DMI.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) telah menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion / FGD) pada Kamis (30/8). Acara ini bertempat di Kantor PP DMI dengan tema Arsitektur Bangunan Masjid Tahan Gempa.

Kegiatan ini merupakan respon dari banyaknya bangunan yang roboh dan hancur akibat dampak musibah gempa bumi di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Acara ini menghadirkan dua orang narasumber, yakni Ketua Tim Penulis Buku Perancangan Arsitektur Masjid Indonesia, Ir. Suparwoko, M.U.R.P., Ph.D., dan Ir. Wim Kadaryoni dari PT. GIGA Steel. Keduanya juga menjadi pengurus IAI Pusat.

Turut hadir Sekretaris PP DMI, Ir. Hj. Jaorana Amiruddin, M.Si., serta Ketua dan Anggota Departemen Komunikasi, Informasi (Kominfo), Arsitektur Masjid dan Infrastruktur PP DMI, H. Achmad Sugiharto, dan Ir. H. Rahmad Widodo, M.Si.

Hadir pula Sekretaris Departemen Pemberdayaan Organisasi dan Pembinaan Kewilayahan PP DMI, Drs. H. Chusnul Khuluk, M.M., dan Sekretaris Departemen Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Luar Negeri PP DMI, Drs. H, Bunyan Saptomo, M.A.

Sejumlah masalah turut dibahas dalam pertemuan ini seperti konstruksi arsitektur masjid yang tahan gempa, memperhatikan kearifan lokal, dan tata letak akustik masjid. Bahan bangunan juga harus mudah didapat dan cepat selesai.

Arsitektur masjid tahan gempa merupakan bagian dari proses rehabilitasi Lombok pasca gempa bumi. IAI dan DMI juga akan mendata tingkat lerusakan masjid, apakah termasuk rusak berat/ ambruk, rusak sedang, atau rusak ringan.

DMI dan IAI juga akan bekerjasama dengan Perguruan Tinggi seperti Universitas Mulawarman dan instansi terkait jika diperlukan pelatihan (training) sosialisasi bangunan tahan gempa di Lombok.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani