DMI.OR.ID, BOGOR – Makna generik (umum) dan esensial (mendasar) dari agama Islam adalah salam, artinya damai, perdamaian bagi sesama ummat manusia, makhluk hidup, dan alam semesta.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., menyatakan hal itu dalam Khutbah Jumat di Masjid Az-Zikra, Sentul Selatan, Bogor, pada Jumat (19/2) siang.

Khutbah Jumat ini merupakan bagian dari acara Gerakan Nasional Eco-Masjid yang diselenggarakan bersama oleh DMI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Majelis Az-Zikra, serta diluncurkan secara resmi di Masjid Az-Zikra, Sentul Selatan, Bogor.

“Makna utama dari Assalammu’alaikum.Warohmatullahi Wabarokatuh adalah menebar perdamaian dan rahmat kepada seluruh ummat manusia dan alam semesta,” tutur Kiai Masdar pada Jumat (19/2) siang.

Betapa hebatnya agama Islam, salam harus selalu diucapkan kepada sesama, bahkan hukumnya wajib dalam ibadah yang paling personal sekalipun, seperti sholat. “Sholat hanya sah jika diakhiri dengan mengucapkan salam. Maknanya, sholat hanya sah jika disertai janji menjaga perdamaian dengan sesama,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi negara super power dan imam (pemimpin) dari peradaban Islam Dunia yang saat ini terbagi ke dalam sekitar 40 negara. Potensi besar itu terlihat dari wilayah geografis Indonesia yang sangat luas dan terbagi dalam tiga zona waktu, serta Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, lanjutnya, Indonesia memiliki basis keislaman yang relatif bisa menerima perbedaan. Posisi Indonesia juga sangat strategis di peta dunia dengan penduduk yang sangat beranekaragam.

“Keyakinan agama Islam yang relatif bisa menerima perbedaan sangat penting agar ummat tidak terjerumus ke arah ekstrimisme serta tidak memutlakkan diri sendiri dengan menihilkan kelompok-kelompok yang berbeda,” papar Kiai Masdar yang juga anggota Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selama satu milenium terakhir ini, paparnya, peradaban Islam berada dalam kondisi porak-poranda dan akhir-akhir ini semakin terpuruk dengan konflik berdarah-darah yang terjadi di dunia Islam.

“Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama. Konflik berdarah-darah di dunia Islam ini lah yang menyebabkan kita kurang diperhitungkan,” ungkapnya.

Kiai Masdar pun mengingatkan jamaah dengan sabda Nabi Muhammad SAW lebih dari 1.400 tahun yang lalu, bahwa di akhir zaman nanti, ummat Yahudi akan terbagi menjadi 71 firqah (golongan), ummat Nashrani terbagi menjadi 72 golongan, dan ummat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan.

“Mencermati hadits ini, Islam  menjadi pemegang skor tertinggi karena spektrum ajrannya sangat komprehensif, meliputi hablumminAllah, hablumminannas, dan hablumminal alam,” jelasnya.

Ajaran agama Islam, paparnya, sangat lengkap dan mencakup semua. Konsekuensinya, pemahaman keagamaan ummat Islam harus lebih dewasa dari agama-agama lainya yang cenderung hanya membahas hubungan manusia dengan Tuhan saja.

Usai khutbah Jumat, Kiai Masdar memberikan sambutan bersama-sama dengan Ketua Dewan Pengarah Indonesia Bergerak Menyelematkan Bumi (Siaga Bumi), Prof. Dr. H. Muhammad Siradjuddin Syamsuddin, M.A., yang juga Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Pusat.

Beberapa tokoh ummat Islam lainnya juga hadir dan turut memberikan sambutan seperti Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Abdullah Jaidi, yang juga Ketua Pimpinan Pusat (PP) Al-Irsyad Al-Islamiyah, serta Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) dan Perhutanan Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Ir. H. Hilman Nugroho.

Dalam peluncuran Gerakan Nasional Eco-Masjid ini, turut hadir dan memberikan sambutan adalah Pembina Yayasan Majelis Az-Zikra, KH. Muhammad Arifin Ilham, serta Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (PLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) MUI Pusat, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., yang juga Ketua Dewan Penggerak Indonesia Bergerak Menyelematkan Bumi (Siaga Bumi).

Usai acara peluncuran ini, tampak Prof. Din Syamsuddin memberikan bibit pohon secara simbolik kepada perwakilan Masjid Burj Al-Bakrie, H. Rana, dan perwakilan masjid Az-Zikra, dengan disaksikan para jama’ah sholat Jumat dan tokoh-tokoh lainnya.

Kemudian, acara berlanjut dengan prosesi penanaman pohon kurma secara bergantian, masing-masing oleh Prof. Din Syamsuddin, Kiai Masdar, Kiai Arifin, Kiai Abdullah, dan Dr. Hayu, serta Dr. Hilman, dan dr. H. Imran Agus Nurali, Sp. KO. Nama terkahir adalah Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dengan diiringi do’a dari Kiai Arifin Ilham, para tokoh nasional itu mulai menanam satu per satu bibit pohon kurma di halaman samping depan Masjid Az-Zikra, tepatnya di lubang-lubang biopori yang sudah disiapkan oleh panitia. Kemudian, mereka menyiramkan air agar tanaman tumbuh subur.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani