DMI.OR.ID, JAKARTA – Bukalah al-Qur’an surat al-Infithar ayat 13-14: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti (abraar) benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.”

Kalau kita sempat membaca beberapa kitab tafsir tentang ayat itu maka seseorang itu disebut abraar, yang makna dasarnya adalah orang-orang baik, jika dia itu betul-betur berbakti kepada Allah dan berbuat banyak jasa serta meninggalkan kebaikan-kebaikan selama hidupnya. Kalau begitu maka kita harus aktif menjadi “produsen” jasa dan kebaikan, bukan menjadi “konsumen” terus.

Imam Abu Hanifah menegur keras seseorang yang rajin mengaji tapi tak pernah bekerja, sementara makan dan kebutuhan hidup lainnya dicukupi oleh saudaranya. Imam Abu Hanifah berkata: “Saudaramu lebih baik dan terhormat dari dirimu.”

Yang harus diyakinkan adalah jangan sampai kita termasuk al-fujjaar, yakni orang-orang yang durhaka yang senantiasa membuat Allah “murka”, orang lain tak suka serta alam berduka. Tak ada enaknya membuat orang lain menderita, karena derita orang lain itu pada akhirnya akan mengunjungi yang membuat derita. Bahagia dan derita terus hidup dan berputar mengunjungi siapa yang berhak untuk ditempati.

Banyak ulama tafsir yang menyebutkan bahwa balasan kenikmatan (la fii na’iim) bagi al-abraar adalah di surga kelak dan balasan derita bagi alfujjaar adalah di neraka kelak. Namun beberapa mufassir seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata bahwa balasan itu tidak khusus di akhirat melainkan pula di dunia dan di alam kubur kelak.

Ingin berada dalam kenikmatan selama hidup di dunia, di alam kubur dan di akhirat kelak? Perkuat bakti kita, perbanyak kebaikan dan jasa kita, jadilah produsen kebahagiaan untuk diri dan orang lain. (sumber: inilah.com)