DMI.OR.ID., Pekanbaru — Tak seperti biasa, kunjungan kerja Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di Pekanbaru, Riau, Jumat pekan lalu (3/3) diselingi dengan kegiatan ‘ceramah’ agama.

Hari itu, Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian, Phd, memang melakukan dua kegiatan utama di ibukota Riau, Pekanbaru.

Yang pertama pagi jelang siang, jenderal bintang empat ini memberikan Kuliah Umum di Universitas Islam Riau. Kuliah umum mengambil tema “Dampak Globalisasi terhadap Keamanan dan Kedaulatan Kebangsaan.”

Di hadapan sekitar 1500 mahasiswa dari 132 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara itu, Kapolri dengan penuh semangat membakar energi mahasiswa untuk disalurkan kepada kegiatan-kegiatan yang positif.

“Adik-adik adalah masa depan bangsa. Kalian semua yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa ini. Untuk itu, manfaatkan semaksimal mungkin energi kalian untuk berkarya dan hal-hal yang positif,” seru Tito.

Seluruh hadirin, termasuk para pejabat utama Mabes Polri yang hadir, dengan seksama mengikuti dan menyimak paparan mantan Kadensus 88 tersebut. Catatan power point Kapolri yang ilmiah dan akademis, menjadi wawasan baru terutama bagi adik-adik mahasiswa.

Orasi ilmiah selama hampir dua jam itu pun diakhiri dengan sesi dialog Kapolri dan mahasiswa dan ditutup dengan pemberian kuis ringan oleh Mantan Kapolda Metro Jaya tersebut kepada mahasiswa. Mahasiswa yg beruntung menjawab benar, dapat hadiah HP baru dari Kapolri.

Sebelum melanjutkan agenda kedua, yakni kegiatan peluncuran pelayanan berbasis online Polda Riau, Kapolri dan rombongan melakukan Shalat Jumat di Masjid Agung Annur, Pekanbaru. Masjid berkapasitas kurang lebih 3000 jamaah tersebut, terletak di pusat kota Pekanbaru, berdekatan dengan kantor Gubernuran.

Berada di barisan shof paling depan, Kapolri yang didampingi antara lain Kabaharkam Polri Komjen Putut Eko Bayuseno, As SDM Polri Irjen Arif Sulistiyanto, Asrena Polri Irjen Bambang Sunar Wibowo, Aslog Polri Irjen Eko Hadi, dan Kapolda Riau Irjen Zulkarnaen serta Gubernur Riau, menyimak dengan seksama khotbah khatib yang mengambil tema tentang pemanfaatan dan pemberdayaan zakat untuk kesejahteraan umat.

Ada hal yang menarik dan tidak biasa, yakni usai ibadah Shalat Jumat, pengurus Masjid Agung mendaulat Kapolri Tito untuk memberikan “Kultum” alias kuliah tujuh menit.

Ceramah kurang lebih sepuluh menit oleh mantan Kepala BNPT itu menarik para jamaah, sehingga banyak jamaah yang mengikuti ceramah Kapolri.

Dalam ceramahnya, dua hal penting ditekankan oleh Mantan Kapolda Papua tersebut. Pertama, pentingnya membangun Kamtibmas oleh segenap lapisan masyarakat, termasuk kalangan masjid.

“Masjid ini penting, punya banyak fungsi dan peran. Di masa Rasulullah, semua kegiatan kemasyarakatan dipusatkan di masjid, termasuk pemerintahan. Masjid juga menjadi tempat menciptakan keamanan dan ketertiban. Untuk itulah, mari kita ciptakan Kamtibmas dari masjid ini,” papar Jenderal Tito.

Menurut Tito, suatu bangsa tidak akan bisa membangun dengan baik jika tidak tercipta stabilitas keamanan dan ketertiban. Untuk itu, lanjut dia, mewujudkan keamanan dan ketertiban menjadi tanggung jawab setiap warga bangsa dan itu juga bernilai ibadah.

Kedua, yang menjadi penekanan Kapolri Tito adalah bagaimana mewujudkan kerukunan kehidupan yang beragama etnis, suku dan agama. NKRI ini, tegas Tito, tegak karena seluruh elemen dan warga bangsa menjunjung dan memelihara keberagaman.

“Kalau boleh saya katakan, bangsa ini beragam, itu adalah fakta dan takdir. Jadi harus kita syukuri dengan cara memelihara dan merawat keragaman untuk tegak dan keberlangsungan NKRI,” tegas Tito.

Pria yang hobi diving dan renang itu lantas menyitir isi Piagam Madinah, atau yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai Shahifah Al-Madinah.

Rasulullah, papar Tito, mendirikan dan menegakkan kota Madinah di atas asas-asas kemanusiaan, pluralisme dan keragaman, sehingga terbentuknya suatu masyarakat yang plural namun damai.

“Piagam Madinah ini sangat penting dan dahsyat. Landasan konstitusional pertama di dunia bagaimana membangun suatu bangsa dan masyarakat yang plural, saling menghargai antar pemeluk agama dan keyakinan, menjunjung pluralitas dan HAM, serta sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan gotong-royong. Ini sangat indah dan monumental,” jelas Tito.

Semua sisi kehidupan, lanjut pria yang menguasai beberap bahasa asing tersebut, diurai dan diatur sedemikian rupa dalam Piagam Madinah. Kaum Yahudi, Nasrani, dan Muslimin saling bahu membahu menghadapi musuh dan kejahatan serta kezaliman.

“Bagi saya, ini adalah pelajaran penting dan berharga dari Rasulullah, bagaimana membangun suatu harmoni, kesejahteraan dan kebahagiaan di atas keragaman. Tidak boleh ada paksaan, radikalisme dalam beragama dan kehidupan serta teror apapun bentuknya. Kita harus merawat NKRI di atas nilai-nilai kebhinnekaan dan persatuan,” papar pakar terorisme lulusan NTU, Singapura tersebut.

Di akhir ceramahnya, sang da’i jenderal polisi itu menyerahkan bantuan kepada pengurus masjid. Bantuan berupa sejumlah uang tunai, 200 buah Alquran, dan sajadah panjang.

Penulis: Hery Sucipto.