DMI.OR.ID, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas insiden jatuhnya crane di area pembangunan Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah, pada Jum’at (11/9) petang, Pukul 17.30 waktu setempat, akibat badai dan hujan deras.

Akibat musibah itu, telah wafat ratusan dluyufur rahman, para tamu Allah SWT, termasuk dua orang asal Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji, Innalillahi wa innalillahi rooji’un.

Rais A’am Syuriah PBNU, DR. KH. Ma’ruf Amin, yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menyatakan hal itu pada Sabtu (12/9), dalam rilisnya yang diterima DMI.OR.ID pada Sabtu (12/9) pagi.

“PBNU bertakziyah untuk para korban, senantiasa berdo’a semoga mereka termasuk dlam syuhada yang menjadi ahli jannah; keluarganya diberikan kekuatan, keikhasan, dan ketegaran untuk menerima ujian ini dengan senantiasa mengingat bahwa Sesungguhnya kita ini milik Allah SWT dan kepada-Nya kita semua akan kembali,” tutur Kiai Ma’ruf pada Sabtu (12/9) pagi.

Musibah ini, lanjutnya, juga sebagai modal penting untuk mengingatkan kita terhadap kematian sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amal kebajikan, baik yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal.

“Kepada seluruh ummat Islam, khususnya warga Nahdliyin, agar melakukan sholat ghaib di masjid-masjid dan musholla. Sholat jenazah hukumnya fardlu kifayah, yang diwajibkan kepada seluruh ummat Islam dengan prinsip keterwakilan. Sedangkan sholat ghaib hukumnya sah sebagaimana sholat jenazah,” papar Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, sholat Ghaib ditujukan untuk seluruh dluyufur rahman yang wafat di tanah suci karena musibah jatuhnya crane proyek pembangunan (perluasan) area Masjidil Haram, Makkah, Saudi Arabia.

Adapun tata cara sholat ghaib, jelasnya, sama dengan sholat jenazah, dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud. Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), lalu membaca surat al-Fatihah, lalu takbir kedua dilanjutkan dengan membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW, kemudian mendo’akan mayit setelah takbir ketiga.

“Setelah takbir ketiga, lalu membaca اللَّهُمَّ اغْفِرْ له  وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه  (Allahumaghfirlahum, Warhamhum, wa’afihim wa’fuanhum), dan terakhir membaca do’a diakhiri dengan salam,” jelasnya.

Kiai Ma’ruf pun mengimbau kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, lembaga-lembaga di lingkungan Nahdliyin, para pengurus musholla dan masjid untuk mengajak seluruh jama’ah melakukan sholat ghaib, tahlil dan istighotsah sembari meminta pertolongan dari Allah SWT agar para hujjaj yang wafat diampuni oleh Allah SWT.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani