DMI.OR.ID, JAKARTA – Innalillahi Wa innalillahi Rooji’un, segenap keluarga besar Dewan Masjid Indonesia (DMI) turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya 717 jama’ah haji dan 863 jama’ah luka-luka, baik luka berat maupun luka ringan, akibat terjadinya tragedi di Mina, Makkah, Saudi Arabia, pada Kamis (24/9) pagi waktu setempat. Akibat tragedi ini, tiga jama’ah haji asal Indonesia wafat.

Dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID,  Jum’at (25/9) pagi, dari Makkah, Saudi Arabia, Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), Drs. H. Slamet Effendy Yusuf, M.Si., menyatakan hingga saat ini, sudah dua orang jama’ah haji asal Indonesia yang syahid dan telah terdentifikasi, sedangkan seorang lagi belum dapat teridentifikasi karena tidak ada gelang  jama’ah Indonesia.

“Jama’ah haji asal Indonesia yang syahid yakni almarhum Hamid Atwi Tarji Rofia (51 tahun), laki-laki, lahir di Probolinggo, 3 Mei 1964, kelompok terbang (kloter) SUB 48, Maktab 2, dengan nomor paspor B1467965 dan beralamat di Dusun Timur II, RT 19, RW 04, Kelurahan Muneng Kidul, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur,” tutur Kiai Slamet pada Jum’at (25/9) pagi.

Jama’ah lain yang syahid, lanjutnya, yakni almarhumah Busyaiyah Sahrel Abdul Gafar (50 tahun), wanita, lahir di Teluk Durian, 21 Maret 1965, kloter BTH14, Maktab 1, dengan nomor paspor A2708446 dan beralamat di Jalan Muhamad Hambali No. 6, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ustadz Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, menyatakan sangat prihatin dan duka mendalam dengan terjadinya rangkaian tragedi di Mina, Saudi Arabia, saat pelaksanaan haji di Arab Saudi.

“Perlu evaluasi serius atas pelaksanaan haji di Arab Saudi, khususnya di Mina, dengan adanya tragedi demi tragedi yang terjadi dan telah menelan ratusan korban jiwa jama’ah haji. PP DMI menyatakan sangat prihatin dan ikut berduka mendalam atas tragedi Mina,” ujar Ustadz Natsir dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID, Kamis (24/9) petang.

Ustadz Natsir pun menyerukan ummat Islam untuk mendo’akan jama’ah haji yang wafat (syahid) agar mendapat jaminan surga dari Allah SWT sembari menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi Mina.

“Saran saya, Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus segera mengambil prakarsa untuk mengevaluasi Ketatalaksanaan (Tata Kelola) Haji, khususnya di kawasan Armina yang selalu bermasalah,” tegasnya.

Menurutnya, diperlukan petugas-petugas dari masing-masing negara yang diterjunkan di awal waktu, sebelum hari-hari ritual Haji, sehingga dapat membantu petugas-petugas Saudi Arabia di sana. “Tindakan ini penting untuk mengatur para jama’ah haji dari masing-masing negara,” tegasnya.

“Selain itu, perlu evaluasi terhadap quota haji masing-masing negara. Sebagai ‘pemasok’ jama’ah Haji terbesar, hendaknya pemerintah RI melakukan upaya-upaya diplomatik melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Agama (Kemenag) untuk membantu kelancaran ibadah Haji,” harapnya.

PP DMI, ujarnya, juga berharap pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, dapat memberikan santunan kepada para tamu Allah SWT yang menjadi korban tragedi Mina.

“Kami juga berharap dan berdo’a agar seluruh petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia senantiasa mendapatkan kekuatan dan bimbingan  Allah SWT dalam melayani jama’ah Haji tanah air,” pungkasnya.

Dalam rilis Kemenlu yang diterima DMI.OR.ID pada Kamis (24/9), Juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir, menyatakan bahwa musibah ini terjadi di jalan menuju tempat melontar jumrah diantara tenda-tenda di Mina.

“Awal kejadian karena ada sekelompok jama’ah yang tiba-tiba berhenti sehingga menyebabkan penumpukan dan desak-desakan antar jama’ah. Kejadian ini terjadi sekitar Pukul 07.00 waktu setempat,” tutur Arrmanatha.

Menurutnya, sebagian besar korban adalah jama’ah haji dari Mesir dan negara-negara Afrika lainnya. “Pasalnya, jalur ini (Jalur 204) bukan merupakan jalur yang biasa digunakan oleh jama’ah asal Indonesia (Jalur King Fahd) untuk menuju tempat melontarkan jumrah,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah dan Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) RI di Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia (KSA), sudah berada di lokasi musibah dan akan membantu mengecek ke Rumah Sakit (RS) Mina.

“Hal ini penting untuk mengetahui ada atau tidaknya korban jama’ah haji Warga Negara Indonesia (WNI),” jelasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani