR.ID, JAKARTA – Era globalisasi memungkinkan gerakan-gerakan berbagai kelompok masuk ke dalam setiap wilayah dan negara. Dunia menjadi semacam kampung besar, atau biasa dikenal dengan istilah global village, dimana batas-batas negara seakan tidak ada lagi. Kecanggihan dan kemajuan sains dan informasi teknologi (IT) menjadikan dunia tanpa sekat dan batas sebagaimana terjadi beberapa dekade yang lalu. Informasi dan perkembangan di pojok dunia barat, seketika itu dapat diketahui masyarakat di pojok dunia timur.

Tentu saja kemajuan dan globalisasi tersebut, dalam batas-batas tertentu, membawa dampak positif, juga negatif. Dampak positif misalnya, umat manusia secara umum dapat menjalankan aktifitas dan menjalani kehidupannya dengan lebih mudah dan simpel. Bahkan bagi dunia kedokteran, kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadikan perkembangan pesat dunia kesehatan dan membantu secara lebih dini deteksi suatu penyakit, berikut solusi pengobatan dan pencegahannya beserta perangkat canggih teknologinya.

Kemudahan berkat kemajuan dan arus globalisasi juga dirasakan misalnya dalam dunia pendidikan. Proses belajar mengajar dari sistem konservatisme dengan memngandalkan kegiatan bersifat manual dan dengan peralatan yang serba terbatas, kini proses pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih maju, sederhana, dan lebih cepat. Dunia internet dan maya juga memungkinkan proses pendidikan (belajar mengajar) dilakukan dengan sistem jarak jauh, antar negara, tanpa mengurangi kualitas dari output yang dihasilkannya.

Arus globalisasi juga dapat memudahkan aktifitas dan proses-proses dakwah dijalankan dengan lebih efektif dan efisien. Melalui teknologi YouTube, internet, televisi, radio, blog (website), dan sistem tivi streaming misalnya, kegiatan dakwah dapat disebarkan, baik secara live maupun off air hingga dapat ditonton jutaan pemirsa di berbagai wilayah dan belahan dunia.

Sebelum munculnya teknologi internet, dakwah dan ceramah hanya dapat dilakukan secara konvensional, yakni dakwah langsung di hadapan jamaah. Lebih menyedihkan lagi, sebelum munculnya media televisi (yakni sebelum era tahun 50-an di Indonesia), dakwah hanya dapat dilakukan secara terbatas, dengan sistem tatap muka.

Kemajuan dan kecanggihan teknologi dan globalisasi telah merubah pola pandang dan sistem dalam berdakwah agar lebih mencapai target dan sasaran. Inilah sisi positif yang perlu kita syukuri, bahwa untuk melakukan perubahan, umat Islam atau siapapun harus mampu melakukan perubahan pada diri sendiri dan lingkungannya, mampu melakukan penyesuaian dan dapat menjalani proses dengan lebih cerdas dan lebih baik.

Namun demikian, kita juga tidak menutup mata bahwa globalisasi juga telah melahirkan berbagai ekses negatif dalam kehidupan umat manusia. Yang paling nyata tentu saja globalisasi pada titik tertentu telah merubah pola pikir seseorang atau kelompok menjadi lebih permissive dan individualistik. Gaya hidup permissive dan individualistik dalam konteks masyarakat ketimuran (Asia dan khususnya lagi Indonesia), jelas sangat bertentangan dengan norma dan tradisi bangsa yang kita anut.

Nilai-nilai dasar agama maupun Pancasila mengajarkan kebersamaan, gotong royong dan saling menyayangi. Dalam masyarakat yang diliputi sikap permissive dan individualistic mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan atau kelompok. Yang ada dalam benak dan pikiran adalah kepentingan jangka pendek. Sementara nilai agama dan Pancasila mengajarkan kesejahteraan dan kemakmuran dirasakan dan dicapai secara bersama-sama.

Selain itu, kemajuan dan arus globalisasi juga berefek pada demoralisasi akhlak manusia. Perilaku acuh dan kriminal kian marak di masyarakat. Tata krama tak lagi menjadi panduan dalam pergaulan sosial. Bahkan sikap anak melawan orang tua menjadi hal yang makin kita saksikan, pergaulan bebas anak muda, dan lain sebagainya. Tentu saja ini semua membuat kita miris dan prihatin. Anak-anak muda menjadi generasi penerus bangsa.

Hadirnya paham-paham radikal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan ke-Indonesiaan (kebangsaan) adalah ekses lalin dari globalisasi. Paham-paham tersebut berkembang dan bersemi di bumi Nusantara, seperti paham menyimpang Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang tumbuh subur di negara konflik Irak dan Syiria, dan diimport oleh beberapa kalangan Indonesia yang berpaham sempit.

Ajaran radikalisme dan kekerasan yang dipraktekkan oleh kelompok ISIS jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang damai dan memberi kemaslahatan, tapi juga bertolak belakang dengan filosofi dan dasar negara Pancasila. Globalisasi dimana dunia berdiri tanpa sekat-sekat melalui kecanggihan dan kemajuan teknologi dan informasi, membuka lebar peluang berkembang suburnya paham-paham menyimpang tersebut.

Menurut JK, kita patut bersyukur bahwa Indonesia yang hampir 90% penduduknya memeluk agama Islam. Walaupun terdiri dari berbagai bahasa, berbagai budaya, juga berbeda dalam cara melaksanakan agama. “Karena itulah apa yang kita harapkan dari segi perbedaan itu kita bersatu, dan segi perbedaan itu kita harapkan menjadi kekuatan bukan perpecahan,” tutur Wapres, saat membuka konferensi pemimpin muslim moderal internasional (ISOMIL) yang dihelat PBNU di JCC, 9 Mei lalu.

Menurut pandangan pria Bugis ini, radikalisme dan terorisme harus diatasi karena kita semua menginginkan suatu dunia Islam yang moderat, agama rahmatan lil’alamin. Bagaimana Islam sebagai agama memberikan rahmat, memberikan kebaikan, mempersatukan kepada seluruh umatnya. Itulah yang selalu menjadi tujuan dan cita-cita kita semuanya, papar JK.

Berbagai kejadian di beberapa negara Islam yang terjadi akhir-akhir ini, dalam pandangan JK, terlihat hanyalah bom, perang dan konflik. Kalau jaman Rasulullah orang hijrah dari Mekah ke Madinah untuk mencari kebaikan dan persatuan sehingga timbullah masyarakat Islam yang baru yang lebih damai dan beradab.

Hari ini, jelas JK, yang kita saksikan adalah hijrahnya orang-orang Islam dari negara-negara yang dulu indah, seperti Syria, Irak, Lybia dan sebagainya, berlindung di negara-negara non Islam di Eropa. “Sungguh tragis memang apa yang terjadi pada hari ini. Dan semua itu merupakan bagian dari apa yang harus kita selesaikan, bukan hanya kita bicarakan di kalangan kita semua,” demikian Kalla.

Eropa juga tak kalah menjadi korban dari aksi terorisme. Wapres JK mengisahkan bagaimana pengalaman yang ada di Eropa, terorisme oleh anak-anak muda justru karena tidak mempunyai pemahaman agama yang dalam. “Abdulsalam, Abdullah, atau siapapun, di Perancis, di Belgia, semuanya tidak mengenal masjid dengan benar, justru mereka minum-minum, narkoba dan sebagainya. Tapi yang timbul adalah kemarahan, kepada nasib umatnya, negaranya, yang dihancurkan oleh banyak pihak. Tapi yang lebih menyedihkan, kita sendiri menyerang satu sama lain, saling menghancurkan satu sama lain, tanpa alasan yang jelas,” ungkap Wapres.

Wapres menambahkan bahwa memang terlalu banyak hal yang dikonflikkan, mulai ideologi, energi, pemerintahan, demokrasi dan sebagainya menjadi penyebab daripada semua ini. “Tidaklah mudah menyelesaikannya dalam konferensi tanpa pemahaman,” ujar Wapres.

Tak hanya paham keagamaan yang dibajak untuk kepentingan sesat. Paham materialistik dan kapitalisme juga tak ketinggalan, tumbuh subur di negeri ini. Dibungkus dengan kerjasama perdagangan dan bisnis, kapitalisme menguasai hajat hidup masyarakat Indonesia. Globalisasi meniscayakan perdagangan bebas antar negara, paham devisa menjadi penting untuk meningkatkan investasi dan pertumbuhan.

Jika tidak dikawal secara ketat, kapitalisme yang berbasiskan modal tak terukur, akan menguasai hajat hidup rakyat Indonesia. Ini jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang mengamanatkan negara menguasai kekayaan dan hajat hidup masyarakatnya. Kekayaan alamnya untuk kesejahteraan bangsa dan negara, tidak diserahkan kepada mekanisme pasar dan modal (kapitalisme).

*Artikel dikutip dari buku: Dakwah Intrepreneurship Ala JK, karya Hery Sucipto (Grafindo: Juni 2016)