DMI.OR.ID, DEPOK – Keberadaan negara Israel di Timur Tengah ibarat penyakit kanker. Seluruh permasalahan yang terjadi di Timur Tengah tidak bisa dipisahkan dari sejarah pembentukan Israel oleh negara-negara Barat. Israel adalah sumber masalah di Timur Tengah.

Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia (KSA) untuk Republik Indonesia (RI), His Excelency (H.E.) Syeikh Mustafa Ibrahim Al Mubarak, menyatakan hal itu pada Jum’at (13/11) pagi, saat menjadi narasumber dalam Seminar Internasional bertajuk Dinamika Budaya Timur Tengah Pasca Musim Semi Arab.

Kegiatan ini diselengarakan oleh Program Studi (Prodi) Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), dan berlangsung di Auditorium Gedung I, Ruang 1.103, FIB UI, Depok.

“Israel adalah penyakit atau kanker di Timur Tengah. Negara Yahudi atau Yudaisme ini mengakibatkan terjadinya tragedi demi tragedi yang kita rasakan dalam beberapa dekade terakhir ini. Analisa tentang konflik Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari sejarah pembentukan Israel oleh negara-negara Barat,” tutur Dubes KSA ini pada Jum’at (13/11), dalam bahasa Inggris aksen Arab yang fasih.

Menurutnya, pertumpahan darah yang terjadi di Yaman, Suriah, Libya, Suriah, Iraq, dan Yaman pasca Musim Semi Arab/ Arab Spring merupakan perisiwa yang menyedihkan. Seandainya negara-negara Barat mengangkat tangan (tidak mengintervensi) dari negara-negara Arab, tentu tidak akan terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat menyedihkan ini.

Dubes KSA ini pun membantah masalah perbedaan etnik di negara-negara Arab menjadi penyebab timbulnya konflik dan pertumpahan darah di Timur Tengah. “Pasalnya, sejak ratusan tahun sebelumnya berbagai etnik telah hidup berdampingan di Timur Tengah, termasuk minoritas Kristen Arab,” paparnya.

“Darimana sebenarnya terjadi Arab Spring ini? Saat terjadinya perang antar etnis di negara-negara Arab, tangan-tangan asing ikut memperkeruh suasana. Hal ini menyebabkan berbagai krisis terjadi di negara-negara Arab pada umumnya. Bahkan ada teori konspirasi yang menyatakan intervansi Suriah dan Iran dalam konflik Yaman,” ungkapnya.

Terkait krisis Yaman, lanjutnya, Pemerintah KSA telah memberikan bantuan terhadap saudara-saudaranya di Yaman, dengan berupaya mengembalikan suasana yang tidak kondusif menjadi kondusif kembali. “Alhamdulilah, Pemerintah KSA terus-menerus melakukan tindakan preventif agar dampak negatif Arab Spring tidak menyebar di dalam negeri,” jelasnya.

“Kami harus pergi ke Yaman karena pemerintahan mereka telah digantikan oleh milisi Houti dengan dibantu pemerintah Iran. Pemberontak Houti telah menyerang pemerintahan yang sah di Yaman,” ucapnya.

Padahal pasca Presiden Ali Abdullah Saleh, lanjutnya, pemerintahan Yaman merupakan hasil pemilihan umum (pemilu) yang sah. “Kami harus selamatkan Yaman karena Iran ada di balik penggulingan (kudeta) pemerintah Yaman yang sah dan legitimate,” tegasnya.

Terkait dengan perjuangan kemerdekaan Palestina, jelasnya, Pemerintah KSA telah berinisiatif menyelenggarakan Konferensi internasional tentang Palestina bersama negara-negara Amerika Latin. Dalam konferensi ini, Pemeirntah KSA telah menyerukan agar Israel segera mengakhiri pendudukannya (penjajahannya) di wilayah Palestina.

“U’lama-ulama Saudi telah mennetapkan fatwa jihad untuk perjuangan melawan Israel dan melindungi ummat Islam di wilayah Palestina. Pemerintah KSA pun menjadi negara yang bantuan finansialnya paling besar untuk pemerintah Palestina,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani