DMI.OR.ID, JAKARTA – Potensi pariwisata halal di Indonesia menjadi primadona baru dan telah diakui oleh masyarakat internasional. Hal ini terbukti dari keberhasilan Indonesia meraih 12 dari 16 penghargaan bergensi dalam ajang World Halal Tourism Award (WHTA) Tahun 2016 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Dr. Ir. H. Arief Yahya, M.Sc., menyatakan bahwa wisata religi (spiritual) merupakan bagian dari Halal Tourism dan telah menjadi bagian penting dari portofolio bisnis pariwisata andalan Indonesia. Indonesia juga diakui oleh masyarakat Internasional sebagai destinasi wisata halal kelas dunia.

“Hal ini terbukti dengan diperolehnya 12 dari 16 penghargaan bergengsi WHTA Tahun 2016 di Abu Dhabi, UEA, oleh Indonesia” tutur Menpar Arief Yahya pada Kamis (16/6) sore, seperti dikutip dari laman https://jpp.go.id/.

Tepatnya, saat memberikan sambutan dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (Mount of Uderstanding/ MoU) tentang Program Pengembangan Destinasi Wisata Berbasis Masjid antara Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI.

Kemenpar RI, lanjutnya, mentargetkan untuk meraih peringkat satu versi Global Muslim Travel Index (GMTI) pada tahun 2019 nanti, dari sebelumnya di peringkat keempat pada tahun 2015. Kemenpar juga menargetkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) Muslim sebanyak 5 juta orang dari 2 juta wisman Muslim pada tahun 2015 lalu.

“Target jumlah wisman Muslim sebanyak 5 juta orang pada tahun 2019 nanti. Jumlah ini mencapai sebesar 25 persen dari target kedatangan 20 juta wisman Muslim pada tahun 2019. Sedangkan untuk pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) Muslim, targetnya mencapai 25 persen dari 242 juta wisnus Muslim,” jelas Arief Yahya.

Menurutnya, wisata religi memiliki porsi cukup besar dalam portofolio bisnis pariwsata di Indonesia. Terdapat empat potensi dari wisata religi, yakni potensi budaya (culture), alam (nature), dan kerajinan tangan (man made).

“Potensi budaya dalam wisata religi memiliki porsi paling besar, yakni 60 persen, sedangkan potensi alam porsinya mencapai 35 persen, adapun potensi kerajinan tangan (man made) mencapai lima persen,” jelas Arief Yahya.

Lalu, lanjutnya, potensi budaya dikembangkan lagi menjadi wisata ziarah, wisata belanja, serta wisata kota dan desa. Dari ketiga jenis itu, porsi wisata ziarah (heritage and pilgrim tourism) mencapai 20 persen, porsi wisata belanja (culinary and shopping tourism) mencapai 45 persen, sedangkan porsi wisata kota dan desa (city and village tourism) mencapai 35 persen.

“Sedangkan potensi alam dikembangkan dengan produk wisata bahari (marine tourism) dengan porsi 35%, wisata ekologi (eco tourism) dengan porsi 45%; dan wisata petualangan (adventure tourism) mencapai 20%,” ungkapnya.

adapun potensi man made, ujarnya, dikembangkan dalam wisata MICE (MICE and event tourism) dengan porsi 25%,  wisata olahraga (sport tourism) dengan porsi 60%, dan obyek wisata terintegrasi (integrated area tourism) dengan porsi 15%.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani