DMI.OR.ID, JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, langsung bekerja dan selalu hadir pasca insiden pembakaran Masjid Baitul Muttaqin di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, pada Jum’at (17/7) pagi, saat Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriah baru saja dimulai.

Akibat insiden ini, jama’ah sholat Idul Fitri terpaksa membatalkan sholat dan mengungsi ke markas Koramil setempat, sebuah masjid dan 70 kios terbakar serta 10 orang terluka dan 1 orang tewas.

Juru Bicara Wapres Kalla, Husain Abdullah, menyatakan Wapres langsung bekerja dan bertindak cepat mengatasi konflik itu.

“Hal yang pasti, beberapa saat setelah peristiwa Tolikara Pak JK langsung bekerja untuk menyelesaikan masalah. Ketika sebagian orang nyinyir-mengumpat, Pak JK sudah melangkah jauh dari pada sibuk berpolemik dan berwacana,” tutur Husain pada Ahad (19/7), dalam rilisnya kepadaDMI.OR.ID.

Wapres Kalla, lanjutnya, telah mengkonsolidasikan semua komponen meskipun hal ini memang tidak mudah karena bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri.

“Tetapi seorang pemimpin memang tidak boleh mengenal lelah dan kenal waktu siang maupun malam. Harus  punya kepemimpinan yang kuat untuk memberi kenyamanan dan rasa aman kepada segenap rakyat,” jelasnya.

Menghadapi situasi seperti di Tolikara, paparnya, Wapres Kalla memiliki pengalaman panjang yang terpelihara, baik menyelesaikan pertikaian di dalam negeri maupun luar negeri.

Menurutnya, dalam  menanggapi setiap kasus kata demi kata Wapres Kalla selalu terukur dan mengandung manfaat. “Ia tidak menyampaikan sesuatu tanpa alasan, logika, informasi yang akurat dan ujuan yang maslahat bagi bangsa” tambahnya.

“Dalam tindakan dan perkataannya, Wapres Kalla juga selalu berusaha netral dan berimbang dalam menghadapi setiap konflik dengan latar belakang apapun, mengingat posisinya yang menempatkan diri sebagai juru damai,” ungkapnya.

Wapres Kalla, ujarnya, selalu mengajarkan bahwa hanya seseorang yang netral dan tidak memihaklah yang bisa diterima semua pihak.

Jadi, hanya seseorang yang bisa diterima semua pihaklah yang mampu berdiri tegak sebagai Juru Damai. “Sebagai seorang juru damai, JK selalu sadar bahwa apa yang Ia kerjakan pada tahapannya akan ada yang menuai kritik dan ada pula yang langsung diterima,” jelasnya.

“Namun apapun pilihannya,  Pak JK tidak pernah balik badan.  Ia memilih pasang badan dengan segala resikonya,” ungkapnya.

Husain pun meminta publik untuk memberi waktu bagi Wapres Kalla yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesua (DMI) itu. Pasalnya, pekerja keras seperti Wapres Kalla tidak banyak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.

“Berilah kesempatan, sembari memberinya dukungan moril untuk kedamaian bangsa kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin,” ucap Husain Abdullah di akhir rilisnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani