(REFLEKSI DAN REPORTASE *PRIMATALK* #1)

– Masa depan adalah milik para Pemuda- hanya saja mereka perlu mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam menyongsong masa depan tersebut. Kehidupan zaman Now yang penuh perubahan drastis, disrupsi dimana mana, serta kini diwarnai era Industri 4.0 membawakan berbagai tantangan juga problematika kehidupan kekinian.

Bagaimana badai sosial budaya bertiup dengan kencang, mewarnai hari hari kita para pemuda – lewat gawai, sosial media, mobile gaming, juga aplikasi -aplikasi yg menyajikan konten-konten berisiko (Tik-Tok, dan lain-lain).

Bagaimana pergaulan remaja dan anak muda kini juga diselingi beragam kisah akhlaq tidak terpuji (misal: murid memukul guru, anak melawan orangtua, teman membully teman, dan sebagainya), serta berbagai ekses negatif lainnya (pergaulan bebas, tawuran, penyalahgunaan narkoba, perusakan lingkungan, dan seterusnya) menunjukkan bahwa toh di masa kini, pemuda dihadapkan pada beragam ujian, godaan dan tantangan.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah: Mau dibawa ke mana ( quo vadis) populasi kepemudaan yang penuh dengan potensi ini? Apa yang harus mereka siapkan, pelajari dan tekuni demi menyongsong masa depannya sendiri dengan penuh optimisme, tanggung jawab serta dedikasi? Apa pemikiran besar, aksi besar, dan kontribusi berharga para pemuda di masa emas millenial ini?

Itulah di antara pertanyaan yg menjadi diskusi dalam gelaran *PRIMATalk* yang pertama, yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat PRIMA DMI, Kamis (21/2) lalu. Kegiatan yang bertempat di *KAPE cafe* itu menghadirkan beberapa tokoh panutan dan kaliber figur tingkat nasional, yakni: Ismail Fahmi, Ph.D, Prof. Dr. Agus Budiyono, serta Ahmad Arafat Aminullah,  S.T.

Dihadiri sekitar 50-an pemuda millenial, mahasiswa, aktivis muda, tokoh komunitas, serta tentunya,  para remaja masjid dan basis PRIMA se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), acara yanv dibuka oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (Prima) Dewan Masjid Indonesia, Muhammad Jamil, serta dipandu oleh Waketum PP Prima DMI, Geni Isnomurti, itu berjalan menarik dan memancing antusiasme para hadirin.

Diawali oleh paparan Ahmad Arafat Aminulla hselaku Ketua Umum PP PRIMA DMI, yang mengetengahkan konsepsi PRIMA dalam memandang tantangan para pemuda dewasa ini. Bahwa “turbulensi” Kehidupan kekinian perlu dihadapi dengan mawas diri, dan berpijak pada nilai nilai universal serta nilai nilai spiritual berakar pada agama (Islam) yang mulia. Bahwa para pemuda yang merupakan populasi dan unsur demografi paling berharga ini memiliki beragam potensi yanvg mesti dikelola, dikembangkan dan diberdayakan dengan optimal. Bahwa berikutnya para pemuda harapan bangsa tersebut harus bisa memainkan peranan di tengah masyarakat/ komunitas tempat mereka berada, dan pada gilirannya mestilah menemukan dan menempati posisi (fungsi) tertentu secara mandiri, konstruktif dan kontributif.

Dan bahwasanya, tandas Arafat, yang kini sudah mengenyam pengalaman ekstensif selama 11 tahun sebagai profesional muda di dunia penerbangan itu,  kaum muda millenial harus mampu memaknai dan mengejawantahkan perintah Iqra’ yang merupakan kata pertama, dari wahyu pertama dari rentetan ayat ayat suci Al-Quran yg diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Iqra’ di sini tidak hanya bermakna tilawah (membaca Ayat ayat suci saja), tetapi Iqra’ memiliki makna definisi dan implikasi yanv sangat luas: “membaca” Ayat-Ayat-Nya yang terdapat di alam semesta raya (melalui ilmu pengetahuan/ science dan teknologi), melakukan penelitian, perbandingan, dan seterusnya.

Para pemuda millenial Islam kini, dihadapkan pada tantangan kehidupan dimana mereka kerap berpotensi ter-distraksi dari menjalankan perintah Iqra’ tersebut dan malah justru terjebak pada rutinitas yang tidak bermanfaat, kesenangan semu (instant gratification), apalagi perilaku destruktif dan perbuatan tercela. Padahal kata Iqra‘ ini merupakan sebuah kata kerja perintah (fi’il amr) dan hukum asalnya adalah sebuah kemestian/ kewajiban, tandas Arafat.

Pembicara kedua, tokoh yanb sudah tidak asing lagi serta tidak diragukan kredibilitasnya adalah Bapak Ismail Fahmi. Menanggapi dan melanjutkan narasi dari pembicara sebelumnya, beliau justru memberikan dorongan kepada para pemuda untuk mempersiapkan paspor dan pergi melancong mengelana ke berbagai pelosok dunia! Beliau bercerita betapa di Maroko, di Spanyol dan berbagai sudut negeri lainnya, yg memiliki peninggalan peradaban kejayaan Islam masa lampau, menghadirkan beragam sejarah dan reliknya yg memukau. Bagaimana peradaban sebuah kota menempatkan masjid sebagai sentral dan pusatnya ! Bagaimana ukuran kekayaan keluarga saat itu tidak dilihat dari harta dan permata yang dimiliki, melainkan apakah di rumahnya terdapat perpustakaan (tempat Mmembaca) atau tidak? Inilah nilai mengembara ke sekeliling dunia ini, sebagaimana sejak dulu para pengembara terkenal (Ibnu Batutah dan seterusnya) getol berkelana untuk melihat jauh, berjalan jauh dan membaca zaman jauh ke depan.

Pak Fahmi, yang terkenal dengan analisa Drone Emprit (DE)-nya ini juga mengetengahkan kisah sebuah negara muda bernama Estonia. Sebuah negara yanv berdiri seukuran generasi milenial ini,  yakni 1992. Namun uniknya, negara baru ini mampu memainkan peran nya pelan tapi pasti, dimulai dari bagaimana mereka membangun negaranya, membentuk kabinetnya (yang dikatakan rata rata para menteri nya berusia di bawah 35 tahun), dan bagaimana kini Estonia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekuatan infrastruktur internet paling bagus di Eropa. Digital Society, inilah model pengelolaan negara ala Estonia yang patut untuk ditiru !

Pembicara Pamungkas adalah Prof. Dr. Agus Budiyono, tokoh pemerhati pendidikan, praktisi Industri Tinggi, guru besar yang lama menghabiskan usianya mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri (sehabis menyelesaikan pendidikan bergengsi nya di Teknik Penerbangan ITB, beliau mengembara ke MIT di Amerika, hingga ke Korea Selatan), Chief Science Office, sebuah lembaga riset Industri, yang juga merupakan pembina  PP PRIMA DMI. Beliau yang rela menembus kemacetan jalan di Jakarta dan masih menyempatkan hadir meski sebelumnya ada agenda bertemu Panglima TNI ini, berkisah mengenai kisah hidupnya di masa lampau, dan bagaimana kini generasi anaknya sudah mengalami perubahan drastis yanv dulu tidak pernah dirasakannya.

Bagaimana, kata beliau, anak masa sekarang lebih kritis, lebih open minded, dan lebih menguasai banyak kemampuan (misal: bahasa, teknologi, dan lain-lain) di banding era pendahulunya. Bagaimana kapasitas dan kualitas manusia (pemuda) Indonesia sungguh tidak kalah, bahkan dalam bidang tertentu mampu excel mengungguli sumber daya manisia dari negara maju lainnya. Dan bagaimana redefinisi (rekonstruksi) di berbagai bentuk aktualisasi kehidupan mengalami pembaruan secara berkesinambungan.

Ini semua adalah bukti sahih bahwa kemajuan bukanlah sesuatu yang impossible untuk diraih, meskipun kita berasal dari latar belakang negara, wilayah dan daerah yang kurang beruntung. Yang penting adalah kita memiliki daya juang, semangat dan optimisme untuk berjuang, tumbuh dan berkembang.

Dan itu semua sederhananya berasal dari (kekuatan) sebuah Ide! Ide bahwa semua manusia punya kesempatan sama untuk menemukan, memanfaatkan dan mengembangkan serta berinvestasi pada Potensi dirinya. Ide bahwa kita yang dari negara nun jauh di khatulistiwa ini bisa bersaing, berdiri sejajar dan lebih kompetitif. Ide bahwa apa yg terlihat (dari luar) kadang tidak menggambarkan sepenuhnya apa yg tidak terlihat.

Dan ini semua, sekali lagi berakar pada ide, atau mindset (pola pikir) yang kita anut dalam mengarungi kehidupan ini. Apakah kita berani bersaing dengan orang lain seraya bersikap terbuka? Ataukah kita masih ragu dan tak mampu menentukan kita ingin menjadi seperti apa? Apakah kita mengikuti growth mindset ataukah mindset serba-berketerbatasan?

Apa yang kita pilih untuk yakini mengenai diri kita sendiri, itulah yg akan kita dapati… Oleh sebab itu,  masa muda kita harus diisi dengan beragam kegiatan positif, aktualisasi diri yg bermanfaat, pergaulan luas yg memicu kita menemukan jati diri yg terbaik — dan ini perlu dimulai dari diri sendiri dan dengan membaca (Iqra’).

Alhasil, ketiga pembicaraan tersebut di atas memiliki benang merahnya, yakni tantangan dan misteri kehidupan di masa depan harus dihadapi dengan memperbaiki diri, mempersiapkan diri, meningkatkan potensi pribadi, juga mencari tahu bidang aktualisasi yang akan kita tekuni. Apakah itu sebagai profesional, sebagai aktivis, sebagai organisatoris, sebagai akademisi, sebagai pebisnis, dan seterusnya dan sebagainya..

Iqra’ sesungguhnya adalah kunci menjalani kehidupan itu sendiri, yakni berbagai problem dan tantangan hidup mesti dicermati, diteliti, dipelajari, dieksplorasi sehingga kita memiliki konstruksi pemahaman tersendiri akan dunia sekeliling kita. Iqra’ bukanlah aktivitas sempit, terbatas dan terkait hal yg sakral saja. Iqra’ berlaku secara luas, di berbagai bidang kehidupan dan peran yg dilakonkan.

Iqra’, jangan hanya dimaknai sebagai sebuah perintah/ kewajiban yang hanya mesti digugurkan secukupnya. Lebih dari itu, Iqra’ sejatinya adalah sebuah kebutuhan dasar,  keperluan mendesak, dan urgensi serta prioritas utama sehari-hari.

Karena siapa yang telah mampu membaca (iqra’) apa yang terbentang di hadapannya dengan benar lagi baik, berarti ia telah mampu memenuhi potensi dan bakat dasarnya yang Allah Yang Maha ‘Alim telah bekalkan kepada manusia untuk menjadi Khalifah-Nya di atas muka bumi ini. Dan inilah skill dasar yang diajarkan-Nya kepada Nabi-Nya,  Muhammad sang ummi. Jauh sebelum tugas dakwah, tugas menyeru, tugas kenabian dan risalah diamanahkan, yang pertama kali dituntut dari seorang manusia pilihan yang sedang digembleng menjadi Insan paripurna adalah melalui perintah juga kebutuhan untuk membaca.

Penulis: Ahmad Arafat Aminullah, S.T.

Ketua Umum PP PRIMA DMI