DMI.OR.ID, JAKARTA – Sebagai manusia, ada perasaan melankolis yang melanda diri Muhammad. Ini terjadi pada masa awal turunnya wahyu. Usai Rasulullah SAW diperintahkan pertama kali untuk  membaca (QS,96:1-5) dan bangkit dari selimut (QS 74).

Dalam Sejarah Hidup Muhammad yang ditulis Muhammad Husain Haekal, Muhammad melepas selimutnya usai diperintahkan Allah SWT melalui Jibril untuk memperingatkan manusia. Muhammad berkata kepada Khadijah. “Waktu tidur dan istirahat sudah tak ada lagi, Khadijah. Jibril membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka beribadat hanya kepada Allah.”

Muhammad pun menyampaikan apa yang diwahyukan. Mengajak kepada para penyembah berhala untuk meninggalkan patung-patung tak berjiwa. Menyeru agar kaumnya bersujud kepada Allah yang Esa. Muhammad mengajak agar mereka mau melihat ciptaan Tuhan di langit dan bumi. Berbuat baik kepada anak-anak yatim dan piatu. Membela orang-orang lemah.

Hanya, dakwah di masa awal kerasulan begitu berat. Haikal menulis, “Jiwa yang sudah begitu kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu. Di tempat itu mereka berdagang dan membuat Makkah menjadi pusat kunjungan penyembah berhala!”

Di saat-saat berat seperti itu, wahyu yang dinantikan  tak juga turun. Padahal, Muhammad mengharap adanya penyuluh yang akan menerangi jalannya. Jibril tak juga datang. Dia pun menjadi sunyi dan bisu. Tidak datangnya wahyu membuat Muhammad  menjadi objek ejekan orang-orang musyrik bahwa Tuhan sudah meninggalkannya.

Dia pun merasa ketakutan.  Tak kurang, Khadijah pun merasa ikut cemas akan kekhawatiran suaminya. Perasaan ini mendorong Muhammad untuk kembali pergi ke bukit-bukit dan menyendiri dalam gua. Dia  kembali masuk ke Gua Hira untuk merenung kembali. Sama seperti saat Muhammad ‘dipaksa’ Jibril untuk membaca.

Di saat kekhawatiran itu. Wahyu yang tertunda akhirnya kembali datang. Jibril menghampiri seraya mengabarkan kalam Ilahi.

“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalahan); dan demi malam apabila telah sunyi; Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad); dan tidak (pula) membencimu;dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan; Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas;Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu);Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[10], lalu Dia memberikan petunjuk.Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan;Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang;Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik(nya); Dan terhadap nikmat Tuhanmu;, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)”

Lewat Ad Dhuha (QS 93), Allah SWT menegaskan kepada Rasul-Nya. Dia tak akan meninggalkannya. Tidak pula membencinya. Adanya wahyu itu pun kontan membuat Muhammad gembira. Ibnu Katsir pun berkata, “Dianjurkan bertakbir dari akhir surah Adh Dhuha sampai akhir surah An Naas.”

Para ahli qiraa’at menyebutkan, bahwa  alasan mengucapkan takbir dari awal surah Adh Dhuha, yaitu bahwa ketika wahyu terlambat turun kepada Rasulullah  dan terputus selama waktu, kemudian malaikat datang dan menyampaikan wahyu kepadanya. Rasulullah pun takbir karena bergembira. (Sumber: republika.co.id)