DMI.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) menegaskan bahwa kekuasaan yang ada pada manusia tidak terlepas dari takdir dan kehendak Allah SWT Yang Maha Berkuasa  di seluruh alam semesta ciptaan-Nya.

Wakil Ketua Umum (Waketum) PP DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., menyatakan hal itu pada Kamis (2/2), dalam wawancara khusus dengan Liputan 6  SCTV, seperti dikutip dari laman http://news.liputan6.com.

“Di Al-Qur’an, Allah SWT memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah akan mencabut kekuasaan dari siapa yang Ia kehendaki. Jadi kadang pemimpin itu suka-suka Yang di Atas saja,” tutur Kiai Masdar yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Kiai Masdar pun lalu mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 26:

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kiai Masdar pun memberikan contoh terkait ayat ini dengan terpilihnya DR. KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Presiden Keempat RI. “Padahal, saat itu banyak pihak yang meragukan kalau Gus Dur akan terpilih sebagai Presiden RI,” ujarnya.

“Segala yang berkaitan dengan kekuasaan, itu ada intervensi langit. Kita ingat zaman saat Gus Dur terpilih, siapa bisa menyangka, dia tidak melihat, tapi akhirnya jadi (Presiden RI). Allah pemilik kekuasaan,” Masdar menandaskan.

Menurut anggota Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini, semua pihak boleh berkhutbah dan mengajak ummatnya masing-masing untuk memilih pemimpin sesuai dengan kesamaan etnik dan agama yang diyakininya.

“Semua boleh mengkhotbahkan untuk memilih pemipin sesuai dengan etnik atau seperti agama yang diyakininya. Itu hal wajar kok,” papar Kiai Masdar.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani