DMI.OR.ID, JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Imam Addaruqutni, M.A., menjadi salah satu pembicara dalam The 6-th World Peace Forum atau Forum Perdamaian Dunia Keenam di Jakarta pada Rabu (2/11) siang. Kegiatan ini berlangsung sejak Selasa (1/11) malam hingga Jumat (4/11).

Kegiatan ini mengambil tema: Countering Violent Extrimism: Human Dignity, Global Injustice, and Collective Responsibility atau Melawan Kekerasan Ekstrimisme: Martabat Kemanusiaan, Ketidakadilan Global, dan Tanggung Jawab Kolektif.

Konferensi ini diselenggarakan atas kerja sama Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Cheng Ho Multi Culture Education Trust, dan Muhammadiyah, serta mengusung tag line (gagasan) One Humanity, One Destiny, dan One Responsibility atau Satu Kemanusiaan, Satu Tujuan, dan Satu Tanggung Jawab.

Dalam konferensi internasional ini, Ustaz Imam menjadi narasumber untuk sesi konferensi bertajuk: Human Dignity and Global Injustice (Martabat Kemanusiaan dan Ketidakadilan Global).

Ia menjadi pembicara bersama sejumlah narasumber lainnya, yakni Kepala (Chairman) Badan Penasihat (Advisory Board) Internanasional Peace Foundation,  His Serene Highness (H.S.H.) Mag. Prince Alfred von Liechtenstein, Direktur Dewan India (Indian Council) untuk Gandhian Studies, Dr. Narayan Vasudevan.

Pembicara lainnya ialah tokoh Pembangunan Keadilan (Justice Development) dan Caritas Perdamaian (Peace Caritas), Nigeria, Fr. Basil Kassam, dan Presiden Liga Muslim Eropa (European Muslims League), Duta Besar Alfredo Maiolese, dari Italia.

Dalam sesi konferensi (pleno) ini, Prince Alfred tidak hadir di tempat acara, namun berbicara langsung melalui fasilitas video conference (streaming) dari Liechtenstein, sedangkan empat pembicara lainnya hadir dalam acara ini.

Dalam sesi ini, Ustaz Imam memaparkan pentingnya nilai-nilai profetik (kemuliaan) dalam perspektif Islam yang dimiliki oleh Rasulullah Muhammad SAW, yakni shiddiq (kejujuran/kebenaran), amanah (kepercayaan), tabligh (transparansi), dan fathanah (kebijaksanaan/ kecerdasan).

“Nilai-nilai profetik (kenabian) yang menjadi sifat utama Rasulullah SAW ini sangat penting kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memuliakan martabat kemanusiaan dan menghadapi ketidakadilan global,” tutur Imam pada Rabu (2/11) siang.

Dalam konteks Indonesia, lanjutnya, keempat sifat mulia Rasulullah Muhammad SAW ini berjalin dan berkelindan dengan sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia, bahkan menjadi faktor pendorong dan penguat demokrasi yang benar-benar nyata dan adil.

“Hendaknya keempat sifat Nabi Muhammad SAW ini menjadi platform (pijakan dasar) bersama sekaligus jati diri politik Indonesia dalam menghadapi arus utama ketidakadilan global,” paparnya.

Menurutnya, nilai-nilai Profetik (kenabian) ini juga diyakini dapat menjadi kebijaksanaan yang bersifat universal dan harus eksis (berdiri kokoh) di dalam jati diri budaya universal.

“Seharusnya kita menerapkan nilai-nilai ini secara substantif sebagai jati diri umat Islam. Hanya kepada Allah SWT kita beriman,” tegasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani