DMI.OR.ID, JAKARTA – Sebagai umat mayoritas di negeri ini (kurang lebih 87 persen atau sekitar 220 juta), umat Islam menjadi pihak terpenting bagi kemajuan bangsa dan negara. Sebaliknya, jika bangsa ini terjerumus pada kemunduran dan ketertinggalan, umat Islam juga menjadi pihak paling terkena dampaknya.

Demikian diungkapkan Waketum Dewan Masjid Indonesia (DMI), KH Masdar Farid Mas’udi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan workshop kerjasama antara DMI dan Baitulmaal Muamalat (BMM), di Jakarta, Sabtu (29/8).

“Kita memang mayoritas, karena itu, apapaun yang terjadi di negeri ini, umat Islam juga jadi pihak paling terkena dampaknya. Baik kemajuan maupun kemunduran, tetap umat Islam paling kena,” ujar Kyai Masdar.

Menurutnya, umat Islam yang mayoritas tersebut harus mampu dan memberikan perhatian lebih kepada kehidupan dunia, terutama bidang perekonomian. Karena itu, lanjut Masdar, bidang yang sangat tertinggal dalam ekonomi, maka kemiskinan di negeri ini yang paling banyak terkena adalah umat Islam.

“Doktrin kita itu jelas, setiap hari kita mengucapkan doa ‘robbanaa aatina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina azaaban naar’ (Ya Tuhan kami, berikan kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab neraka),” papar Masdar.

Dalam pandangan rais Syuriah PBNU tersebut, umat Islam diminta untuk memberikan perhatian lebih pada kehidupan dunia, baru kehidupan akhirat. Selama ini, lanjut dia, perhatian lebih ditujukan pada kehidupan akhirat.

“Yang ideal adalah skala prioritas berimbang, antara kehidupan dunia dan akhirat. Lihatlah masjid, ada dua bagian, sisi dalam dan luar, yakni serambi. Artinya, sisi dalam kita tafsirkan kepentingan kehidupan akhirat, sementara sisi serambi kehidupan dunia,” jelasnya.

Masdar yang juga anggota Baznas baru mewanti, yang berbahaya adalah ketika akhirat digunakan atau dimanfaatkan untuk meraih dunia. Tapi, lanjut dia, jika dunia dimanfaatkan untuk kepentingan akhirat maka itu adalah kebaikan. (Hery S)