Kematangan diri Nabi Ismail Alaihis Salam (AS) tidak hanya dari sisi fisik yang sudah baligh (dewasa), tetapi juga dari ciri-ciri berikut:

1. Kematangan berpikir sehingga ia bisa diajak berdialog dan dimintai pendapat, bahkan pendapatnya luar biasa. Hal ini menunjukkan adanya ketegasan dan kesamaan persepsi dengan ayahnya, Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ismail AS berpendapat tentang mimpi ayahnya, Nabi Ibrahim AS, sebagai berikut: Wahai ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepadamu. Ia tidak mengatakan: Wahai ayah, kalau memang engkau pahami perintah Allah demikian, kerjakan saja, resiko tanggung sendiri.

2. Kematangan jiwa untuk menerima dan melaksanakan perintah yang berat, bahkan ia mengatakan: Insya Allah, engkau dapati aku termasuk orang yang sabar. Ia tidak mengklaim diri sebagai anak yang paling sabar, apalagi satu-satunya orang yang sabar. Hal Ini menunjukkan akhlaknya yang sangat mulia.

3. Kematangan dalam memahami sejarah sehingga memiliki kesadaran sejarah. Nabi Ismail AS memahami dan menyadari bahwa generasi terdahulu banyak yang sabar, bahkan jauh lebih sabar dari dirinya. Ini membuatnya menjadi tawadhu (rendah hati).

 

Penulis:

Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ustadz. Drs. H. Ahmad Yani,

Penulis buku Khutbah Jumat Sistematis