DMI.OR.ID, JAKARTA – Masjid-masjid bersejarah dan lanskap tata kota Islami menjadi bukti nyata dari keberadaan umat dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang telah lahir sebelum Republik Indonesia (RI) merdeka. Hasil kreasi kreatif dari para ulama, raja-raja, dan sultan-sultan Islam di Indonesia ini tentu menjadi model yang harus kita pelihara.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, menyatakan hal itu pada Ahad (18/3), saat menjadi narasumber dalam acara Pengukuhan 534 Pengurus Ranting DMI dari 65 Kelurahan se-Kota Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel).

Acara ini berlangsung di Aula Komplek Rumah Jabatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Kalibata, Kota Administrasi Jaksel. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan program Sosialisasi Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A.

“Ormas Islam dan umat Islam ini telah lahir sebelum Indonesia merdeka. Di Jakarta misalnya, lahir organisasi Jami’atul Khair di Pekojan pada tahun 1919. Ormas ini lahir sebelum Sumpah Pemuda pada tahun 1928 silam,” tutur Ustaz Natsir pada Ahad (18/3).

Bahkan, lanjutnya, Jong Islamieten Bond terlibat aktif dalam perhelatan Sumah Pemuda pada 1928 silam, bersama-sama dengan Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan Jong Soematranen Bond. “Sayangnya ummat Islam banyak yang tidak tahu tentang sejarah ini,” imbuhnya.

“Lalu apa ciri-ciri masjid bersejarah? Yaitu masjid-masjid di Indonesia yang mulai berdiri sejak Abad ke 12 hingga abad ke 17 Masehi seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Agung Kasepuhan di Cirebon, Masjid Agung Surakarta, dan Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta,” paparnya.

Menurutnya, lanskap tata kota Islami yang ada di berbagai wilayah Indonesia harus tetap menjadi model tata kota yang harus dipelihara hingga kini. Lanskap tata kota itu meliputi masjid raya/ agung, keraton/ istana, alun-alun, dan gedung-gedung pemerintahan. “Ini merupakan kreasi kreatif dari para ulama, raja-raja, dan sultan-sultan Islam,” imbuhnya.

Ustaz Natsir yang juga Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat itu pun menyesalkan banyaknya alumni dari perguruan tinggi Islam, seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang malu mengaku sebagai marbot masjid. “Padahal, bayangkan kalau tidak ada marbot, seperti apa masjid-masjid kita?” ujarnya.

“Alhamdulilah, marbot-marbot masjid di Jakarta ini telah diberangkatkan oleh Pak Gubernur untuk umrah. Alhamdulilah, dahulu saya termasuk marbot masjid, juga pernah menjadi jurnalis, kuli tinta. Saya mulai tinggal di Jakarta sejak tahun 1984,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, acara ini dibuka secara resmi oleh sambutan dari Wali Kota Administrasi Jaksel, H. Tri Kurniadi, S.H., M.Si. Hadir juga Ketua Pimpinan Wilayah (PW) DMI Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Drs. KH Makmun Al Ayyubi, serta ratusan Pengurus Ranting DMI bersama-sama para Imam, Khatib, dan marbot masjid se-Kota Administrasi Jaksel.

Acara ini diselenggarakan oleh DMI Kota Administrasi Jaksel dengan moderator ialah Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) DMI Kota Administrasi Jaksel, Drs. H. Eddy Ks. Hadir juga Ketua PD DMI Kota Administrasi Jaksel, KH. Sanusi Haji Dahlan (HD).

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani