Sebuah paradoks kembali terjadi sekali lagi di Amerika Serikat, di saat para politisi anti Islam, semuanya dari partai Republik, kembali menyerang dan membangun berbagai image (kesan) yang buruk mengenai Islam.

Selasa kemarin (3/11) waktu setempat, di saat pemilihan daerah terjadi di berbagai bagian Amerika, Islam atau tepatnya komunitas Muslim kembali mencatat kegemilangan yang luar biasa.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara ini, sebuah kota kecil di negara bagian Michigan, Hamtranck, memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang mayoritas beragama Islam. Empat dari enam anggotanya adalah Muslim.

Sejarahnya, kota ini mayoritas berpenduduk keturunan orang-orang Polandia (Polish) yang beragama katolik. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, kota ini dibanjiri oleh imigran Muslim, khususnya dari Timur Tengah, Asia Selatan dan Bosnia.

Sebenarnya beberapa tahun lalu, di kota ini sudah terjadi sebuah kontroversi besar. Anggota DPRD yang saat itu mayoritas katolik justru memberikan izin berupa sebuah masjid untuk mengumandangkan azan keluar ke jalan-jalan.

Dan hal ini menjadikan mereka, warga Hamstranck yang tidak senang dengan Islam, berupaya melakukan semua cara untuk membatalkan keputusan itu. Dan itu terjadi di tahun 2011 lalu, saat hanya ada satu anggota DPRD-nya beragama Islam.

Kini di tahun 2015, dua per tiga anggota DPRD kota itu beragama Islam. Walaupun sejak lama walikotanya selalu beragama katolik dan keturunan Polandia, namun tidak mustahil lima tahun ke depan, walikotanya juga adalah seorang Muslim.

Bagi kami di Amerika Serikat, ini merupakan sebuah kegembiraan tersendiri. Sebuah indikasi nyata bahwa tantangan terkadang menjadi pemacu lebih kuat untuk sebuah keberhasilan. Bahwa kebenaran itu semakin ditantang maka akan semakin menampakkan diri. Intinya, kebenaran tidak akan sirna oleh rintangan. Justru sebaliknya, semakin ditantang akan semakin bersinar.

Kemenangan mereka juga akan menjadi pemicu dan pemacu semangat umat Islam untuk lebih pro aktif, khususnya dalam keterlibatan politik. Sebab, memang dilemanya masih saja ada di antara umat Islam yang melihat political involvement (keterlibatan dalam politik) sebagai langkah kompromi dengan nilai-nilai Amerika.

Mereka sering menganggap nilai-nilai Amerika itu notabenenya ialah anti thesis dari ajaran Islam, sehingga partisipasi politik umat di sebagian daerah masih terlalu rendah.

Hal lain, dengan kemenangan ini umat akan membuktikan bahwa kecintaan dan loyalitas mereka kepada negara ini tidak kurang dari masyarakat lainnya. Walaupun mereka mayoritasnya adalah imigran. tapi mereka bisa membuktikan lewat pengabdian politik jika mereka cinta dan loyal kepada negaranya.

Hal ini tentu menepis tuduhan yang berkembang selama ini bahwa masyarakat Muslim itu kurang loyal kepada Amerika dan karenanya perlu dicurigai. Di balik dari kegembiraan di atas, tentu juga ada beberapa kekhawatiran yang bisa terjadi.

Pertama, ini akan dijadikan justifikasi oleh mereka yang menuduh bahwa Islam itu, jika ada di suatu tempat, akan mengambil alih (taking over). Walaupun kenyataannya, kemenangan ini juga melalui proses demokratis yang disepakati.

Kedua, dikhawairkan jika kemenangan ini tidak termanfaatkan dengan baik oleh yang terpilih. Misalnya, mereka gagal membuktikan bahwa orang Islam itu tidak partisan ketika berkuasa. Bahwa ketika mereka terpilih maka keterpilihan mereka adalah kemenangan untuk semua, Muslim dan non Muslim.

Dengan kata lain, tantangan bagi orang Islam ketika terpilih adalah apakah mampu membuktikan bahwa Islam itu memang rahmatan lil-alamin? Semoga!

New York, 6 Nopember 2015

Penulis: Imam Shamsi Ali

* Presiden Nusantara Foundation New York, Amerika Serikat