DMI.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) telah merancang Masjid Tahan Gempa dengan arsitektur budaya khas suku Sasak di Lombok. Kearifan lokal ini tetap dipertahankan dalam arsitektur masjid pasca musibah gempa bumi di Lombok.

Kegiatan ini berlangsung dalam Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/ FGD) pada Kamis (30/8) di Kantor DMI Pusat, Jakarta. Acara ini mengangkat tema Arsitektur Bangunan Masjid Tahan Gempa.

Terdapat dua narasumber dalam acara ini, yakni Ketua Tim Penulis Buku Perancangan Arsitektur Masjid Indonesia, Ir. Suparwoko, M.U.R.P., Ph.D., dan Ir. Wim Kadaryoni dari PT. GIGA Steel. Keduanya juga menjadi pengurus IAI Pusat.

Kedua narasumber mengusulkan empat karakteristik rancang bangun masjid  khas suku Sasak, yakni:

Pertama, Masjid dibangun dengan konstruksi utama baja ringan. Kedua, fondasi batu kali setempat berukuran 1 meter x 1  meter dengan dukungan sloof 20 x 25 Cm. Ketiga, atap masjid terdiri dari jerami, genteng, metal roof, strap, atau bahan lain yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Keempat, dinding masjid terdiri dari gedeg, bambu billah, atau sesuai dengan aspirasi masyarakat.

“Konstruksi utama masjid dapat dibangun dengan waktu satu bulan dengan biaya struktur utama baja ringan sebesar 190 juta rupiah,” tutur Suparwoko pada Kamis (30/8).

Menurutnya, masjid dengan arsitektur khas budaya Sasak termasuk ke dalam kategori masjid lingkungan dengan ukuran 12 x 12 meter, memiliki ruang jamaah untuk putra, putri, dan dilengkapi dengan mihrabmimbar, serta tempat wudhu untuk laki-laki dan perempuan.

“Pembangunan dengan ciri kearifan lokal ini dikhususkan untuk bangunan masjid yang rusak berat. Masjid seperti ini juga harus memenuhi tiga syarat, yakni struktur kolom balok yang kokoh dan lentur, terdiri dari material bambu, jerami, dan kayu, serta memiliki sistem knock-down,” paparnya.

Wim Kadaryoni juga mengutip pendapat dari Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya, Bambang Isnawan, dalam koran Kompas (28/8). Hal ini terkait tiga rekomendasi untuk penanganan gempa di Lombok, yakni:

Pertama, menggunakan pendekatan rekonstruksi berdasarkan sistem Rumah Tradisional Sasak yang memiliki nilai sistem struktur tahan gempa, estetika, material kayu tahan gempa, dan bahan material lokal berwawasan lingkungan.

Kedua, rekonstruksi dengan pendekatan rumah panggung tipe kecil, konstruksi kayu berkualitas baik, dan memiliki material bambu, dan jerami.

Ketiga, rekonstruksi dengan sistem bangunan re-fabrikasi RISHA atau Rumah Instan Sederhana Sehat – Tahan Gempa. Sistem ini  merupakan hasil inovasi dari kemeterian Perumahan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR).

Menurut Menteri PU-PR RI, Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., Ph.D.,  saat ini terdapat 36.000 Rumah Rusak Berat (RRB) akibat musibah gempa bumi di Lombok, seperti dikutip dari Kompas, (20/8).

“Selama masa recovery (pemulihan) gempa Lombok, terdapat delapan kebutuhan jangka pendek selama 1-4 bulan ke depan terhitung sejak 5 Agustus 2018, yakni: 1. Suplai air bersih, 2. penamoungan air bersih, 3. Jaringan air ke permukiman/ pengungsian, 4. Rumah sementara sehat, 5. toilet, 6. pengganti sekolah sementara, 7. musholla, dan 8. puskesmas darat,” ungkapnya.

Sedangkan menurut kedua narasumber, terdapat lima hal yang harus dilakukan untuk mendirikan rancang bangun masjid tahan gempa dengan arsitektur khas suku Sasak, yakni:

  • Pertama, perlu mendirikan posko untuk konsultasi proses rekonstruksi gempa di Lombok.
  • Kedua, Posko menyediakan alternatif paket rekonstruksi bangunan masjid tahan gempa.
  • Ketiga, Rekonstruksi masjid tahan gempa dilaksanakan oleh fabrikasi sesuai dengan bahan yang dikirim, dimana pelaksanaan dilakukan bersama masyarakat.
  • Keempat, Sebelum pelaksanaan rekonstruksi, masyarakat diberi pelatihan teknik pembuatan bangunan masjid tahan gempa dengan konstruksi utama baja ringan.
  • Kelima, peserta diberi surat keterangan mengikuti pelatihan knstruksi baja ringan.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani