DMI.OR.ID, SIDOARJO – Para pengurus Dewan Masjid Masjid Indonesia (DMI) dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) harus berupaya mewujudkan profesionalisme berbasis masjid. Pemikiran fiqh seperti ini harus kita gerakkan. Pemikiran besar seperti ini harus diwujudkan, jangan yang keci-kecil saja. Termasuk bagaimana cara menjauhkan masjid dari kemiskinan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat (PP) DMI, Drs. H. Imam Addaruquthni, M.A., menyatakan hal itu pada Selasa (25/6) malam, saat menjadi narasumber dalam Musyawarah Wilayah VI DMI Jawa Timur (Jatim) di Hotel Utami, Sidoarjo.

Acara ini mengangkat tema Penguatan Kinerja DMI dalam Melaksanakan Peran dan Fungsi Masjid Menuju Pemberdayaan Umat

“Jauhkan masjid dari kemiskinan. Ini merupakan pikiran besar yang tentu harus diwujudkan. Pengurus DMI hendaknya jangan berpikir yang kecil-kecil saja.  Kalau perlu, profesionalisme harus berbasis masjid. Sebagai pemikiran fiqh, ini harus digerakkan DMI,” tutur H. Imam pada Selasa (25/6).

Pikiran-pikiran besar itu, lanjutnya, juga sedang diwujudkan oleh DMI melalui Gerakan Sejuta Masjid Ramah Anak (Semarak), kerja sama ekonomi berbasis syariah dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesi (Asbisindo), Aplikasi DMI dan program revitalisasi akustik masjid.

Menurutnya, peran dan fungsi masjid bagi umat Islam saat ini mengalami kemunduran dibandingkan dengan peran dan fungsi Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah pada masa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam (SAW).

“Di masa Nabi Muhamad SAW, ada banyak tsaqifah (lembaga) dalam berbagai bidang. Bukan hanya bidang-bidang yang terkait dengan ibadah mahdah (wajib), tetapi juga ibadah ghairu mahdah di bidang pendidikan dan aktivitas sosial kemasyarakatan. Kondisi ini sangat menginspirasi perkembangan intelektual umat Islam saat itu,” jelasnya.

Adapun saat ini, ungkapnya, banyak anak-anak Muslim yang kecanduan game elektronik seperti play station dan game online berbasis gadget. Dampaknya, anak-anak menjadi malas dan jauh dari masjid. “Padahal di zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, masjid-benar-benar berfungsi sebagai play station dalam arti yang sebenarnya, sebagai pusat bermain anak-anak,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Sosial (Kessos) – Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Dr. H. Hudiyono, M.Si., dengan memukul gong tiga kali.

Prosesi pembukaan ini disaksikan langsung oleh Ketua PW DMI Provinsi Jatim, Drs. KH. Muhammad Roziqi, M.M., M.B.A., dan Sekretaris PP DMI, KH. Syaifuddin Nawawi, S.H., serta Direktur Program PP DMI,Dr. H. Munawar Fuad Noeh, M.Ag. Ketua PW DMI Jatim, H. Muhammad Roziqi, juga memberikan kata sambutan. Adapun sambutan tertulis Gubernur Jatim dibacakan oleh H. Hudiyono.

Dalam prosesi pembukaan ini, juga diberikan secara simbolis berupa uang kehormatan kepada 11.000 imam masjid se-Jatim, dengan rincian satu masjid satu imam. Masing-masing imam masjid menerima senilai Rp 2 juta. Uang kehormatan ini diberikan secara simbolis oleh Ketua PW DMI Jatim dengan disaksikan unsur-unsur PP DMI yang hadir dan seluruh peserta Muswil VI DMI Jatim.

Dalam acara Muswil VI DMI Jatim ini, turut ditandatangani Nota Kesepahaman (Mount of Understanding/ MoU) antara PW DMI Jatim dengan PT. Penguin Indonesia

Menurut Sekretaris PW DMI Jatim, Drs. H. Suhadi, Muswil VI DMI Jatim ini dihadiri oleh 300 peserta aktif dan peserta peninjau. Peserta aktif terdiri dari perwakilan PP DMI, PW DMI Jatim, Pimpinan Daerah DMI Kabupaten/ Kota se-Jatim, badan otonom DMI Jatim, dan pengurus Masjid Agung Kabupaten/ Kota se-Jatim.

“Sedangkan peserta peninjau dihadiri oleh perwakilan pengurus masjid wisata dan transit se-Jatim, pengurus masjid potensial se-Jatim, pengurus masjid nasional al-Akbar, serta peninjau dari organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam lainnya,” tutur H. Suhadi pada Selasa (25/6) sore kepada DMI.OR.ID.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani