DMI.OR.ID, JAKARTA – Intisari dari Surat Al-Fatihah ialah ayat keenam, ihdinas siratal mustaqim, yang artinya Tunjukilah kami jalan yang lurus. Setiap Muslim yang mendirikan sholat wajib membaca surat Al-Faatihah. Artinya, orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa senantiasa berdo’a agar Allah SWT menunjukkan jalan yang lurus kepadanya.

“Orang yang sungguh-sungguh beriman dan bertaqwa juga tidak akan bersifat sombong dan mengklaim dirinya sudah 100 persen berada di jalan yang lurus dan benar, melainkan dengan kerendahan hati hanya berkata “Insya Alah saya berada di jalan yang benar,” tutur Kiai Masdar.

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, MA, menyatakan hal itu saat memberikan taushiyahnya dalam acara Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), H. Irman Gusman, S.E., MBA, pada Kamis (25/6) di Jakarta.

“Kekuasaan sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT. Sejatinya, kekuasaan manusia merupakan perwakilan sifat Ar-Rahman milik Allah SWT di muka bumi, sehingga para penguasa harus sungguh-sungguh memuliakan kemanusian tanpa perlu memandang agama, suku, ras atau etniknya, termasuk yang tidak beragama (atheis),” paparnya.

Menurutnya, Allah SWT saja tidak pernah melarang orang-orang non-Muslim, bahkan yang atheis, untuk berpijak di muka bumi, bahkan dengan sifat Ar-Rahman-nya Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka.

“Namun, mengapa justru manusia yang tidak bisa menerima perbedaan agama dan keyakinan? mengapa harus terjadi pertumpahan darah hanya karena beda agama? Padahal, negara itu wakil Tuhan untuk melindugi segenap mahluk hidup, apa pun keyakinan, agama, warna kulit, maupun suku bangsanya. Negara harus inklusif, tidak boleh diskriminatif,” ujar Kiai Masdar.

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga berpendapat di dunia ini akhlaq jauh lebih penting daripada syari’ah karena akhlaq tidak membutuhkan kekuasaan untuk diterapkan serta fktor terpenting untuk memuliakan kemanusiaan.

Sebaliknya, tuturnya, syari’at membutuhkan kekuasaan untuk diterapkan dan cederung tidak menginginkan adanya kompetitor (persaingan) seperti versi yang berbeda dalam pelaksanaan syariat. Jika penerapan syari’at tidak memperhatikan akhlaq, maka syari’at hanya berobsesi untuk meraih kekuasaan, padahal hakikatnya kekuasaan ituhanya milik Allah SWT.

“Syari’at itu penting, namun jauh lebih penting akhlaq, sudah sepatutnya syari’at bertujuan memuliakan tergelarnya akhlaq dan kemanusiaan. Apalagi hari pengadilan bagi agama atau keyakinan manusia hanya berlaku saat hari kiamat, yaumiddin,” jelasnya.

Selama masih berada di dunia, lanjutnya, yang berlaku adalah keadilan universal bagi seluruh makhluk hidup, termasuk manusia, serta hukum alam yang sifatnya merata. “Negara yang unggul ialah negara yang memiliki pemimin yang inklusif serta faktor-faktor yang tidak dimiliki negara lain,” paparnya.

Menurutnya, Indonesia sangat berpotensi menjadi negara yang unggul sebagai negara yang kekayaan alam dan keanekaragaman hayatinya paling kompleks di seluruh dunia, belum lagi negara berpenduduk kelima terbesar di dunia dengan lebih dari 240 juta pendudu.

“Saya kira, Indonesia sangat potensial menjadi negara yang unggul dan istimewa dibandingkan negara-negara lainnya,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani