Sumber: http://humas.jabarprov.go.id/

DMI.OR.ID, KOTA BEKASI – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, M.B.A., mengapresiasi positif kinerja Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dr. H. Mochamad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D., dan seluruh masyarakat Jabar dalam mengendalikan pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

Seperti dikutip dari laman https://www.pikiran-rakyat.com/, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Ke-10 dan Ke-12 itu menyatakan hal ini pada pada Sabtu (18/7) di Kota Bekasi, Provinsi Jabar. Tepatnya dalam Silaturahmi antara jajaran PP DMI, Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jabar dan Pimpinan Daerah (PD) DMI dari 27 Kabupaten/ Kota se-Jabar dengan Gubernur Jabar.

“Saya mengapresiasi gubernur Jabar dan seluruh masyarakat Jabar bahwa walaupun penduduknya banyak dan terbesar di Indonesia, tapi jumlah (penduduk) yang terkena COVID-19 tidak berbanding lurus dengan umlah penduduk,” tutur H. Muhammad Jusuf Kalla pada Sabtu (18/7).

Menurut Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat itu, langkah-langkah Dr. Mochamad Ridwan Kamil, selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar telah berhasil mengendalikan penularan virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) Corona Virus (CoV)-2 penyebab pandemi COVID-19.

“Daya rusak virus ini (SARS CoV-2) cepat dan tinggi sekali. Lima sampai enam persen yang terkena di seluruh dunia meninggal. Lihat saja daya penularannya. Maka penyelesaiannya, siapa yang lebih cepat maka itu yang akan berkurang,” papar Tokoh Perdamaian Dunia yang akrab disapa JK ini.

Karena itu, lanjutnya, ada tiga hal yang perlu kita lakukan untuk mencegah dan menyelesaikan pandemi COVID-19 secara cepat. “Pertama, dengan cara menghindari serangan COVID-19 melalui 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” ujarnya.

“Kedua, karena ini perang, jadi yang namanya perang itu mematikan atau dimatikan. Maka harus dilakukan penyemprotan (disinfektan) ini agar virus juga ngga kemana-mana. Kemudian, yang ketiga, adalah 3T, yaitu testing (uji), tracing (telusur), dan treatment (pengobatan),” jelasnya.

Pria kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 15 Mei 1942 silam itu pun berharap agar DMI dapat melakukan berbagai upaya edukasi terkait pencegahan pandemi COVID-19 kepada masyarakat, termasuk program sterilisasi di masjid-masjid.

“Dewan masjid memandang bahwa kita harus melaksanakan dua hal, yakni menghindari (penularan COVID-19) melalui mitigasi kepada jemaah agar menghindar, kemudian melawan dengan pembersihan masjid melalui disinfektan,” ungkapnya.

Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani