DMINEWS, JAKARTA — Berbagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam memiliki harapan beragam terhadap pelaksanaan Kongres ummat Islam Indonesia (KUII) VI pada Ahad (8/2) hingga Rabu (11/2) di Yogyakarta.

Seperti dikuti dari laman www.mui.or.id, Sekretaris Dewan Pertimbangan (DP) Pengurus Pusat (PP) Al Wasliyah, Drs. H. Ahmad Hamim Azizi, MA, berharap agar Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) dapat memposisikan kembali (reposisi) ummat Islam.

“Dalam sejarahnya, Umat Islam sangat menentukan dalam membangun negara ini. Peran ummat Islam sangat besar bagi Indonesia, saat itu ada partai Masyumi,” tutur Ahmad Hamim pada 11 Desember 2014 lalu.

Namun, lanjutnya, setelah Partai Masyumi memiliki banyak pengaruh, ternyata perebutan kedudukan membuat politisi Islam terpecah belah. Apalagi, di kalangan Ormas Islam masih tidak satu visi, termasuk masalah-masalah khilafiah.

Hamim pun berharap masalah ‘khilafiah’ diantara ormas-ormas Islam tidak perlu diperbesar dalam KUII VI nanti, sehingga ummat Islam bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Sementara perwakilan Persatuan Tarbiyah Indonesia (PERTI), Surya Nurul Huda, berharap agar KUII VI dapat membuat rekomendasi yang membangun moral bangsa Indonesia.

“Saat ini, budaya dan akhlak kita sudah rusak karena perdagangan bebas. Sedangkan di bidang penegakan hukum, hendaknya bisa dilakukan dengan cara damai,” paparnya.

Misalnya ketika ada konflik atau pembunuhan, sebaiknya dicari pola perdamaian terlebih dahulu sebelum ada vonis dari hakim. Jangan sampai saat pelaku kriminal dihukum, ketika keluar dari penjara justru berbuat pembunuhan lagi.

“Alternatif lainnya, pelaku kriminal itu mendapat balasan setimpal dari korban karena tidak ada pendekatan perdamaian,” ungkap Hamim.

Ada pun perwakilan dari Perempuan Sarekat Islam (SI), Ely Zanibar Madjid, mengusulkan agar KUII menaruh perhatian pada isu perempuan dengan mengikuti agenda pemberdayaan perempuan dan anak di Kementerian PPA dan Konvensi PBB.

“Bagaimana perihal perlindungan perempuan dan anak menurut Islam bisa dipaparkan dalam kongres itu. Jadi, pendekatan Islam dalam pendidikan yang mengedepankan pendidikan karakter bisa ditawarkan,” papar Ely.

Ely pun berharap penyelenggaraan KUII VI ini dapat memperkuat paradigma dan menyatukan persepsi demi kemajuan umat Islam dalam mengawal kedaulatan Pancasila, NKRI dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Sementara panitia penyelenggara KUII VI ingin memperkuat kontribusi umat Islam Indonesia dalam program kesejahteraan rakyat. Pada saatnya, program ini akan menjadi suatu rumusan kerja keumatan yang strategis.

Panitia, ungkapnya, juga berharap KUII VI mampu memperkuat kebersamaan, keadilan, kesejahteraan dan identitas umat Islam dalam mengawal Pancasila.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani