DMINEWS, JAKARTA — Dakwah Islam di Indonesia yang sangat bebas dari intervensi dan kooptasi pemerintah memiliki sejumlah kelebihan (nilai plus) dan kekurangan (nilai minus) yang mengikutinya.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si, menyatakan kebebasan dakwah Islam yang luar biasa di Indonesia memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan.

“Dakwah Islam di Indonesia luar biasa kebebasannya. Coba bandingkan dengan dakwah Islam di Malaysia dan Brunei Darussalam, hampir semua aktivitas keagamaan dikendalikan oleh Raja,” tutur Kiai Masdar pada Sabtu (13/12) pagi.

Akibatnya, lanjutnya, para muballigh dan da’i di Malaysia tidak perlu susah-susah mencari dana sendiri. Semua aktivitas keagamaan dbiayai negara (Kerajaan Malaysia dan Brunei), muballigh-nya pun digaji oleh negara.

“Itu adalah kelebihan dakwah di Malaysia. Namun konsekuensinya, tidak ada satu pun khutbah dan ceramah agama yang berani mengkritik Kerajaan,” paparnya.

Sekali saja mengkritik, ungkapnya, pasti para da’i itu segera ‘dicokok’ (ditahan) dan kehilangan mata pencaharian. Itulah kekurangan dakwah di Malaysia dan Brunei.

Di Indonesia, jelasnya, tidak ada kejadian seperti itu. Khotbah dan ceramah agama dengan materi apa pun bebas saja. Namun, Keistimewaan ini juga ada nilai plus dan minusnya.

“Kebebasan dakwah yang kita miliki menyebabkan berkembang dan tumbuh suburnya aliran menyimpang, paham radikal, dan aksi-aksi terorisme. Misalnya aliran menyimpang syiah, liberal dan wahhabi,” jelasnya.

“Lalu, ada pula aliran sesat seperti Ahmadiyah, mengaku-ngaku sebagai nabi (nabi palsu), bahkan ada yang mengaku malaikat Djibril. Itu nilai minus dakwah di Indonesia,” papar Kiai Masdar.

Di Malaysia dan Brunei, lanjutnya, susah sekali aliran menyimpang, sesat, paham radikal dan aksi terorisme tumbuh. Ada tanda-tanda sedikit, langsung ditindak oleh Kerajaan.

“Kalau di Indonesia, aksi-aksi terorisme baru bisa ditangkap jika sudah ada tindakan nyata, seperti pembunuhan dan pengeboman, baru bisa ditangkap. Terbuka Islam Indonesia.

Sebagai ummat yang paling akhir, ummatnya Nabi Muhammad SAW, jelasnya, sepatutnya kita yang paling banyak belajar untuk mengayomi ummat agama lain.

Ummat Islam harus siap menghargai dan menghormati agama-agama yang datang sebelumnya. Pasalnya, lanjut Kiai Masdar, ummat yang datang belakangan akan dianggap sebagai pengganggu ummat agama lain.

“Tidak perlu ada satu pun pihak lain, penganut agama lain, termasuk aliran menyimpang dan sesat, yang merasa terganggu dengan dakwah Islam yang Rahmatan lil Alamin,” ungkap Kiai Masdar.

 

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani