DMI.OR.ID, PONTIANAK – Pimpinan Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak menyelenggarakan Silaturrahmi dan Dialog Pengurus Masjid Se-Kota Pontianak pada Sabtu (31/10) di aula Rumah DInas Wakil Wali Kota Pontianak. Tepatnya, di Jalan Karel Satsuit (KS) Tubun, Pontianak.

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) Jogokariyan Yogyakarta, Ustadz H. Muhammad Jazir ASP., untuk memberikan taushiyah sekaligus berbagi pengalaman tentang manajemen modern yang diterapkan LTM Jogokariyan, Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, jajaran PD DMI Kota Pontianak berharap pengurus masjid setempat dapat meniru keberhasilan LTM Jogokariyan.

Seperti dikutip dari http://www.pontianakpost.co.id/, Masjid Jogokariyan terletak di Jalan Jogokariyan Nomor 36, Kampung Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta dan dibangun di daerah yang dahulu terkenal sebagai basis Partai Komunis Indonesia (PKI). Tepatnya pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S)/ PKI.

Kampung Jogokariyan dahulu menjadi target operasi penumpasan PKI oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Setelah operasi tuntas pada 1966, maka dibangunlah Masjid Jogokariyan dalam rangka penanggulangan agar paham komunis tidak muncul kembali di daerah ini.

“Masjid Jogokariyah sengaja dibangun oleh para tokoh Islam di sana untuk pembinaan umat. Pada 20 September 1966 silam, dimulailah peletakan batu pertama pembangunan masjid. Namun karena tidak ada yang mewaqafkan tanah, maka lahan pun dibeli bersama-sama,” ungkap Ustadz Muhammad Jazir ASP pada Sabtu (31/10).

Pembangunannya masjid ini, lanjutnya, cukup memakan waktu karena hampir satu tahun baru selesai. Akhirnya, masjid mulai digunakan pada 20 Agustus 1967 silam. “Hal yang istimewa, masjid ini berdiri di lingkungan mayoritas warga yang tak mengenal Islam,” tuturnya.

“Waktu itu, orang tua-tua yang lain belum banyak mengenal masjid, bahkan belum mengenal Islam. Justru lebih banyak dari anak-anak muda,” terang Yasir yang sempat menjadi pengurus pengajian anak-anak di Masjid Jogokariyan hingga tahun 1970-an.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani