Saat masih kecil, saya sering mendapat motivasi untuk terus menuntut ilmu: “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri China,” begitu kutipan hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) agar selalu menuntut ilmu. Meskipun tak berarti merendahkan atau mengunggulkan negeri China.

Walhamdulillah saya diberi kesempatan berkunjung ke beberapa kota di China. Diantara yang bisa dipotret adalah umat Muslim di China. Hari pertama mendarat di Bandara Beijing, saya langsung berkunjung ke kantor Asosiasi Muslim China (China Moslem Association / CIA) yang terletak di daerah Niujie. Niujie merupakan kawasan mayoritas berpenduduk Muslim. Semua industri dan barang yang dijual di sekitar kawasan itu juga halal.

Di China, terdapat 700 asosiasi. Salah satu diantaranya ialah CIA. Abdul Hakim Ma Jie, perwakilan organisasi resmi warga Muslim China, menjelaskan bahwa umat Muslim hidup menyebar di setiap wilayah di Cina.

Umat Islam umumnya tinggal di daerah-daerah yang berbatasan dengan Asia Tengah, Tibet dan Mongolia. Konsentrasi tertinggi ditemukan di barat laut Provinsi Xinjiang, Gansu dan Ningxi. Populasi signifikan juga ditemukan di seluruh Yunnan, provinsi di barat daya China, dan Henan, provinsi di central (tengah) China.

Jumlah umat Muslim di China mencapai sekitar 23 juta Mereka dibimbing oleh 53 ribu imam yang tersebar di 39 ribu masjid. Imam-imam masjid itu pun mendapat pembinaan dan diangkat secara resmi oleh CIA. Adapun Perbedaan pemahaman agama antar sesama Muslim tidak mengemuka karena semua dibawah bimbingan CIA.

Namun terkadang muncul perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain dalam mengawali dan mengakhiri bulan Ramadhan. Sedangkan cara menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri ialah menggunakan kombinasi antara hisab (perhitungan) dan rukyah (penglihatan) sekaligus melihat rukyah hilal di daerah terdekat. Sedangkan Fiqih yang dianut adalah Mazhab Hanafi.

Umat muslim China pun banyak yang memberikan pengajaran ilmu dan bimbingan masyarakat melalui pesantren dan madrasah. Ada 10 pesantren di seluruh Cina.

Disamping itu, masjid juga berfungsi sebagai tempat pembinaan masyarakat dan keluarga. Banyak halaqah (kalau di Indonesia seperti majelis ta’lim) dengan jumlah peserta terbatas yang dilaksanakan di masjid seusai pelaksanaan shalat rawatib, khususnya ba’da shalat maghrib dan seusai shalat subuh.

Masyarakat muslim di China difasilitasi oleh negara. Selain diberi anggaran untuk pembinaan, umnat juga diberikan kebutuhan tempat ibadah lengkap dengan lahan dan anggarannya oleh pemerintah.

Pembangunan Masjid juga disiapkan tanahnya oleh negara dan sebagian anggarannya. Sedangkan Imam-imam yang membina masyarakat telah diberikan anggaran oleh pemerintahp di samping juga swadaya masyarakat. Umat Islam dipenuhi hak-haknya dalam menjalankan kewajiban agama dan fasilitas pengembangan dakwahnya.

Dalam ilmu penelitian, asumsi itu perlu diobservasi lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya di lapangan. Muslim di China mendapat kebebasan menjalankan agama dan pembinaan dari pemerintah. Kita perlu belajar dari realltas Muslim di Cina dan sekaligus dapat membantu saudara-saudara yang hidup sebagai minoritas.

Ummat Islam di Indonesia perlu menyebarkan dakwah Islam wasathiyyah (moderat) ke China. Ada kemiripan tradisi pendidikan antara Indonesia dan China, khususnya pendidikan berasrama seperti pesantren. Kita Perlu membantu pendidikan dan penyebaran dakwah ke China.

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dapat memfasilitasi generasi Muslim China yang hendak belajar di Indonesia serta mengirim guru dan da’i ke China. Dengan begitu, akan terjadi saling memahami kebudayaan dan keberagamaan yang konstruktif antar kedua bangsa.

Hal semacam ini kerap dikatakan oleh Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, bahwa bersilaturrahim dan dialog antar muslim dapat membangun sinergi bersama untuk mewujudkan perdamaian dan kemajuan, serta mencegah potensi konflik.

Penulis:

Ketua Komisi Dakwah dan Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat

KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D.

Editor:

Muhammad Ibrahim Hamdani