DMI.OR.ID, MAKKAH – Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, segenap pengurus Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyampaikan belasungkawa dan duka cita mendalam atas wafatnya ulama besar Indonesia, al-Maghfurlahu KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen pada Selasa (6/8), sekitar Pukul 04:15 Shubuh Waktu Makkah, Arab Saudi.

Seperti dikutip dari laman https://nasional.republika.co.id/, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, ini wafat pada usia 90 tahun di Makkah, Arab Saudi, saat sedang menjalankan rangkaian ibadah haji 1440 Hijriah.

U’lama kharismatik yang juga Ketua Majelis Syari’ah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu dimakamkan di pemakaman Jannatul Ma’la, Makkah, Komplek 70, Nomor 151, Urutan ke 41, pada Selasa (6/8). Informasi ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul U’lama (PBNU), KH. Robikin Emhas, S.H., M.H., pada Kamis (8/8) dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan pesan-pesan Kyai Maimoen kepada keluarganya bahwa apabila wafat di Makkah, agar dimakamkan bersama orang-orang terkasih Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW) di Makam Ma’la, Makkah, Arab Saudi.

Menurut Menteri Agama (Menag) RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Mustasyar PBNU kelahiran 28 Oktober 1928 itu wafat secara khusnul khatimah. Menag Lukman juga mendo’akan Kyai Maimoen agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) menerima seluruh amal kebajikan Mbah Maimoen.

“Beliau wafat secara husnul khatimah dan marilah kita mendoakan mudah-mudahan Beliau pulang dengan diampuni segala kesalahan dan khilafnya oleh Allah SWT. Diterima segala amal kebajikannya dan pada akhirnya Allah menempatkan beliau di tempat sebaik-baiknya,” ungkap Menag Lukman seperti dikutip dari laman  https://nasional.kompas.com/.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, pengabdian, dan perjuangan almaghfurlahu KH. Maimoen Zubair, serta mengampuni seluruh kekhilafan almarhum dan memberikan tempat terbaik untuk Mbah Moen di alam barzah. Amiin Yaa Robbal A’lamin.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارْ“

“Ya Allah, Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es.

Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka”.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani