DMI.OR.ID, JAKARTA – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta telah menyelenggarakan Pembekalan Marbot Umroh Tahun 2017 pada Rabu (6/12) di Aula Serba Guna Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), Tugu, Koja, Jakarta Utara.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, kegiatan ini diikuti oleh 150 orang marbot Masjid se-DKI Jakarta yang telah lulus seleksi untuk berangkat umroh pada akhir tahun 2017. Pembekalan dipandu langsung oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) DMI DKI Jakarta, Ustaz H, Zulfajri, S.Pd.I, dan Wakil Ketua PW DMI DKI Jakarta, KH. Noor Syuaib Mundzir, S.H., M.A.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Dalam tausyiahnya, Kyai Noor Syuaib mengajak para marbot masjid yang akan berangkat umroh untuk memfokuskan diri dengan kegiatan ibadah selama berada di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah, dan Masjid Nabawi, Madinah al-Munawarah. “Manfaatkan waktu kita selama berada di Tanah Suci, yang hanya tujuh hari itu, semaksimal mungkin untuk beribadah,” tuturnya.

Jangan sampai, lanjutnya, kita tertinggal sholat berjama’ah di Masjidil Haram hanya karena sibuk berbelanja di pasar dan mall di sekitar Masjidil Haram. “Rugi sekali kalau sampai itu terjadi. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sholat di Masjidil Haram itu lebih utama daripada 100 ribu sholat di masjid-masjid lainnya,” ujarnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Kyai Noor juga mengajak para hadirin untuk selalu memperhatikan kesehatan jasmani saat sedang beribadah umrah di Tanah Suci Makkah dan Madinah. “Kesehatan fisik penting sekali dalam ibadah umrah karena ini ibadah fisik. Kita terus bergerak saat tawaf dan sa’i, apalagi tidak diperbolehkan adanya orang pengganti (badal) dalam umroh seperti saat ibadah haji,” ucapnya.

Menurutnya, jama’ah umroh juga harus disiplin dan mematuhi semua peraturan yang berlaku di Saudi Arabia, serta selalu bersama-sama dalam aktifitas ibadah. Hal ini penting agar pembimbing dan ketua kelompok mengetahui keberadaan setiap anggota jama’ah kelompoknya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

“Jangan sampai ada jama’ah umroh yang terpisah dari kelompoknya. Kalau ada yang mau ke kamar kecil, harus selalu izin kepada ketua kelompok. Khawatir nanti terpisah dari kelompok, dan tersesat di Masjidil Haram karena tidak tahu lokasinya,” jelasnya.

Sedangkan Ustaz Zulfajri menyatakan bahwa seluruh biaya marbot masjid yang menjadi jama’ah umroh telah ditanggung akomodasi dan konsumsinya selama berada di Tanah Suci. Dananya berasal dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Anggaran APBD itu dikelola oleh PW DMI DKI Jakarta untuk para marbot peserta umroh, termasuk proses pembuatan passport, biaya cek kesehatan, serta akomodasi dan konsumsi saat beribadah umroh di Makkah dan Madinah,” ungkapnya saat diwawancarai DMI.OR.ID pada Kamis (6/12) siang di Masjid Raya JIC, Jakarta.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Para jama’ah,umroh, lanjutnya, juga masing-masing mendapat uang saku sebear Rp 2,5 juta sebagai bekal selama berada di Tanah Suci. “Semoga bekal ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,” imbaunya.

Usai acara pembekalan, para marbot masjid secara serentak menunaikan ibadah sholat Dzuhur berjama’ah di Masjid Raya JIC, kemudian mendengarkan ceramah agama selama 15 menit, lalu makan siang bersama-sama.

Penulis: Muhamad Ibrahim Hamdani