Sehabis subuh hari ini, Sabtu (8/8), saya dan isteri jalan kaki ke Pasar Kebayoran Lama, sekitar dua kilometer, biasa olah raga sekalian belanja dapur. Dari pasar, lalu naik angkot ke Pondok Pinang mengunjungi enyak (ibu) yang kurang sehat. Dari Pondok Pinang, pulang naik angkot ke Pasar Kebayoran Lama.

Saat baru duduk di bangku paling belakang, terdengar jelas pembicaraan sopir angkot kepada seorang ibu yang duduk di sebelahnya. Obrolannya sarat dengan pesan dakwah, saya tidak tahu apa masalah yang menjadi tema pembicaraannya.

“Hidup ini harus kita syukuri, bagaimanapun keadaan kita. Kalau tidak, jadi tidak enak hidup ini meskipun berada di tempat yang enak. Saya susah, tapi ada banyak yang lebih susah. Orang yang lebih susah ada lagi yang lebih susah, begitu seterusnya. Kemarin ada berita di TV orang lompat dari apartemen, apa tidak enak tinggal di apartemen?.”

Sepanjang jalan sampe Pasar Kebayoran Lama, ia terus saja berdialog dengan si ibu itu. Pelajaran dari dakwah sopir angkot ini saya sampaikan kepada anda dan saya pun turun, selanjutnya menikmati sop kambing rasa kacang H. Syahroni, masakan Khas Betawi di Pasar Kebayoran Lama. Tentang hal ini susah untuk saya ceritakan, karena rasa itu hanya bisa dirasakan.

Sebenarnya, makanan yang lebih enak ada di Pasar Kebayoran Lama Lantai 2, cuma lagi tutup, katanya ada pesanan diluar yang harus dilayani.

 

Penulis: Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP) Dewan  Masjid indonesia (DMI), Ustadz Drs. H. Ahmad Yani

Penulis buku: Jalan Hidup, CatĂ tan Dakwah Dari Pondok Pinang Hingga Amsterdam