Kadangkala, orang yang ikut-ikutan melakukan dosa justru menyerahkan tanggungjawabnya kepada orang yang diikuti. Sementara ada pula orang yang sombong, mengatakan seolah-olah ia yang menanggung dosa orang lain.

Sahabat Ibnu Abbas Radiyallahu Anhum (RA) menceritakan bahwa Walid bin Mughirah RA pernah berkata kepada penduduk Makkah: “Ikutilah aku dan ingkarilah Muhammad. Aku yang akan menanggung dosa kalian”.

Maka, turunlah firman Allah Subhanahu Wata’ala (SWT) dalam Al-Qur’an, Surat Al-Isra (17) Ayat 15:

Artinya: “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul”

.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas adalah:

1. Tanggungjawab atas apa yang dilakukan ada pada masing-masing orang. Seseorang tidak bisa menyerahkan tanggung jawab kesalahannya kepada orang lain dan seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain.

2. Dosa diistilahkan dengan wizr, yang bermakna berat karena dosa adalah sesuatu yang berat untuk dipikul oleh manusia kelak dikemudian hari, demikian ujar Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya.

Bahkan jangankan di akhirat kelak, di dunia ini saja dosa sudah terasa berat untuk dipikul oleh para pelakunya. Kata wizr untuk menyebut dosa terdapat dalam firman Allah SWT, Al-Qur’an Surat Al-An’am (6) ayat 164:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: “Katakanlah: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.

“Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.

 

Penulis: Ustaz Drs. H. Ahmad Yani

 

Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP)

Penulis Buku 3 Pesan Dalam 30 Ramadhan.