Salah satu masjid bersejarah paling fenomenal dan berpengaruh di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan oleh Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo Khalifatul Mukmini Sayidul Imam (1724-1757 Masehi) pada  Abad ke 18 Masehi (M). Seperti dikutip dari laman http://palembang-tourism.com, batu pertama masjid ini dimulai pada l Jumadil Akhir Tahun 1511 Hijriah (H)/ 1738 M dan diresmikan pada 28 Jumadil Awal tahun 1161 H/ 26 Mei 1748 M. Pembangunan masjid ini menghabiskan waktu selama 10 tahun, dan menjadi saksi sejarah atas penyebaran syiar dan dakwah agama Islam di kawasan Palembang dan wilayah Sumatera bagian Selatan.

Image may contain: sky, tree, outdoor and nature

Alhamdulilah, penulis berkesempatan untuk berkunjung ke Masjid Agung Palembang pada Jumat (30/6) siang, saat menunaikan ibadah Sholat Jumat Berjama’ah dan bersilaturrahim langsung dengan Sekretaris Yayasan Masjid Agung Palembang (YMAP), Ir. H. Ki Agus (Kgs) Ahmad Sarnubi.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID pada Jumat (30/6) siang, lokasi Masjid Agung Palembang terletak sangat strategis, tepat di tengah-tengah sejumlah obyek vital dan destinasi wisata di Kota Pelambang saat ini. Beberapa diantaranya ialah Jembatan Ampera, Ampera Convention Centre, Sungai Musi, Pasar 16 Ilir, Proyek Pembangunan Light Rapid Transway (LRT), dan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Ada pula Air Mancur yang dikeliingi oleh bender-bendera dari seluruh negara di Asia Tenggara, Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, dan Benteng Kuto Besak (BKB) / Markas Komando Daerah Militer (Kodam) II/ Sriwijaya di sekitar Masjid Agung Palembang.

Image may contain: one or more people, people sitting and indoor

Masjid Agung Palembang juga memiliki mimbar dan mihrab yang sangat unnik dan khas karena terbuat dari kayu trembesi dan kaya dengan ukir-ukiran tradisional Palembang berwana kuning keemasan. Begitu pun dengan tiang-tiang masjid yang berwarna hijau dan dihiasi dengan ukir-ukiran tradisional Palembang berwarna kuning dan batu marmer di bagian bawahnya. Warna hijau ini selaras dengan warna karpet sholat di Masjid Agung Palembang yang juga hijau.

Gerbang utama masjid pun dihiasi dengan ukir-ukiran tradisional khas Palembang berwarna kuning keemasan dengan warna dasar cokelat alami kayu trembesi dan variasi cat warna hijau di bagian atasnya (jendela).Hal unik lainnya ialah atap Masjid Agung Palembang yang terbuat dari kayu trembesi dan berbentuk limas dengan sentuhan gaya bangunan khas Tionghoa. Terdapat tiga atap berbentuk limas yang saling bertumpuk dan menopang satu sama lain di Masjid Agung Palembang. Atap ini menggunakan ornamen khas Tiongkok.

Image may contain: 1 person, standing

Ibadah fardhu sholat Jumat pada Jumat (30/6) siang lalu dipimpin langsung oleh Imam Besar Masjid Agung Palembang, KH. Ki Agus (Kgs) Ahmad Nawawi Dentjik al-Hafidz. Hal unik lainnya, ada pula kain berwarna putih yang terbentang lurus dari pintu utama di aula utama masjid hingga ke mimbar tempat khatib menyampaikan khutbah Jumat. Ketika hendak menyampaikan khutbah, khatib berjalan kaki dari pintu utama masjid menuju mimbar, di atas kain putih itu, dengan dikawal sejumlah orang dan diiringi oleh sholawat nabi dan dzikrullah.

Image may contain: 6 people, people smiling, people standing

Sebagai bukti fisik peninggalan historis Kesultanan Palembang Darussalam, Masjid Agung Palembang menjadi saksi bisu dari perjuangan jihad fi sabililah Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin II Khalifatul Mukminin Sayidul Imam saat melawan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1819-1821 M. Sultan Palembang VIII ini memiliki nama asli Raden Muhammad Hasan Pangeran Ratu dan lahir pada 23 November 1767 M, bertepatan hari Ahad, 1 Rajab 1181 Hijriah. Beliau wafat pada 26 September 1862 M di Pulau Ternate.

Masjid ini juga berperan penting untuk menempa mental dan spiritual (keimanan) dua ulama besar asal Palembang, yakni Kemas H. Umar Chotib Penghulu (1880-1953) dan Kemas H. Abdullah Azhari atau Ki Pedatuan (1862-1938 M). Kedua ulama fenomenal ini penulis temui foto, silsilah, dan riwayat singkat hidupnya saat berkunjung ke Museum SMB II pada Sabtu (1/7) pagi.

Image may contain: 1 person

Silsilah atau nasab dari Kemas H. Umar Chotib Penghulu pun bersambung hingga ke Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo. Beiiau melakukan syiar dan dakwah di Giri, Pulau Jawa. Silsilahnya yakni: Kemas H. Umar Chotib Penghulu bin bin Kemas H. Abdurraman bin H. Kemas Mahmud bin Kemas Hasanuddin bin Kemas H. Chatib bin Kemas Ahmad Husin bin Kemas Miyako bin Pangeran Demang Daeng Arya Wangsa bin Pangeran Temenggung Naga Wangsa Kemas Abdul Aziz bin Geding Ilir bin Sunan Giri.

Sedangkan silsilah atau nasab Kemas H. Abdullah Azhari bersambung hingga ke Sunan Kudus yang juga salah satu dari Wali Songo. Beliau melakuan syiar dan dakwah di Kudus, Pulau Jawa. Silsilahnya yakni: Kemas H. Abdullah Azhari bin Kemas H. Abdullah bin Kemas Nuruddin bin Kemas Syahid bin Sunan Kudus.

Namun sumber lainnya, seperti dikutip dari laman http://www.kanzunqalam.com, menuliskan silsilah berikut: Kemas H. Abdullah Azhari bin Syeikh Kemas Muhammad Azhari bin Kemas H. Abdullah bin Ki Mas H. Ahmad bin Ki Mas H. Abdullah bin Ki Mas Nuruddin bin Ki Mas Sahid bin Susuhunan Kudus (Pangeran Kudus) bin Susuhunan Windung (Pangeran Rajungan) bin Pangeran Demang bin Panembahan Kudus bin Syeikh Maulana Ja’far Siddiq (Sunan Kudus, 1500-1550 M).

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani