DMINEWS, JAKARTA – Banda Aceh deklarasikan diri menjadi tempat tujuan (destinasi) wisata Islam di dunia pada Rabu (1/4). Pasalnya, Provinsi Aceh memiliki sejarah panjang dalam penegakan syariah Islam.

Seperti dikutip http://poskotanews.com, Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, yakin tempat-tempat pariwisata di Banda Aceh akan laku dengan ‘positioning’ Banda Aceh sebagai kota wisata Islami dunia.

“Sektor agama dan budaya Aceh memiliki koneksi kuat untuk dijual sebagai wisata. Kondisinya Sama seperti Bali dengan filosofi kekuatan ajaran agama, budaya dan pariwisata yang bersatu,” tutur Arief pada Rabu (1/4).

Menurutnya, pariwisata Aceh memiliki daya tarik yang kuat dengan produk wisata alam serta proses ajaran kebudayaan religi dengan syariat islamnya.

Arief menyatakan hal itu dalam peluncuran “Pariwisata Banda Aceh sebagai World Islamic Tourism” di Balairung Susilo Soedarman, kantor Kementrian Pariwisata, Jakarta.

Kementerian Pariwisata pun berjanji akan membantu promosi destinasi wisata Banda Aceh melalui ‘branding’ (pengenalan) Banda Aceh sebagai kota wisata Islami dunia.

Arief pun berjanji akan lebih mengangkat beberapa ‘event’ (atraksi) wisata yang ada di Banda Aceh. Kemenpar juga akan mengupayakan penjualan destinasi wisata melalui pameran dan pemberian diskon harga.

“Hal ini penting untuk mengangkat minat wisatawan nusantara dan mancanegara. Apalagi, letak kota Banda Aceh sangat strategis sebagai pintu masuk di Selat Malaka,” ungkap Arief.

Posisi strategis Kota Banda Aceh ini membuat Pemerintah Kota bekerjasama dengan Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia untuk menjadikan Banda Aceh sebagai Pusat Wisata Islami Dunia.

Apalagi di Banda Aceh terdapat berbagai objek wisata religi, tsunami, heritage dan adat istiadat yang kaya,

“Aceh juga menjadi salah satu kota tujuan wisata nusantara dan mancanegara. Sebagai buktinya, Kemenpar akan bantu promosi sebesar Rp10 miliar,” jelas Arief.

Sementara Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyatakan Banda Aceh memiliki visi sebagai kota madani di Indonesia dan merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang diberi amanat syariat Islam.

“Tsunami sepuluh tahun lalu telah menggugah berbagai negara di seluruh dunia untuk bergandengan tangan dalam membantu merehablilitasi dan merekonstruksi pembangunan kembali Aceh,” jelas Illiza.

Bahkan, lanjutnya, Masjid Raya Baiturrahman sebagai ‘landmark’ (ikon) Banda Aceh pun tahun ini akan dibangun layaknya masjid seperti di Mekkah, dengan membangun kanopy hidrolik seperti masjid di Mekkah.

“Banda Aceh sudah siap sebagai kota wisata Islami yang didukung dengan penerapan konsep ‘smart city’ saat ini. Pasalnya, keberadaan wifi terdapat di seluruh kota Banda Aceh mulai hotel, sekolah, masjid, hingga warung kopi,” ungkapnya.

Hal ini, paparnya, berarti masyarakat kota Banda Aceh telah peduli dan sadar dengan wisata dan kebutuhannya. Illiza pun yakin Banda Aceh memiliki potensi untuk memudahkan pemerintah pusat membangun wisatanya.

Illiza pun berpesan agar pemerintah membantu menghilangkan stigma terkait aturan yang menyulitkan wisatawan saat berkunjung ke Aceh.

Promosi ini, jelasnya, juga melibatkan kerjasama dengan Pasific Asosiation Travel Asia (PATA).

Ementara President/CEO PATA Indonesia, Chapter Poernomo Siswoprasetijo, turut menyampaikan deklarasi menjadikan wisata Banda Aceh sebagai pusat wisata Islami dunia.

PATA Indonesia tertarik mempromosikan kota Banda Aceh sebagai ikon kota Islamic dunia karena kekayaan budaya, sumberdaya manusia dan syariat Islamnya yang telah didengungkan warga Aceh.

“Kami melihatnya sebagai ‘branding’ yang bisa diangkat oleh PATA sebagai destinasi wisata Islami dunia,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Keterangan Foto: Menpar, Arief Yahya, didampingi Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dan President/CEO PATA Indonesia, Chapter Poernomo Siswoprasetijo.