DMI.OR.ID, JAKARTA – Dua orang delegasi dari Bank Syariah Mandiri (BSM) melakukan kunjungan kerja ke kantor Sekretariat Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada Jumat (11/12) siang.

Salah satu dari delegasi BSM itu ialah Priority Banking Officer (PBO) Mandiri Syariah Priority, Dhany Ika Mariya. Adapun kunjungan kerja ini bertujuan menjalin silaturrahim sekaligus menjajaki kerja sama dengan PP DMI dalam rangka memakmurkan masjid.

Kunjungan kerja BSM ini disambut langsung oleh Wakil Ketua Umum PP DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., dan Ketua PP DMI Bidang Sarana, Hukum dan Waqaf, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, serta anggota Departemen┬áPengembangan Ekonomi Umat dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Ir. H. Sugiono, S.E.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, beberapa kemungkinan kerja sama antara PP DMI dengan BSM telah dibahas secara umum dalam pertemuan ini. Misalnya, seperti sekretariat masjid yang memiliki outlet khusus untuk pembayaran listrik dari PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Terkait hal ini, pihak BSM akan menyelenggarakan pelatihan manajemen keuangan untuk para calon pengelola outlet khusus pembayaran listrik PLN itu.

Jenis kerja sama lainnya yang bisa dilakukan ialah program sosialisasi Gadai Emas Syariah kepada para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Imam, Da’i, Khatib, muballigh, marbot dan jama’ah masjid. Saat ini, Program Gadai Emas Syariah sedang dan telah dikembangkan oleh BSM.

Masjid-masjid yang berlokasi di daerah padat penduduk juga sangat berpotensi untuk memiliki fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BSM, seperti di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Masjid Agung Al Azhar, dan Masjid Raya Jakarta Islamic Centre.

BSM juga berpotensi mengeluarkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk turut memakmurkan masjid, yakni dengan memfasilitasi sanitasi masjid seperti toilet dan tempat sampah serta menyediakan peralatan ibadah di masjid seperti mukena, sajadah, dan sarung.

Dana CSR itu juga bisa digunakan untuk memfasilitasi perawatan kesehatan para jama’ah dan pengurus masjid yang benar-benar sangat membutuhkan dan kurang mampu secara finansial. Khususnya, di daerah-daerah minus seperti Gunung Kidul, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Papua Barat.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani