DMINEWS, JAKARTA — ‘Khittah’ (fungsi asal) masjid ialah sebagai pusat aktivitas ‘habluminAllah’ (hubungan seorang Muslim dengan Allah SWT) dan ‘habluminannas’ (hubungan seorang Muslim dengan sesama manusia).

Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si, menyatakan masjid berfungsi sebagai pusat aktivitas ‘habluminAllah’ dan ‘habluminannas’ bagi ummat Islam.

“Masjid adalah pusat segala kegiatan kebaikan ummat Islam. Jadi, bukan hanya untuk ibadah ‘mahdah’ (wajib) seperti sholat dan zakat,” tutur Kiai Masdar pada Sabtu (13/12) pagi.

Satu hal faktual di depan mata, lanjutnya, masjid merupakan tempat keberagamaan bagi ummat Islam secara ‘kaffah’ (menyeluruh), meliputi ‘habluminAllah’ dan ‘habluminannas’.

Waketum PP DMI itu menyatakannya saat memberikan sambutan dalam acara “Wisuda dan Pelantikan Badan Otonom Korps Muballigh-Muballighah Angkatan VI-VII PP DMI”.

Acara ini berlangsung di Kantor Kementerian Agama RI, Sabtu (13/12) pagi. Adapun Korps Muballighah ialah salah satu Badan Otonom PP DMI.

Menurut Kiai Masdar, belakangan ini banyak sekali masjid yang hanya tinggal ruang dalamnya saja. Pasalnya, banyak sekali ruang serambi masjid yang sudah dipotong (dihilangkan).

Padahal, lanjutnya, ruang serambi masjid seharusnya digunakan untuk aktivitas ‘habluminannas’ dari, oleh dan untuk komunitas masjid.

“Kondisi ini menandai pergeseran fungsi masjid yang tidak boleh terjadi. Telah terjadi ‘disfungsionalisasi’ (kehilangan fungsi) masjid akibat ketiadaan serambi masjid,” paparnya.

Akibatnya, masjid hanya memiliki dimensi ‘habluminAllah’ saja, sedangkan dimensi habluminannas mengalami penyusutan, bahkan kebangkrutan.

Kalau melihat rumah ibadah agama lain, gereja misalnya, ungkap Masdar, itu hanya terdiri dari satu ruang saja. Bahkan usai kebaktian, gereja selalu ditutup rapat dan dikunci.

Padahal, acara kebaktian rata-rata hanya berlangsung sepekan sekali. Jadi, kegiatan di gereja rata-rata hanya berlangsung sepekan sekali, saat ada acara kebaktian saja.

“Hal ini berbeda dengan Masjid yang lazimnya terdiri dari dua ruang. Ruang bagian dalam untuk aktivitas ‘hablumniAllah’, sedangkan ruang bagian depan atau serambi merupakan tempat terbuka,” jelas Kiai Masdar.

Arsitektur aslinya, paparnya, Masjid memilii serambi terbuka. Jadi, kalau ada serambi masjid yang tertutup, itu jelas penyimpangan fungsi masjid. “Tempat terbuka serambi masjid itu hakikatnya balai ummat. Ini berbeda dengan tempat ibadah agama lain,” jelasnya.

Dalam doktrin agama Islam, paparnya, syari’at memiliki dua dimensi relasi yang tidak dapat dipisahkan, yakni ‘hablumniAllah’ dan ‘habluminannas’.

Di masa Rasulullah Muhammad SAW, lanjut Kiai Masdar, serambi masjid menjadi istana beliau. Nabi Muhammad SAW tidak mempunyai kantor kepresidenan sendir.

“Jadi, seluruh kegiatan politik, ekonomi dan militer negeri Madinah seluruhnya diputuskan dan dimusyawarahkan Rasulullah SAW di serambi masjid Nabawi,” ungkap Kiai Masdar.

Menurutnya, saat ini ummat Islam didera kehinaan dan kemiskinan karena fungsi masjid sebagai pusat aktivitas ‘habluminannas’ ummat Islam mulai hilang, bahkan sudah tidak ada di beberapa masjid.

“Kejayaan dan kesuksesan ummat Islam tidak akan terjadi kecuali jika dapat menjaga dua relasi ‘habluminAllah’ dan ‘habluminannas’ secara bersamaan dan seimbang,” tegasnya.

Lazimnya, bagian di dalam masjid untuk aktivitas ‘habluminAllah’, sementara serambi bagian depan untuk aktivitas ‘habluminannas’. “Jangan lagi bagian serambi masjid digunakan hanya untuk tidur-tiduran orang yang malas,” ujarnya.

Akibat peran dan fungsi masjid dalam kegiatan ‘habluminannas’ menyusut dan tidak berjalan seimbang, jelasnya, maka ummat Islam didera dengan kekalahan dan kehinaan. “Mari kita makmurkan masjid dengan kegiatan ‘habluminannas’ dan ‘habluminAllah’ secara seimbang dan berkelanjutan,” jelasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani