Hidup, sitir sebuah dalil, adalah permainan (dan senda gurau) belaka. Hidup di dunia dengan segala kompleksitasnya, sejatinya hanyalah sebuah GAME, permainan, yang digelar dalam batas waktu tertentu, diikuti oleh peserta yang berlaga, diatur dan diawasi oleh official, dan, disaksikan berjuta pasang mata supporter, penonton, penikmat, juga pundit pengamat jalannya laga.

Seperti sepakbola sebagai sebuah permainan olahraga. Dua tim, setelah melakukan serangkaian persiapan, turun ke medan laga untuk bertanding dan saling berhadapan. Kedua kesebelasan sudah bersiap dengan strategi, taktik, dan individu yang diberikan tugas/ peran tertentu untuk baik menyerang lawan, atau berjaga agar gawang tidak kebobolan. Dalam laga yang sudah dimulai dengan tanda peluit, berbagai aksi diketengahkan, baik saat bola diperebutkan, ataupun saat terjadi berbagai pergerakan, ritme maupun pergumulan tanpa bola di lapangan.

Begitulah kira kira adanya. Jalan kehidupan yang kita titi menempatkan berbagai pos pos permainan dalam beragam bentuk, yang bisa kita amati, pelajari, dan ambil hikmahnya. Seperti permainan yang satu ini. Pertandingan FINAL dalam konteks “permainan demokrasi” Kebangsaan dan Kenegaraan, bernama PEMILIHAN UMUM. Kompetisi yang sudah bergulir sejak cukup lama, bahkan terasa sudah curi start dan dimulai lebih lama dari seharusnya, kini menempati babak akhir pertandingan dan pertarungan. Kedua kubu, 01 & 02, saling jual beli serangan, saling mendobrak dan bertahan dengan taktik masing-masing. Tak ketinggalan officials (perangkat pertandingan) yang dituntut bekerja keras demi mengamankan jalannya laga, juga menjamin dipimpinnya kedua belah pihak secara FAIR dan NETRAL !!

Tugas bukan main beratnya, jika kita simak dengan seksama. Bagaimana sang wasit harus ikut berlari kesana kemari memastikan semua gerak gerik terawasi, dan setiap pemain yang kedapatan melakukan pelanggaran lantas di-priiitttt untuk ditegur hingga diberikan kartu. Bagaimana pencatat statistik di pinggir lapangan sibuk mencatat bahan laporan. Bagaimana para official lainnya dalam beragam aktivitasnya memainkan peranan yang diberikan. Dan seterusnya dan selanjutnya…

Lalu, dalam sebuah laga akbar, pertandingan yang mempertemukan dua rival yang berseteru sekian lama, final El Classico, derby d’Indonesia, kita lihat riuh dan semarak para pendukung memenuhi “stadion” Pertandingan. Para supporter, pendukung tim, fans die hard, simpatisan klub (baca: partai), relawan, dan beragam jenis penonton lainnya, di Match Day, pun merangsek masuk menduduki seat yang ada. Mereka bersorak sorai, memberikan yel yel dukungan kepada tim favoritnya, melontarkan intimidasi kepada supporter tim lawan, hingga mem-boo melakukan siulan, melemparkan tekanan moril dan psikis ketika tim lawan menguasai bola, atau, bahkan saat gawang kebobolan.

WHY SO SERIOUS?, kata sang Joker.

Toh, ini lagi lagi hanya permainan belaka. Permainan yang ada untuk kita saksikan dengan sukacita dan nikmati bersama, terlepas apapun hasilnya. Dan, ketahuilah, sesungguhnya mereka, tim tim yang berlaga itu, lebih mementingkan Trophy Kejuaraan, Titel sebagai Pemenang (Penguasa), juga iming iming reward hadiah yang mereka dan jajaran tim akan nikmati – ketimbang berterimakasih satu satu kepada setiap pendukung yang hadir (memberikan suara) ataupun mengingat pesan aspirasi dalam beragam suara yang menggema sepanjang perjalanan ataupun saat pertandingan.

Ini, adalah permainan menuju singgasana kejayaan. Pertarungan adu taktik, propaganda, dan menjual brand serta visi misi juga sejarah rivalitas klub yang berseberangan. Ini, adalah kontestasi penuh tensi tinggi. Ini, adalah bukan laga amal (charity), melainkan semuanya jor-joran dengan modal dan sumberdaya yang dipertaruhkan mati-matian. Inilah, potret pertandingan yang penuh aturan, kemasan pencitraan, pula diperhatikan dengan teliti dan sangat seksama oleh para bandar, petaruh, dan siapapun yang punya kepentingan!

Sedang kita, mayoritas dari kita semua, para non-patron, bukan elit, serta penonton sekaligus pemilik suara yang sah, sejatinyalah hanya pelengkap pertandingan, pelaku dan saksi sejarah dengan caranya sendiri sendiri, dan objek pelengkap ukuran kemegahan/keberhasilan sebuah laga Puncak. Rivalitas kedua tim yang dipertontonkan, tackling keras juga perseteruan yang dimunculkan, perang urat syaraf serta adu otot yang mengemuka, semuanya adalah SANDIWARA… Kepingan puzzle terakhir untuk melengkapi legitimasi permainan ini..

Pesona kedua tim yang bertabur bintang, berpelatih sarat pengalaman, serta memiliki basis pendukung garis keras serta loyalis setia, adalah magnet penarik kerumunan dan fans penonton di stadion dan dari layar kaca. Dinamika permainan, drama pertandingan, tempo dan tensi para pemain yang saling bersinggungan, adalah bumbu sedap penambah gurih dan citarasa adu laga. Selip dan salah keputusan, yang kadang kadang muncul dalam laga keras dan ketat, oleh wasit dan perangkat pengawas pertandingan, acapkali menjadi cerita dan pengumbar komentar tak berkesudahan.

Yang TERPENTING dan menjadi Epicentrum segala hiruk pikuk pertandingan ini adalah: reaksi dan respon para penonton yang sama sama hadir memberikan dukungan bagi tim dan pemain kesayangan. Apakah ketika tempo permainan memanas, para supporter dan fans ini bisa tetap cooling down dan tidak teragitasi untuk saling cela dan menghina? Apakah ketika pemain tim kesayangan dilanggar, mereka percaya penuh pada kepemimpinan dan kewenangan wasit dan perangkat lainnya – alih alih bersorak sorai membully sang juru adil, apalagi berteriak “wasiiiit g*bl*k“? Apakah ketika tim kebanggaan di papan skor tertinggal dari tim rival, supporter dan korlap pemandu yel yel bisa terus semangat untuk menyemangati timnya untuk terus berjuang dengan semangat pantang menyerah hingga detik terakhir pertandingan dan peluit panjang ditiupkan?

Dan, ketika pertandingan beranjak kacau, berkembang tak keruan, berpotensi chaos, bisakah mayoritas dan gegap gempita hadirin akbar ini tetap tenang, terus kalem, berlanjut duduk di tempat-tempat yang tersedia, bukannya merangsek masuk ke gelanggang, melompati pagar pembatas (atau bahkan merusaknya), lalu ikut mengejar dan menyerang siapa saja yang dianggap curang dan bersalah (dalam penilaian terbatas yang dimiliki)?

Mari kita belajar pada supporter di luar sana, pemilik dan pendukung Liga yang lebih mapan kalangan supporternya. Bahwa bagaimana pun terkesan tidak adilnya keputusan sang wasit, mereka tetap bisa menahan diri dan menahan reaksi mereka untuk mengkritik berlebihan. Bahwa se tertinggal apapun tim kesayangan, mereka tetap menyuarakan yel yel dukungan, hingga laga tuntas berkesudahan kekalahan. Bahwa sekeras apapun pertarungan, dengan beragam intrik dan konflik di lapangan, mereka tetap adem ayem serta mendorong persahabatan, jabat tangan, dan menyoraki KEDUA kesebelasan saat pertandingan sudah usai.

Inilah demonstrasi Demokrasi penuh sportivitas di lapangan. Inilah asset berharga dalam setiap laga: penonton yang tidak menghakimi, penonton yang setia menemani dan menginspirasi, penonton yang IKUT menyukseskan gelaran laga demi laga. Inilah, esensi dari pertandingan yang fenomenal tersebut: bahwa FAIRPLAY dan RESPECT tidak hanya menjadi tanggungjawab kesebelasan yang berlaga, tetapi juga merupakan SPIRIT yang menjiwai setiap pasang mata yang menyaksikan pertandingan.

MARILAH kita menjadi supporter yang mawas diri, yang berakal sehat, yang sadar sesadar sadarnya, bahwa sekali lagi, ini hanyalah pertandingan (permainan) belaka. Soal hasil, sudah ada yang menentukan. Soal tim yang bekerja keras dan berlaga mati matian, sudah ada yang berperan dan mengambil ranah perjuangan. Lalu apa yang tersisa bagi kumpulan masif penonton laga? Tak lain dan tak bukan adalah menjadi penikmat pertandingan, saksi sejarah, sumber sorak-sorai penggembira, dan, juga, menjadi pemain ke-12 dari setiap tim yang dibela, plus, unsur ke-13 bagi kedua tim yang ada.

Singkatnya, PENONTON AKBAR adalah penentu keberhasilan sebuah GAME. Merekalah yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan, kelancaran, kesuksesan dan KEDAMAIAN pasca-laga. KeRUSUHan dalam berbagai game, meski bisa dipicu pertama kali oleh unsur tim yang tidak puas, tapi akan menjadi besar, berdarah darah dan kacau balau di saat para PENONTON, merasa menjadi PEMAIN dan ikut pentas ke gelanggang meluapkan emosi dan reaksinya. KeGAGALan sebuah gelaran akbar, bisa jadi dipicu oleh sekelompok penonton-bayaran, atau hooligan yang kasar dan beringas, atau fans garis keras yang hadir bukan untuk menonton dan menikmati tontonan, tetapi demi mengeksiskan dirinya dan ingin mencampuri dan mengintimidasi perangkat pertandingan ataupun tim lawan.

KeSUKSESan sebuah laga FINAL, hingga berbuah cerita manis dan dramatis, selain ditunjukkan dari sportivitas dan fairplay serta saling menghormati (respect) kedua tim yang terjun di lapangan, juga amat ditentukan dari sumbangan saham mayoritas penonton yang saling bertegur sapa, saling menyemangati, saling mendukung, saling menghormati dan saling percaya: bahwa mereka hadir bukan untuk ikut bermain, tetapi untuk memastikan yang bermain, siapapun yang mereka bela ataupun tidak mereka bela, mampu mengeluarkan potensi kemampuan terbaiknya dan mempertunjukkan trik trik yang elok untuk dipandang mata. Termasuk dalam hal ini adalah PERSATUAN para supporter tersebut, dari kedua belah kelompok, untuk menolak segala bentuk kecurangan, kepura-puraan, kebengisan dan aksi aksi tidak terpuji dan tidak memiliki tempat dalam HATI dan GELANGGANG tempat laga tersaji.

PENONTON yang dewasa dan bijaksana, adalah mereka yang terlepas dari berbagai beda atribut, beda pilihan, dan beda keyakinan, tetap bisa berangkulan, bercanda tawa, bertukar senyuman tulus bukannya tatapan sinis, tetap bisa lepas menikmati pertandingan tanpa beban, dan, pada akhir laga, memberikan APLAUS dan SELAMAT kepada SIAPA PUN yang keluar menjadi Pemenang. Ini karena mereka tahu dan percaya, mereka bukanlah hakim, tetapi sudah ada wasit, komite disiplin, komite etik, dan beragam alat perangkat lainnya untuk memproses ketidakadilan atau keputusan yang dirasa merugikan. Mereka, sadar sesadar sadarnya, bahwa mereka hadir untuk memberikan SUPPORT dan DUKUNGAN.

Thus, pada akhirnya, kemenangan PUBLIK PENONTON terletak pada ketenangan dan kedamaian pasca pertandingan, bahwa tidak ada botol yang beterbangan, tidak ada serangan diperjualbelikan, dan bahwa mereka bisa kembali dengan tenang dan damai. Ini, adalah fundamental kesuksesan gelaran pertandingan yang paling asasi. Tak ada gunanya kemenangan, ataupun klaim kemenangan di satu pihak, di saat pendukung fanatiknya bercakaran, bermusuhan dan bertarung berhadapan hingga saling ber bunuh-bunuhan. Tak ada artinya trophy dan Piala juara di genggaman, tetapi di lubuk hati terdalam, ramai penonton tahu, bahwa yang TERBAIK tak selalu keluar sebagai JUARA.

Mari kita wujudkan pertandingan akbar di tanggal 17 April ini, dimana setelah kedua kubu sibuk berencana memasang strategi dan tuntas berjuang, mereka duduk tenang menunggu hasil, dan tidak memprovokasi tidak hanya lawannya, tetapi yang terpenting adalah menghindarkan provokasi pada kedua bagian pendukung kesebelasan. Kemenangan sejati dari setiap pertandingan, adalah yang berhasil memenangkan hati dan menenangkan emosi para pendukung, bagaimana pun sumringah atau kecewa yang dirasakan. Kemenangan hakiki dari rivalitas penuh polaritas adalah saat semuanya usai, kedua belah pihak bisa berangkulan, berjabat tangan, dan memberi selamat satu sama lainnya, dan menyadari, akan selalu ada hari esok untuk bersiap diri menghadapi pertandingan berikutnya, pertandingan yang kualitasnya mesti lebih baik dan lebih sukses dari yang lalu lalu.

Marilah kita semua, para handai taulan, para simpatisan dan pemilik hak suara, untuk tetap tenang, tetap bersabar dan percaya, seraya terus berusaha, bahwa segalanya sudah ditakdirkan, dan salah satu takdir bagi bangsa ini adalah: Kejayaan Melalui PERSATUAN, PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN.

Karena,
Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
Bersaudara Kita Utuh, Bermusuhan Kita Rapuh
Persahabatan Menjadikan kita Penuh,
Pertikaian Hanya Menjadikan kita Punah.

This is not about the game itself.
This is not about the player, even.
It’s about us, the spirit we share and dream together, the spirit of unity in diversity, the spirit for advancement and further evolution in our game named Indonesian Democracy!

Penulis: Ahmad Arafat Aminullah