DMI.OR.ID, JAKARTA – Bagi ummat Islam, peringatan Maulid Nabi Muhammad SholAllahu a’laihi wasalam (SAW) pada 12 Rabiul Awal 1437 Hijriah atau bertepatan dengan Kamis (24/12) nanti cukup istimewa karena hanya berbeda satu hari dengan peringatan Hari Raya Natal bagi ummat Kristiani.

Terkait hal ini, Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengimbau ummat Islam untuk merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema Membina Akhlaq Mulia Dalam Rangka Membangun Ummat dan Bangsa serta tidak terpancing dengan hingar-bingar perayaan Hari Raya Natal yang berimpitan.

Ketua PP DMI Bidang Hukum, Sarana, dan Waqaf, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, menyatakan hal itu pada Sabtu (19/12), dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID.

“Dalam suasana krisis etika dan moral dewasa ini, hendaknya ummat Islam merayakan Maulid Nabi Muhamad SAW dengan mengambil tema Membina Akhlaq Mulia Dalam Rangka Membangun Umat dan Bangsa,” tutur Natsir pada Sabtu (19/12).

Ummat Islam, lanjutnya, jangan sampai terpancing dengan perayaan Hari Raya Natal yang biasanya cukup hingar-bingar dan tahun ini berhimpitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Ummat justru harus termotivasi untuk merayakan Maulid Nabi dalam konteks fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan,” papar Natsir yang juga Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu..

Menurutnya, tema Maulid Nabi ini sangat penting karena risalah paling utama yang diemban oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah Innama bu’its tu li utamima makarimal akhlaq, yang intinya untuk perbaikan akhlaq manusia.

“Maulid Nabi adalah momentum bagi masjid, pesantren, dan perguruan Islam untuk melakukan gerakan perbaikan etika, akhlaq dan moral guna menyelamatkan bangsa dari bahaya kehancuran. Tepatnya melalui pengurus takmir masjid, khatib, muballigh, dan da’i,” papar Ustaz Natsir yang juga alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) ini.

Ustaz Natsir juga mengingatkan agar Peringatan Natal Bersama sebaiknya cukup dihadiri oleh umat Nasrani saja (Katholik dan Protestan) karena bersifat rirual.

“Terkait perayaan natal, kerja sama antar umat beragama bisa dilakukan dalam konteks sosial kemasyarakatan seperti gotong royong, masalah kebersihan, keamanan, kesehatan, dan lain-lain,” jelasnya.

Sebagai negeri Muslim berpenduduk terbesar di dunia, lanjutnya, hendaknya ummat menyambut Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) seperti Maulid Nabi MUhammad SAW, Isra’ Mi’raj, dan Tahun Baru Islam secara meriah dalam rangka syiar.

Tentunya, ujarnya, dengan tetap mengacu pada ajaran, norma, dan etika Islam serta tetap menjaga kesederhanaan. “Hal terpenting ialah bagaimana PHBI ini dapat memberikan mashlahat bagi umat dan bangsa. Ini masih membutuhkan perhatian kita bersama,” tutur Natsir.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani