DMI.OR.ID, JAKARTA – Sebagai ormas Islam, Muhammadiyah telah memberikan pengabdian dan kontribusi yang besar kepada bangsa dan negara. Bahkan usia Persyarikatan Muhammadiyah yang bulan depan mencapai 105 tahun, terus memberikan yang terbaik bagi anggotanya dan juga bangsa Indonesia.

Demikian disampaikan Kepala Kepolisian Negara (Kapolri) Jenderal Pol Drs Haji Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, saat memberikan orasi ilmiah di acara wisuda sarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Sabtu (23/9).

Orasi bertema “Menuju Indonesia Negara yang Mendominasi dan Berpengaruh” tersebut, selain dihadiri 1130 wisudawan/wisudawati, juga dihadiri kurang lebih 2500 lebih undangan lainnya.

“Persyarikatan Muhammadiyah sudah sangat berpengalaman dalam mengelola organisasi dan masyarakat, khususnya anggotanya yang mencapai hampir 50 juta orang. Muhammadiyah juga sudah ada sebelum NKRI ini berdiri. Bulan depan usia Muhammadiyah mencapai 105 tahun. Tentu ini pengalaman panjang dan berharga,” tegas Kapolri.

Lulusan terbaik Akpol 1987 itu menjelaskan, Indonesia ditakdirkan menjadi negara yang beragam, yang toleran dan saling menghargai. Dengan pengalaman panjang itu, ujar Kapolri, Muhammadiyah sudah terbiasa mengelola kemajemukan tersebut. Bahkan Muhammadiyah bersama elemen lain juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Muhammadiyah adalah pemilik saham NKRI ini bersama debgan kelompok nasionalis, TNI, Polri, dan elemen lain seperti Nahdatul Ulama dan organisasi pemudan dan kemasyarakatan lainnya. Karena pengalaman dan perannya itulah, saya menitipkan NKRI ini kepada Muhammadiyah,” tegas Jenderal Tito yang disambut aplaus hadirin.

Menurut mantan Kadensus 88 Antiteror tersebut, banyak negara bubar karena tidak mampu mengelola kemajemukan. Kita bersyukur, kata dia, dapat mengelola pluralitas dan kebangsaan hingga bisa bertahan dan tetap eksis di usianya yang mencapai 72 tahun ini.

“Karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua, termasuk Muhammadiyah, untuk merawat, menjaga dan mengelola Indonesia dengan berbagai kemajemukan yang ada. Saya berharap betul kepada Muhammadiyah yang memiliki jaringan sangat luas di seluruh Indonesia,” papar Kapolri.

Lulusan doktor NTU Singapore itu merasa bahagia dan bangga melihat perkembangan dan kiprah Muhammadiyah yang konsisten dalam bidang pencerdasan bangsa, kesehatan dan sosial juga dakwah. Bahkan, lanjut Kapolri, Muhammadiyah memandang NKRI sebagai sesuatu yang final, kebangsaan sejalan dengan keislaman, dan kemajuan dalam beragama menjadi pilihan yang cerdas.

“Paham dan pilihan Muhammadiyah ini tentu dihasilkan dari pengalaman dan perjalanan panjang organisasi dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa,” pungkas Kapolri. (Hery)