DMINEWS, JAKARTA – Buku merupakan sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga bagi manusia dan kemanusiaan, apalagi buku tentang dakwah dan syiar Islam di Indonesia. Karya-karya tentang dakwah dan syiar Islam terus dilahirkan melalui tangan dingin Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pengurus Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Ahmad Yani.

Buku yang ditulis oleh seorang muballigh kelahiran Betawi, 5 Oktober 1964 silam, ini berjudul Ceramah yang Lucu dan Menggugah. Buku ini berukuran 10,5 x 14,5 cm dan tebal 133 halaman serta berisi 100 contoh ceramah yang lucu dan menggugah.

Seperti dilansir dari laman http://ahmadyani.masjid.asia/, ceramah yang lucu adalah ceramah yang mengandung unsur humor sebagai selingan ditengah kejenuhan. Ibarat masakan, humor itu seperti bumbu yang harus disesuaikan dengan porsi masakan, jadi tidak boleh terlalu banyak.

Humor harus terkait dengan materi, tidak mengada-ada, tidak berdusta, dan tidak menghina diri, kampung sendiri atau orang lain, serta tidak berkesan porno dan tidak melanggar prinsip ajaran Islam.

Ceramah yang menggugah adalah ceramah yang disampaikan dengan penuh semangat dan penghayatan. Intonasi pun harus sesuai dengan isi pesan dan kalimat yang menyentuh hati serta mudah diterima oleh akal.

Salah satu ceramah yang cukup menarik dalam buku ini berjudul Saudara Sepersusuan. Berikut ini petikan ceramahnya:

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sesuatu yang sangat bagus bagi anak, jauh lebih bagus dari susu apapun yang diproduksi manusia. Karenanya, seorang ibu sangat dianjurkan untuk menyusui anaknya, bahkan Al Quran menyebutkan selama dua tahun.

Namun, sesudah melahirkan, tidak semua ibu memiliki air susu yang banyak, meskipun ia sangat ingin menyusui anaknya. Karenanya boleh saja ibu lain menyusui anaknya itu, namun harus jelas bahwa ia menyusui anak orang lain, hal ini karena anak orang lain yang disusui dengan anaknya sendiri menjadi saudara, yakni saudara sepersusuan, bila yang satu laki dan yang satu perempuan, kelak sesudah dewasa ia tidak boleh menikah.

Meskipun demikian, bila ada pemuda mau menikah dengan seorang gadis, ia tidak usah bertanya: “Neng dulu waktu masih bayi minum susunya apa neng?.”

Kata calon isterinya: “Kata Emak, susu saya SGM bang.” (maaf nyebut merk).

Lalu si pemuda terkejut dan menegaskan: “Wah, kalau begitu kita tidak jadi menikah neng, kata Emak saya, saya juga waktu kecil susunya SGM neng.”

“Kok begitu bang,” Kata calon isterinya.

Ia pun menjawab: “Karena kata ustadz dalam ceramahnya, seseorang tidak boleh menikah dengan saudara sepersusuan, kalau begini jadinya kan kita jadi saudara sepersusuan neng.”

“Bukan begitu maksudnya bang, tapi disusui oleh ibu yang sama dengan ASI, bukan susu kaleng.” Kata calon isterinya.

Adapun contoh ceramah yang menggugah berjudul:

Kebaktian Jumat

Orang Kristen rupanya ingin punya hari seperti Jumat untuk ibadat. Karenanya di Gereja Jl. Wahid Hasyim Jakarta Pusat dan di beberapa kantor di Jakarta, tiap Jumat jam 12-13 diadakan kebaktian Jumat.

Lalu, kenapa umat Islam ada yang tidak serius dalam ibadah Jumat?, padahal tidak sampai jam 13 sudah selesai. Buktinya: terlambat datang (baru datang saat khatib sudah naik mimbar), tertidur saat khutbah berlangsung, masih berponsel ria dan ngobrol saat khutbah, hingga tidak melaksanakan shalat ba’diyah Jumat (setelah salam langsung pergi).

 

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani