DMI.OR.ID, JAKARTA – Dewan Masjid Indonesia (DMI) merupakan suatu perangkat sosial sekaligus opportunity (kesempatan luas) bagi kita dalam upaya membangun negeri dan peradaban Islam Indonesia, dengan agenda pembangunan di bidang sosial dan ekonomi.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., menyatakan hal itu pada Selasa (29/3) pagi, saat memberikan materi sosialisasi tentang empat pilar Republik Indonesia (RI) di Gedung Nusantara V Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI.

Tepatnya, dalam acara bertajuk Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Dalam Rangka Pelantikan Pengurus Baru DMI Kota Jakarta Selatan. Keempat pilar itu ialah Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Masjid menjaai balai ummatdi tempat yang sangat strategis untuk tempat pertemuan intensif, meeting point, bagi ummat Islam. Kita sholat fardhu lima kali sehari di dalam masjid. Bahkan, masjid menjadi tempucapnyat pleno umat Islam setiap sholat Jumat, tempat berkumpulnya para pengambil keputuan. Ini adalah momentum yang sangat luar biasa strategis bagi ummat,” tutur Kiai Masdar pada Selasa (29/3) pagi.

Masjid, lanjutnya, juga ada di hampir setiap pedukuhan (unit terkecil dari desa), jumlahnya lebih banyak dari balai desa. Balai desa saja belum tentu sanggup menyelenggarakan pertemuan sebulan sekali.

“Tidak ada pertemuan intensif dalam konteks ummat Islam selain di masjid. Namun kalau kita merenung, pertemuan pleno ummat di masjid masih terbatas agenda ritual berupa ibadah mahdah, belum banyak menyentuh agenda sosial dan ekonomi ummat,” ungkap ulama yang juga anggota Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini.

Padahal, jelasnya, fisik masjid berbeda dengan bangunan rumah ibadah agama-agama lainnya. Di dalam masjid selalu ada ruang ibadah dan ruang serambi. Ruang serambi inilah yang harus dioptimalkan sebagai balai ummat sehingga fungsi masjid menjadi komprehensif (menyeluruh).

Menurutnya, peran dan fungsi masjid harus menyeluruh dan menyatukan antara hablumminAllah (hubungan manusia dengan Allah SWT). hablumminannas (hubungan antar sesama manusia). “Kalau perlu, di depan masjid itu ada pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi ummat, seperti di Masjidil Haram,” jelasnya.

Masjid, lanjutnya, harus menjadi basis kemajuan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Di sinilah letak strategis DMI. Meskipun DMI menjadi wadah berbagai mazhab dan aliran yang berbeda-beda, namun juga menjadi basis kemajuan ummat dan bangsa.

“Artinya, tanggung jawab kita (pengurus DMI) sangat beragam dan mulia sekali. Sangat penting untuk sesudah pelantikan ini kita melakukan rembug bersama guna melakukan program lebih konkrit untuk memajukan sumber daya ummat Islam dan bangsa Indonesia. Apalagi kita tinggal di ibu kota negara,” ungkap Kiai yang juga Rais Syuriah Pengurus Bear Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Kiai Masdar pun mengingatkan kepada lebih dari 250 pengurus DMI Kota Administrasi Jaksel dan perwakilan pengurus masjid se-kota Jaksel untuk tidak membiarkan masjid menjadi tempat penyebaram kebencian dan pengkafiran (paham takfiri) bagi sesama Muslim.

Dalam acara ini Ketua Pimpinan WIlayah (PW) DMI Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Drs. KH. Ma’mun Al-Ayyubi, secara langsung telah melantik PD DMI Kota Administrasi Jaksel.

Pelantikan ini juga disaksikan oleh Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A. Adapun Ketua PD DMI Kota Administrasi Jaksel ialah KH. Sanusi Haji Dahlan (HD), dengan Sekretaris Drs. H. Eddy KS.

Usai pelantikan, Wakil Ketua MPR RI, Ustaz Hidayat, bersama Waketum PP DMI, Kiai Masdar, secara bergantian memberikan materi sosialisasi empat pilar kepada lebih dari 200 peserta yang mewakili masjid-masjid dan PD DMI Kota Administrasi Jaksel.

Dalam kesempatan ini, para peserta juga diberi kesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan sehingga diskusi berjalan sangat dinamis. Beragam hal tentang empat pilar Indonesia dibahas secara mendalam dan komprehensif dalam seminar ini.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani