DMI.OR.ID, JAKARTA – Rata-rata setiap 250 Muslim di Indonesia beribadah di satu masjid. Angka ini diperoleh dari jumlah masjid yang mencapai sekitar 800 ribu di seluruh Indonesia dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 250 juta jiwa.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), DR. H. Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), menyatakan hal itu pada Sabtu (12/11) pagi, saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Muktamar VII DMI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

“Jumlah pasti masjid di Indonesia hanya Allah SWT yang tahu. DMI dan Kementerian Agama belum bisa mendata seluruh masjid di Indonesia karena selalu bertambah setiap tahun. Saat ini, terdapat sekitar 800 ribu masjid di seluruh Indonesia, dengan jumlah 250 juta penduduk. Artinya, rata-rata setiap 250 penduduk memiliki satu masjid,” tutur H. Jusuf Kalla pada Sabtu (12/11).

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia. Ketika bertemu Raja Salman bin Abdul Aziz di Jakarta, Wapres Kalla pun mengaku bercerita tentang dirinya sebagai Ketua Umum PP DMI yang sedang menjadi khadimul masjid, pelayan sekitar 800 ribu masjid yang ada di seluruh Indonesia.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

“Raja Salman bin Abdul Aziz dikenal sebagai khadimul haramain, pelayan dua tanah suci ummat Islam, Makkah dan Madinah. Itu sebabnya saya memperkenalkan diri sebagai Wapres RI yang juga Ketua Umum PP DMI,” jelasnya.

Wapres Kalla pun mengajak ummat Islam di Indonesia untuk selalu memakmurkan masjid dengan cara rajin beribadah di masjid dan meramaikannya dengan berbagai macam aktifitas kemasyarakatan berbasis masjid. Itulah sebab mengapa tema kegiatan DMI selalu Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid. “Caranya ialah dengan meramaikan dan beribadah di masjid,” paparnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Menurutnya, di dunia ini hanya ada dua negara yang masjid-masjidnya relatif dibangun dan dikeloa sendiri oleh masyarakatnya, yakni Indonesia dan Pakistan. “Hanya di Indonesia dan Pakistan yang lembaga takmir masjidnya dibangun sendiri oleh masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ucap Wapres Kalla.

Upaya DMI untuk membangun dan menjalankan program-program di masjid sangatlah penting. “Kita semua harus membangun dan menjalankannya,” tegasnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Di berbagai daerah, lanjutnya, seringkali kita jumpai pembangunan daerah yang mungkin tidak terlalu maju, tetapi masjid-masjidnya sangat bagus. “Bahkan masjid lebih diutamakan masyarakat daripada membangun rumahnya sendiri.” imbuhnya.

Wapres Kalla pun menyingung tentang pentingnya program Pendidikan Anak Usia DIni (PAUD) berbasis masjid yang telah dan sedang dilakukan oleh DMI. “Pendidikan menjadi tanggung jawab kita semua. Itu sebabnya DMI telah membentuk ribuan PAUD di berbagai masjid,” ungkapnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

“Kenapa masjid penting? karena sesudah sholat Shubuh, umumnya masjid-masjid itu lengang sampai jam 12 siang, waktu Dzuhur. Diantara waktu itulah PAUD bisa diselenggarakan di masjid. Pendidikan berbasis masjid sangat penting untuk generasi kita yang akan datang,” ujarnya.

Di Indonesia, ucapnya, banyak sekolah yang mempunyai masjid, dan banyak pula masjid yang memiliki sekolah. “Hanya di Indonesia masjid itu ada bermacam-macam. Tidak ada di negara lain masjid ada di kantor. Di samping sekolah punya masjid, masjid pun puya sekolah.,” tuturnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, Wapres Kalla juga memukul bedug sebagai tanda peresmian acara. Saat itu, Wapres Kalla turut didampingi oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) PP DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ia juga didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP DMI, Drs. H. Imam Addaruqutni, M.A., yang juga Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar VII DMI, serta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Ir. H. Rudiantara, M.B.A. yang juga Ketua Departemen Komunikasi, Informasi (Kominfo), Hubungan Antar Lembaga (Hubla) dan Luar Negeri (LN) PP DMI.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Dalam prosesi itu, Wapres Kalla turut didampingi Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI, Dr. H. Sofyan Abdul Djalil, S.H., M.A., M.A.L.D., yang juga Ketua PP DMI Bidang Kominfo, Hubla, dan LN.

Setelah prosesi pemukulan bedug, Wapres Kalla lalu meresmikan maket gedung baru kantor DMI Pusat yang kini sedang dalam proses pembangunan di Kota Jakarta Pusat. Saat itu, Wapres Kalla membuka kain yang menutup maket gedung baru dengan didampingi Sekretaris Yayasan Hasanah Masjid Indonesia, Dr. H. Serian Wijatno. S.E., M.M., M.H.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Dalam acara pembukaan ini, Waketum PP DMI, Kyai Masdar juga menandatangani Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/ MoU) dengan perwakilan dari PT. Unilever, Tbk, dan PT. Travel Haji dan Umroh Nur Rima Al-Waali (NRA).

Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh seluruh pengurus PP DMI, termasuk Ketua Departemen Dakwah dan Pengkajian PP DMI, Drs. KH. Abdul Manan, yang juga memimpin pembacaan do’a bersama saat menutup acara.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Prosesi ini juga disaksikan langsung oleh Ketua PP DMI Bidang Sarana, Hukum, dan Waqaf, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, yang juga Ketua Steering Committee (SC) Muktamar VII DMI. Para muktamirin pun menyaksikan cuplikan video kilas balik program DMI selama lima tahun terakhir, yang disampaikan oleh Ustaz Natsir Zubaidi melalui video berdurasi sekitar 20 menit.

Usai acara pembukaan, Wapres Kalla  menyempatkan diri untuk berkunjung ke sejumlah stand bazaar DMI, termasuk ke stand akustik yang diselenggarakan bersama oleh DMI dan PT. TOA Galva Prima, Tbk. Kemudian, Wapres Kala menyelenggarakan pertemuan khusus dan tertutup dengan para pengurus PP dan PW DMI untuk menyampaikan amanatnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Dalam acara pembukaan ini, turut hadir Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. H. Muhammad Siradjuddin Syamsuddin, M.A., yang juga Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban RI.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani