DMI.OR.ID, JAKARTA – Innalillahi wa inna ilaihi Rooji’un, segenap keluarga besar dan pengurus Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya almarhum Prof. Dr. (H.C.) Drs. KH. Muhammad Tholchah Hasan pada Rabu (29/5), Pukul 14:00 Waktu Indonesia Barat (WIB) di Kota Malang.

Seperti dikutip dari laman https://kemenag.go.id, almarhum wafat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Saiful Anwar, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, dalam usia 82 tahun. Jenazah almarhum disholatkan di Masjid Kampus Universitas Islam Malang (Unisma) dan Masjid Sabilillah, Malang.

Lalu usai sholat tarawih pada 24 Ramadhan 1440 Hijriah, jenazah almarhum dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bungkuk, Singosari, Kabupaten Malang.

Ketua PP DMI BIdang Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, mengenang almarhum KH. Tolchah Hasan sebagai seorang ulama dan pemimpin teladan bagi umat dan bangsa tanpa kecuali.

“Beliau pernah beberapa kali ikut hadir dalam pertemuan Rabithah Alam Islami di Mekkah, Arab Saudi. Hal itu justru atas rekomendasi Bapak Mohammad Natsir, bukan Pak Sjaichu. Hal ini diungkapkan almarhum sendiri,” tuturnya.

Suatu ketika dalam percakapan dengan Kiai Tolchah, kenangnya, beliau curhat (curahan hati) soal moralitas bangsa, termasuk moralitas sebagian anak muda yang sudah hubbud dunya (cinta dunia) di bawah pengaruh godaan fulus (uang).

“Kiai Tolchah Hasan adalah seorang yang jujur dan apa adanya dalam melihat realitas di tengah masyarakat,” ungkap H. Natsir yang juga Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Almarhum KH. Muhammad Tholchah Hasan semasa hiduonya pernah menjadi Menteri Agama RI  dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah kepemimpinan Presiden Dr. (H.C.) KH. Abdurahman Wahid sejak 29 Oktober 1999 hingga 13 Agustus 2001.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) menerima seluruh amal ibadah, pengabdian, dan perjuangan almarhum, serta mengampuni seluruh kekhilafan, dan memberikan tempat terbaik di alam barzah. Amiin Yaa Robbal A’lamin.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارْ“

“Ya Allah, Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es.

Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka”.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani